Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 151 Tamu Agung


__ADS_3

Kakek duduk di depan pintu yang ada di teras rumah menanti kedatangan Ivona. Beliau mendapatkan informasi kedatangan cucunya dari Tommy, yang semalam sepulang dari airport langsung menyampaikan pada kakeknya. Tommy menyampaikan untuk membuat hati laki-laki tua itu senang, karena berhari-hari dia menanyakan kedatangan Ivona.


"Kakek.., kenapa tidak di ruang tengah saja menunggu Ivona? Disini anginnya lumayan banter." Rio berjalan mendatangi kakek, dan memegang kursi roda yang diduduki kakeknya.


"Diam.., aku akan menunggu kedatangan cucuku. Jika kamu tidak mau menemaniku, kamu masuk  saja, Biarkan kakek menunggu cucuku sendiri disini," kakek berbicara dengan sedikit kesal pada Rio.


"Iya kakek sayang.., Rio akan menemani kakek disini, sampai Ivona sampai." Rio kemudian duduk di samping kakek. Laki-laki muda itu memainkan ponselnya untuk mengisi kebosanan.


Tidak lama mobil yang dibawa Thomas memasuki halaman rumah, dan di parkir persis  di depan teras.


"Bantu aku berdiri Rio.., aku tidak mau terlihat malas oleh cucu kesayanganku!" kakek mencoba berdiri, dan Rio segera memegangi kedua tangan kakeknya dan membantu laki-laki tua itu berdiri.


Thomas membukakan pintu mobil untuk Ivona.., dan gadis itu langsung menghambur ke pelukan kakeknya. Kakek memeluk erat Ivona.


"Kenapa kakek duduk di teras jam segini? Anginnya kenceng, ayo masuk ke rumah bersama Ivona." Ivona memberi teguran pada kakek, kemudian memegangi tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Rio hanya geleng-geleng kepala melihat kakeknya yang keras kepala, tapi langsung menurut dengan Ivona.


"Kakek duduk disini dulu ya..., Ivona mau ke kamar dulu. Mau mandi dan ganti baju.." Ivona mendudukkan kakek di kursi yang ada di ruang tengah.


"Kamu mau kemana cucuku..??? Temani kakek dulu, ada yang akan aku tanyakan padamu." belum jadi Ivona melangkahkan kakinya, kakek mengajak Ivona bicara.


Ivona mengikuti keinginan kakeknya, dia akhirnya duduk di kursi menemani kakek. Dari arah ruang tamu terlihat Nyonya Iswara datang membawa beberapa paper bag. Kebiasaan Nyonya Iswara adalah kumpul-kumpul bareng teman sosialitanya kemudian pulang membawa banyak barang belanjaan ke rumah.


Melihat Ivona duduk bersama kakek, Nyonya Iswara terlihat agak canggung. Baru saja di kelompok sosialitanya, perempuan paruh baya itu menceritakan keberhasilan Ivona meraih posisi tertinggi dalam Olimpiade Fisika. Muncul kekaguman dari para anggota sosialita lainnya, dan mereka memberikan ucapan selamat atas keberhasilannya mendidik Ivona dan juga Vaya.

__ADS_1


"Dari mana kamu Sa..?" terdengar suara tegas kakek menanyakan dari mana menantunya.


Nyonya Iswara kaget, tidak biasanya kakek menanyakan dari mana kepergiannya.


"Da.. dari bertemu teman-teman kek. Kami berembug tentang rencana donasi untuk korban banjir di pulau lainnya." dengan gugup Nyonya Iswara menjawab pertanyaan kakek.


"Memang sekarang jaman sudah berubah. Pergi berembug donasi.., pulang-pulang membawa barang belanjaan sebanyak itu. Dari pada kamu habiskan uang untuk keperluan yang tidak bermanfaat, kenapa uangnya tidak kamu gunakan untuk donasi sekalian?" kata kakek memberi teguran pada Nyonya Iswara.


"Ini tidak seberapa kok kek.., hanya belanja untuk keperluan anak-anak, bukan untuk Sasa sendiri." Nyonya Iswara membuat sebuah pembelaan.


"Oh begitu.., kalau begitu barang apa yang kamu belikan untuk cucuku Ivona?" tanya kakek tegas.


"Mmm.. ini Na.., tas limited edition. Sangat bagus dan sangat cocok untukmu.., untuk anak-anak seusiamu." Nyonya Iswara mengambil tas selempang yang sedianya akan dia berikan untuk Vaya, dia ingin menghibur gadis yang sudah sejak bayi bersamanya itu. Tetapi untuk mengambil hati kakek, dia harus merelakan tas itu untuk diberikan pada Ivona.


"Nana.., kamu mandilah dulu sana dan istirahat. Nanti kita ketemu lagi saat makan malam." kakek mengurungkan niatnya untuk berbicara pada cucunya.


*************


Alexander dan Rico membawa beberapa bawaan di tangannya saat berkunjung ke rumah keluarga Iswara. Dia ingin mengajak semua anggota keluarga Iswara untuk makan bersama, sekaligus akan membawa kembali Ivona ke rumahnya. Dari siang, Rico sudah dipusingkan oleh ulah Alexander, untuk memesan menu kesukaan Ivona untuk dibawa ke rumahnya malam ini.


"Oh ternyata ada tamu agung juga yang datang malam ini. Ayo nak Alex.., silakan masuk ke  dalam. Ajak temannya masuk." kakek dengan ramah menyambut kedatangan Alexander. Laki-laki tua itu langsung meminta Alexander untuk duduk.


Rico langsung meletakkan beberapa paper bag yang berisi makanan packing ke atas meja.

__ADS_1


"Apa itu nak Alex yang kamu bawa?? Jika kesini jangan suka membawa barang yang aneh-aneh," kakek menanyakan barang yang dibawakan Alexander.


"Ini bukan apa-apa kakek, semua ini adalah makanan. Alex hanya ingin mengajak keluarga ini makan bersama, dari pada keluar ke restaurant akan lebih baik kita makan di rumah ini saja. Atau lain waktu.., jika kakek berkenan, bisa sekali-sekali makan di rumah saya." ucap Alexander dengan sopan.


"Wah kakek akan sangat bahagia sekali, jika memiliki kesempatan untuk berkunjung ke rumah nak Alexander. Rio.., panggil pelayan untuk menyusun makanan ini di atas meja makan. Kita akan segera makan bersama." kakek meminta Rio untuk memanggil pelayan.


"Baik kek." sahut Rio cepat. Laki-laki muda itu segera menekan tombol untuk meminta pelayan datang. Tidak lama, tiga orang pelayan rumah datang ke ruang keluarga.


"Ada apa Tuan., apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan sambil melihat pada Rio.


"Siapkan makanan ini di meja makan! Jika sudah siap.., beri tahu kami!" Rio langsung memberi perintah pada para pelayan.


Dengan sigap ketiga pelayan segera membawa makanan yang dibawa Rico menuju ruang makan.


************


Setelah mandi, Ivona membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Meskipun kamar ini jarang dia tempati, ternyata pelayan rumah atas perintah Thomas selalu menjaga kebersihan dan kerapiannya. Tetapi dia akan mengalami mimpi buruk dan akhirnya insomnia, jika dia berada di kamar itu. Akhir-akhir ini penyakit itu tidak pernah dia derita, karena kamar Alexander ternyata bisa menyembuhkannya.


"Suara siapa itu diluar, sepertinya suara kak Alex dan kakek? Apakah laki-laki muda itu akan membawaku kembali ke villanya?" gumam Ivona.


"Tapi biarkan saja, aku akan istirahat dulu sebentar. Syukur jika itu kak Alex, dia bisa menemani kakek untuk bincang-bincang sebentar." lanjut Ivona.


Merasa tubuhnya penat, Ivona memeluk guling dan memiringkan tubuhnya. Ivona belum memiliki istirahat yang cukup berkualitas sejak kepulangannya tadi malam dari Hong Kong. Tanpa terasa, setelah beberapa  saat memejamkan mata gadis itu tiba-tiba terlelap.

__ADS_1


******************


__ADS_2