
Ivona menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya yang ada di lantai tiga. Dia akan meminta maaf pada Bibi Sonya karena tidak makan siang di rumah, padahal perempuan tua itu sudah repot-repot membuat makanan untuknya. Dahi Ivona berkerut, saat melihat ada sepasang sepatu laki-laki berada di depan pintu masuk ruangan yang dia tempati. Untuk mengetahuinya, gadis itu langsung bergegas masuk ke dalam ruangan.
"Marcus.., kapan datang?" seru Ivona saat melihat Marcus sedang bermain ponsel di atas sofa. Laki-laki muda itu melihatnya dengan wajah penuh tanda tanya, kemudian meletakkan ponselnya diatas meja. Paper bag yang dijinjing di tangan Ivona, memberi tahu padanya, barang apa yang dibeli oleh gadis itu.
"Kamu membuatku khawatir Ivona.., dari jam sembilan aku sudah sampai di rusun ini. Lihatlah sekarang jam berapa?" Ivona melihat ke dinding, dan jarum jam sudah menunjukkan di angka 12.30 menit. Dengan pandangan menyesal, Ivona melangkah dan duduk di samping Marcus.
"Sorry Marc.., tadi merasa gabut saja di rumah sendirian. Mau main ponsel, tidak tahu ada dimana ponselku. iPad juga tidak ada.., ya sudahlah.. beli deh." dengan senyum memelas, Ivona mengatakan apa yang barusan dia lakukan diluar. Marcus menghela nafas, kemudian melihat ke wajah gadis itu.
"Bukannya aku melarang Ivona.. Tapi tahu sendirilah kamu.., bagaimana kondisi tubuhmu. Kamu baru saja kemarin lusa terbangun dari vegetatif. Masak sudah kelayapan tidak kasih kabar ke aku, atau paling tidak ke sekretarismu Ester.." akhirnya Marcus berusaha memahami gadis itu. Tangan kanannya mengambil botol air mineral dan membuka segelnya, kemudian memberikan pada Ivona.
"Minumlah dulu!" ucap Marcus dengan suara yang lebih rendah. Ivona menuruti Marcus, tangannya mengambil botol air mineral kemudian meminumnya beberapa teguk.
"Ponsel sama iPadmu disimpan Ester.., nanti aku akan bilang padanya untuk mengantarkannya kesini. Bagaimana keadaanmu, merasa lebih baik?" tanya Marcus dengan suara lembut.
"Aku sudah merasa fresh Marc...., bahkan tubuhku tidak memberi signal apapun padaku, yang memberi indikasi jika aku tidak sehat. Kamu terlalu mengkhawatirkan aku, please deh Marc. Beri aku kesempatan untuk menjalani hari-hariku seperti orang-orang yang lainnya." dengan tatapan puppy eyes.., Ivona merayu Marcus. Laki-laki itu melihat ke wajah Ivona.., setelah beberapa saat Marcus menganggukkan kepala.
__ADS_1
Ivona teringat jika tadi Bibi Sonya sudah masak untuknya, gadis itu berpikir pasti Marcus belum makan. Ivona berdiri, dia bermaksud mengajak Marcus untuk makan siang bersamanya. Meskipun dia sendiri merasa kenyang, tapi tidak mungkin dia akan mengecewakan Bibi Sonya. Marcus hanya melihat apa yang dilakukan gadis itu, laki-laki itu tidak melarang Ivona.
Setelah beberapa saat.., di meja makan minimalis sudah tersaji dua piring dan dua gelas berisi air mineral. Masakan yang sudah disiapkan Bibi Sonya, semua disajikan secara rapi di atas meja.
"Marcus.., belum makan siang kan?? Yuk.., aku temani makan." Ivona memanggil Marcus. Sebenarnya kedatangan Marcus kesini, untuk mengajaknya makan siang di restaurant kesukaan Ivona. Bahkan Ester yang akan ikut bersamanya saja dia tolak, tetapi melihat Ivona sudah repot-repot menyiapkan makanan di atas meja, akhirnya Marcus berdiri dan menghampiri meja makan.
"Siapa yang masak Iv.., pasti bukan kamu juga kan?" tatapan Marcus terbelalak, ada cumi goreng tepung, ikan bakar, sayur asem dan sambal terasi lengkap tersedia di meja. Bahkan tempe garit goreng juga ikut melengkapi menu tersebut.
"Tidak perlu bertanya juga kali.., melihat menunya sudah bisa tahu kan siapa yang masak." sambil cengar-cengir Ivona menjawab pertanyaan Marcus. Akhirnya Marcus dan Ivona menikmati makan menu rumahan ala Bibi Sonya.
**************
Aldo tidak bisa memusatkan konsentrasinya di depan laptop, sejak tadi dia teringat dengan gadis muda yang dia temui di depan rusun Cempaka. Firasatnya mengatakan jika gadis tadi merupakan re inkarnasi dari Ivona.. Dengan melihat gerak-gerik, cara berjalannya dan juga memiliki nama yang sama dengan Ivona. Tangan Aldo mengambil air phone yang ada di atas mejanya.
"Kesini Donny..!" dengan cepat, Aldo meminta asistennya Donny untuk masuk ke ruang kerjanya. Laki-laki itu meletakkan kembali telpon ke tempat semula.
__ADS_1
Tidak menunggu lama, pintu ruang kerja Aldo diketuk dari luar. Setelah menyilakan masuk, terlihat Donny yang masuk ke ruang Aldo. Laki-laki itu langsung duduk di kursi depan meja Aldo.
"Ada apa Tuan Muda?" Donny langsung melihat wajah Aldo yang tidak seperti biasanya.
"Ada dua tugas yang harus segera kamu selesaikan. Yang pertama adalah tanah tempat kita camping tadi malam, pastikan agar secepatnya tanah itu bisa balik nama atas namaku. Berapapun harga yang diminta pemiliknya, bayar. Yang kedua.., aku tugaskan kamu untuk mencari informasi tentang gadis muda bernama Ivona.., yang saat ini tinggal di rusun Cempaka." Aldo langsung mendikte dua tugas yang harus segera diselesaikan Donny. Mendengar tugas yang kedua, kening Donny berkerenyit, dengan pandangan tidak percaya, laki-laki itu menatap wajah Aldo.
"Kenapa melihatku, sudah ingin keluar dari perusahaan ini?" melihat tanda tanya di wajah Donny, Aldo langsung bertanya.
"Bukan begitu Tuan Muda.., untuk tugas yang pertama sudah okay. Saya sudah mengirimkan orang siang ini untuk menemui bapak tua itu. Tetapi untuk tugas yang kedua.., saya salah dengar atau memang selera Tuan Muda Aldo sudah berubah?" sambil cengar-cengir, Donny mempertegas tugas yang diberikan Aldo padanya.
Aldo menatap Donny.., kemudian..
"Jika kamu masih banyak bertanya, dan tidak segera melakukan perintahku. Aku akan segera menghubungi bagian keuangan untuk memotong tunjanganmu bulan ini 50%." Aldo tidak menjawab pertanyaan Donny, laki-laki ini malah memberi ancaman pada laki-laki itu. Mendengar ucapan Aldo.., Donny langsung..
"Jangan begitulah Tuan Muda.. Donny selalu siap untuk melaksanakan perintah dari Tuan Muda Aldo. Sekarang juga, akan Donny berangkat untuk menjalankan tugas negara Tuan Muda." Donny langsung berdiri meninggalkan Aldo di ruang kerja sendiri. Laki-laki itu menyadari jika Tuan Muda nya akan berlaku seenaknya jika tidak sesuai dengan moodnya. Hanya yang menjadi keheranannya, sudah terlalu banyak perempuan yang dikenalkan oleh Nyonya Besar, tetapi tidak pernah mau dilihat oleh Tuan Muda. Sekarang malah menugaskannya untuk menyelidiki gadis yang tidak dikenal, yang tinggal di rusun kumuh.
__ADS_1
Aldo memandang punggung Donny yang berjalan meninggalkannya, dan laki-laki muda itu kemudian berdiri. Sambil menyambar kunci mobil yang ada di atas mejanya, Aldo bergegas keluar dari dalam ruang kerja. Dia tidak tahu, hari ini Aldo merasa gundah, dan bingung dengan apa yang dilakukannya. Gerak-gerik Ivona dan wajah lembutnya tampak seperti menari-nari di matanya.
**********