Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 162 Surat dari Pusat Komputer


__ADS_3

Selama tiga hari, Ivona menghabiskan waktu untuk megikuti Ujian Kelulusan. Selama itu pula, gadis muda itu merasa dikungkung oleh Alexander. Setiap gerak-geriknya diawasi dengan ketat dan langsung dilakukan oleh laki-laki muda itu sendiri. Tetapi untungnya, Alexander tidak hanya bicara. Bahkan laki-laki itu hanya berangkat ke kantor saat Ivona sedang berada di sekolah, selebihnya dia akan selalu mendampingi dimana Ivona berada.


Begitu tanda bel hari terakhir ujian berbunyi.., Ivona langsung bergegas keluar dari dalam kelas. Tetapi baru saja gadis muda itu sampai di depan pintu, Guru BK yang pernah memintanya untuk mengikuti Olimpiade ICT beberapa waktu lalu berusaha mencegatnya.


"Ivona.., sudah selesai Ujian Kelulusannya?" tanya Guru BK itu dengan ramah. Beberapa murid yang juga sudah keluar dari ruangan kelas, hanya melihat interaksi akrab Guru BK dengan Ivona. Tetapi karena saat ini, semua murid mengakui kepintaran dan kecerdasan Ivona, mereka tidak banyak tanya dan malah membiarkan.


"Sudah pak Guru.., untungnya hari ini sudah hari terakhir Ujian dilaksanakan. Kami tinggal menunggu hasilnya, apakah kami dinyatakan layak untuk Lulus atau belum." jawab Ivona.


"Apakah kamu bisa mengikuti Bapak sebentar? Ada hal yang ingin Bapak beri tahukan padamu." Guru BK mengajak Ivona untuk berbicara dengannya.


Ivona melihat jarum jam, untuk memastikan apakah Alexander sudah menunggunya di depan atau masih di jalan. Karena Ivona keluar 20 menit lebih awal, dia memastikan jika Alexander masih berada dalam perjalanan untuk menjemputnya.


"Boleh pak.., tapi mohon maaf ya. Ivona hanya punya waktu maksimal 20 menit." ucap Ivona memberi batasan waktu untuk Guru BK.


"Baiklah Iv.., terserah apa katamu. Ayo kita segera berjalan ke ruangan Bapak." Guru BK langsung memimpin jalan, dan Ivona mengikuti di belakangnya.


"Ayo masuk.., dan langsung ambil tempat duduk di kursi." begitu mereka sampai di depan ruangan untuk Guru BK, Ivona langsung masuk dan duduk di kursi.


Guru BK membuka lemari di belakang meja kerjanya, kemudian mengeluarkan amplop panjang dengan logo kecil Pusat Komputer Nasional. Sambil berkerut dahinya, Ivona hanya melihat amplop di tangan Guru BK tanpa bertanya.

__ADS_1


"Ivona.., baru hari ini Bapak memberanikan diri untuk mengajakmu bicara." Guru BK membuka pembicaraan.


"Sebenarnya surat ini dikirmkan sudah lumayan lama. Saat kamu ijin tidak datang sekolah selama dua minggu dulu, dan surat ini dibawa oleh Roy Kumala ke meja saya." Guru BK itu melanjutkan, dia kemudian meyerahkan amplop panjang itu pada Ivona.


Ivona hanya melirik amplop itu, dan tidak memiliki keinginan untuk membukanya di situ. Gadis muda itu hanya diam dan tidak melakukan tindakan apapun.


"Kamu tidak ingin mengetahui isinya Ivona.., jika kamu sudah membacanya, kamu bisa berkonsultasi pada saya tentang isi yang tertulis." kembali Guru BK meminta Ivona untuk membuka amplop itu.


"Tidak tertarik pak untuk membaca isinya saat ini. Kapan-kapan pasti akan Ivona buka." Jawab Ivona, tangannya dengan cepat memasukkan amplop ke dalam tas sekolahnya. Guru BK hanya melongo melihat sikap dan perilaku gadis itu.


"Ya sudah kalau begitu. By the way.., akan melanjutkan kemana setelah kamu dinyatakan lulus dari sini? ITB atau UGM?" Guru BK mengalihkan pertanyaan.


"Yah.., cukuplah untuk sementara. Pulanglah.." tidak bisa menahan gadis itu lebih lama, akhirnya Guru BK mengijinkan Ivona pulang.


************


Sudah lima menit Alexander menunggu di luar pintu gerbang, beberapa murid sekolah sudah pada keluar dari gerbang tersebut. Tetapi Alexander belum melihat Ivona berjalan keluar. Dari kejauhan, Alexander melihat Beni yang biasa berjalan menemani Ivona sedang berjalan sendiri dengan lesu. Tiba-tiba muncul ide pada Alexander untuk menanyakan tentang Ivona pada pria bertubuh gemuk itu. Alexander segera masuk ke dalam pintu gerbang untuk menghadang Beni. Laki-laki bertubuh gemuk itu sangat terkejut ketika melihat Alexander yang berdiri menghalangi jalannya.


"Ka..., kakak.. ada apa kak? Saat ini saya tidak bersama dengan Ivona, jangan halangi saya!" dengan tatapan gugup, Beni mengajak bicara pada Alexander.

__ADS_1


"Jangan takut.., aku tahu kamu tidak bersamanya. Dimana Ivona sekarang?" tanya Alexander dengan nada pelan.


Melihat laki-laki di depannya itu mulai melunak, perlahan Beni bisa mengendalikan dirinya. Bagaimanapun dia adalah teman Ivona.., tidak mungkin kakak Ivona akan berlaku kasar padanya.


"Tadi Ivona keluar dari ruang ujian lebih dulu, aku belakangan. Tapi.., saat Ivona mau pergi, pak Guru BK mengajaknya bicara, dan sepertinya Ivona saat ini masih berada di ruangan Guru BK tersebut." Beni menceritakan ada dimana Ivona saat ini.


"Dimana letak ruangannya? Antarkan aku kesana, aku akan menjemput Ivona langsung kesana." Alexander meminta Beni untuk mengantarkannya ke ruangan Guru BK. Akhirnya Beni berjalan di samping Alexander, tetapi baru saja mereka berjalan beberapa langkah..


"Kak Alex.., Beni.., pada mau kemana?" terdengar suara Ivona memanggil mereka berdua. Senyuman muncul di bibir Alexander saat melihat gadis yang dijemputnya, sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Barusan aku mau mengantarkan kakakmu untuk menyusulmu ke ruang Guru BK Iv.." Beni langsung gembira, dia menjawab pertanyaan Ivona. Tapi baru saja dia akan melangkah ke tempat Ivona.., tangan Alexander tiba-tiba menarik bahunya ke belakang.


"Tugasmu sudah selesai.., tinggalkan kami!" suara tegas Alexander melarang Beni untuk mendatangi Ivona. Sontak Beni memundurkan kakinya ke belakang, dia merasa terintimidasi mendengar suara kakaknya Ivona.


"Jangan begitulah kak.., Beni ini temanku. Jangan takuti dia..!" Ivona langsung berjalan mendekati Beni, saat melihat laki-laki gemuk itu ketakutan pada Alexander. Tetapi belum sampai tangan Ivona menyentuh Beni, dengan cepat Alexander sudah merangkulnya dan menjaga jarak dengan Beni. Ivona menengadahkan wajahnya melihat ke arah Alexander.


"Aku pergi dulu Ivona.., kapan-kapan kita akan ketemu lagi." tidak mau sebagai penyebab keributan, Beni segera bergegas meninggalkan Ivona dan Alexander.


Kedua sudut bibir atas Alexander sedikit naik ke atas, kemudian dengan merangkul bahu gadis muda itu, Alexander membawa Ivona menuju mobil. Seperti biasa setelah membukakan pintu mobil, dan Ivona masuk ke dalam, Alexander akan memasangkan seat belt ke pinggang Ivona, kemudian menutup kembali pintu mobil dengan pelan. Dari depan mobil yang diparkir di depan mobil Alexander, seorang laki-laki muda menahan geram melihat perlakuan yang diberikan Alexander untuk Ivona. Roy Kumala memukul setir kemudi yang ada di depannya, dia sangat kecewa karena sikapnya dulu yang selalu mengabaikan keberadaan Ivona. Bahkan laki-laki itu selalu melakukan tindakan bully terhadapnya, dan semua dia lakukan hanya untuk menyenangkan Vaya.

__ADS_1


****************


__ADS_2