
Mendengar pertanyaan dari Direktur Hendra Jonathan, Nyonya Iswara terdiam. Jantungnya berdetak dengan kencang, dia malu untuk berurusan dengan Direktur Hendra Jonathan. Tetapi bagaimanapun dia berada disini karena Ivona. Akhirnya dengan sedikit panik...
"Iya betul, saya mengenalnya pak Direktur, makanya hari ini saya segera datang kesini. Sebenarnya apa yang terjadi, bolehkan Pak Direktur menceritakannya pada saya?" Nyonya Iswara memberanikan diri balik bertanya.
"Apa hubungan anda dengannya, sampai merepotkan diri mengurusi gadis ini?" dengan nada tinggi Direktur Hendra Jonathan seperti menginterogasi Nyonya Iswara.
Ivona melihat ke Nyonya Iswara yang terlihat tampak gugup. Dia menunggu jawaban apa yang akan disampaikan oleh mamanya.
"Ivona ini gadis yang saya ambil dan kemudian saya bawa ke rumah beberapa waktu yang lalu. Kasihan jika dia tetap berada di tempatnya yang lama, maka dia tidak akan belajar dan berkembang." Nyonya Iswara akhirnya menjawab, tetapi tidak mau mengakui jika Ivona adalah putri kandungnya.
Mendengar ucapan dari Nyonya Iswara yang disampaikan ke Direktur Hendra Jonathan, Ivona tersenyum dingin sambil menatap Nyonya Iswara. Dia tidak terkejut dengan jawaban itu, karena sebelumnya dia sudah menduga jika jawaban itu yang akan keluar dari mulut Nyonya Iswara. Dari awal dia sudah mengetahui dan merasa, jika Nyonya Iswara mama kandungnya lebih menyayangi Vaya daripada dia.
"Gadis ini telah berani menyakiti putraku tadi pagi. Dia memukul dan mendorong putraku ke arah pecahan kaca, dan saat ini kondisi putraku sedang berada di rumah sakit. Apakah aku sebagai ayahnya akan diam saja?" dengan nada tinggi Direktur Jonathan menceritakan kesalahan versi dia tentang apa yang dilakukan Ivona.
Nyonya Iswara terkejut mendengar perkataan dari Direktur Hendra Jonathan, dia sama sekali tidak menyangka jika Ivona akan tega melakukan perbuatan seperti itu. Nyonya Iswara langsung bertambah murka, dia ingin memberi pelajaran pada putri kandungnya sendiri.
"Ivona jawab! Apakah benar apa yang disampaikan pak Direktur Hendra Jonathan?" dengan nada tinggi Nyonya Iswara bertanya sendiri pada putrinya.
Ivona menatap Nyonya Iswara dengan pandangan dingin, kemudian sambil tersenyum smirk dengan santai Ivona menjawab...
"Apakah perlu ditanyakan lagi? Jika semua sudah berpikir untuk memberi hukuman pada pelaku di akhir kejadian, tanpa bertanya ada penyebab apa sebelumnya, ya sudah, Ivona ikut saja."
__ADS_1
Nyonya Iswara sangat terkejut dengan perkataan Ivona, dengan tatapan sinis gadis itu berani memandang langsung ke matanya. Muka Nyonya Iswara sangat merah padam, padahal jika gadis itu terlihat lemah sedikit saja di matanya, maka dia akan turun tangan untuk menyelesaikannya.
"Lihat Nyonya Iswara..., anda tahu sendiri bagaimana sikap gadis itu? Sungguh telah membuat malu SMA Dharma Nusa. Apabila dari awal, pihak sekolah tahu kalau sifat dan karakternya buruk seperti ini, aku yakin dia tidak akan diterima untuk pindah ke sekolah ini." Direktur Hendra Jonathan menunjuk pada Ivona.
Tetapi sedikitpun Ivona tetap tidak memiliki rasa takut, karena dia merasa yakin jika akan datang pembalasan sendiri untuk Direktur arogan seperti itu. Hanya menunggu waktu, apa yang akan terjadi dengan orang seperti itu. Sebagai seorang pejabat seharusnya melihat proses kejadian, bukan menghakimi tanpa tahu apa yang menjadi sebab dan akibatnya.
"Ivona.., sadarkah kamu dengan apa yang baru saja kamu katakan? Jika kamu memang melakukannya, kamu harus mau diproses secara hukum yang ada. Kamu harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu." Nyonya Iswara menyalahkan Ivona, tidak mau membelanya sama sekali.
"Maaf Nyonya Iswara..., kita sudah terlalu lama membiarkan gadis ini, dan sedikitpun dia tidak menghargai kita sebagai orang tua sama sekali. Sekali lagi..., jawab pertanyaanku Ivona! Kamu keluar dari SMA Dharma Nusa saat ini juga, atau kamu melakukan apa yang telah kamu lakukan pada Yoshua?" merasa sudah tidakĀ sabar melihat Nyonya Iswara memarahi Ivona, Direktur Hendra Jonathan mengulang kembali pertanyaan yang sama pada Ivona.
************
Di halaman parkir, setelah memarkirkan mobilnya di tempat yang benar, Thomas berlari menuju ruang kepala sekolah. Dari luar ruangan Kepala Sekolah, terdengar nada tinggi Direktur Hendra Jonathan sedang meminta Ivona untuk memilih. Merasa jika adiknya dalam keadaan tertekan, tanpa mengucapkan salam Thomas langsung berlari masuk ke dalam.
"Tunggu.., ada apa ini??? Bisa-bisanya menawarkan pilihan pada adik saya, tanpa ada solusi yang baik." seru Thomas tanpa melihat siapa yang sudah berada di ruangan tersebut.
"Thomas..., apa yang kamu lakukan?" Nyonya Iswara kaget melihat putranya Thomas sudah berada di ruangan tersebut.
"Mama..., mama sudah ada disini? Kenapa membiarkan orang lain membentak Ivona seperti ini tanpa sedikitpun membelanya?" Thomas terkejut karena ternyata mamanya sudah sampai disini lebih dulu, tetapi dia tidak habis pikir kenapa malah diam tidak membela Ivona sama sekali.
"Diamlah kamu!"
__ADS_1
Melihat kedatangan Thomas, Ivona hanya meliriknya tidak berbicara apapun. Melihat kedatangan putra laki-laki dari keluarga Iswara, Direktur Hendra Jonathan kemudian menjelaskan kesalahan yang telah dilakukan Ivona.
"Ivona tidak mungkin bisa melakukan hal tersebut, dia anak yang baik." Thomas membela adiknya.
"Benar kak yang disampaikan Direktur Hendra, Ivona sudah memukul Yoshua." tiba-tiba Ivona berbicara pada kakaknya. Thomas terkejut dengan pengakuan dari adiknya itu. Tetapi dia tetap harus membela adiknya, jangan sampai mendapatkan hukuman keras.
"Bagaimana Tuan Thomas, anda sudah mendengar sendiri kan bagaimana pengakuan Ivona? Sekarang segera kita tuntaskan masalah ini. Cepat pilih salah satu dari pilihan yang aku tawarkan tadi?" seru Direktur Hendra Jonathan.
"Tetapi semuanya bisa kita bicarakan dengan kepala dingin. Apalagi ini kan hanya urusan anak-anak yang bertengkar, tidak seharusnya kita sebagai orang tua ikut turun tangan sampai seperti ini. Hukuman secara akademik, akan lebih baik untuk Ivona." Thomas tetap berusaha untuk melindungi Ivona.
"Memang benar ini urusan anak-anak. Tapi melihat putra laki-lakiku, saat ini berada di rumah sakit, aku menuntut keadilan untuk putraku. Jika tidak mau melakukan seperti apa yang telah Ivona lakukan, maka silakan ajukan permohonan untuk keluar dari sekolah ini. Itu baru adil untuk Yoshua."
"Selamat siang.., apakah ada Tuan Hendra Jonathan???" semua yang ada di ruangan kepala sekolah terkejut, karena tiba-tiba masuk lima orang berseragam polisi.
"Saya yang namanya Hendra Jonathan, untuk apa anda kesini mencari saya???" Direktur Hendra langsung mengenalkan siapa dirinya.
"Terima kasih kerjasamanya, sekarang ikut kami! Kita ke kantor polisi, karena akan kami akan melakukan penyidikan dan pemeriksaan!" salah satu polisi menyampaikan tujuan mereka mencarinya.
"Hei.., kalian salah orang. Dalam kasus apa kalian akan memeriksaku?" Direktur Hendra menolak ajakan polisi.
Saat semuanya terkejut melihat kedatangan polisi, Ivona tersenyum manis. Dia sudah tahu, jika akan ada irang yang membawa Direktur Hendra untuk melakukan penyelidikan.
__ADS_1
***********