
Hanya butuh waktu satu jam perjalanan, keluarga Iswara sudah sampai di rumah sakit Pusat Otak Nasional. Tommy mendorong kursi roda yang digunakan untuk duduk kakek dengan ditemani Ivona. Sedangkan Nyonya dan Tuan Iswara ikut mengiringi mereka di belakangnya. Baru saja mereka akan menuju lobby receptionis, terlihat ada orang dengan pakaian perlente menghampiri mereka.
"Selamat pagi.., apakah saya berbicara dengan dengan keluarga Nona Ivona?" tanya orang tersebut. Tuan dan Nyonya Iswara keget, karena melihat orang berpenampilan seperti pejabat datang menanyakan putri mereka. Sedangkan kakek hanya tersenyum, beliau mengira jika perawatan spesial yang dia terima karena bantuan dari Alexander.
"Iya dengan saya sendiri, apa yang bisa saya bantu." jawab Ivona tegas sambil menghampiri orang tersebut. Tommy kaget dengan pembawaan dan penampilan Ivona, dia merasa seperti tidak mengenali adik kandungnya saat ini.
"Apakah Alexander yang membuat gadis ini jadi memiliki self confident yang tinggi? Jika iya, aku akui performance CEO Kavindra Group itu pada adikku." batin Tommy. Seperti seorang profesional, Ivona menanggapi pria itu.
"Kenalkan saya Johny, dan keberadaan saya disini dengan beberapa pengawal karena ditugaskan oleh Tuan Marcus untuk memberikan pelayanan pada keluarga Nona Ivona! Kakek Nona Iswara bisa langsung dibawa ke kamar Presidential Suites, dan sebentar lagi langsung akan dilakukan screening awal. Dokter Tantowi menitip salam untuk Non Ivona, dan saya informasikan jika saat ini beliau baru saja landing di bandara Soekarno Hatta." orang itu kembali melanjutkan penjelasannya.
Tuan dan Nyonya Iswara semakin bingung, mereka berpikir dari mana Ivona bisa mengatur semuanya dengan sangat sempurna. Meskipun tarif kamar Presidential Suites sangat mahal di rumah sakit ini, tetapi tidak sembarang orang bisa menikmati fasilitasnya. Harus indent dulu beberapa waktu, tetapi hanya dalam waktu seminggu Ivona bisa mempersiapkannya dengan rapi dan tertata. Tetapi mereka menahan diri untuk mencari tahu dari mana putri kandungnya memiliki akses terhadap semua perawatan ini.
"Baik.., nanti aku akan menemui Dokter Tantowi jika beliau sudah ada di rumah sakit ini. Sampaikan salam balikku padanya! Jika boleh tahu ada dimana kamar Presidential Suites?" Ivona menjawab pertanyaan orang itu.
"Mari saya akan antarkan anda kesana!" dengan sigap laki-laki itu melambaikan tangannya, dan tidak berapa lama seorang berpakaian seperti seorang pengawal datang menghampiri mereka. Dia langsung mengambil alih kursi roda yang didorong oleh Tommy. Tanpa banyak tanya, Tommy mengalihkan pegangan kursi pada orang itu.
__ADS_1
Rombongan keluarga Iswara langsung mengikuti pengawal tersebut, dan tidak lama kemudian setelah mereka menaiki lift, sampailah mereka di depan kamar yang terlihat sangat luas. Begitu pintu dibuka, terlihat di depan mata mereka, sebuah kamar yang sangat luas dengan berbagai furniture mewah di dalamnya. Seperangkat sofa mewah melengkapi fasilitas, dengan satu bed untuk istirahat pasien dengan satu sofa panjang di sampingnya, dan juga masih ada satu bed room untuk istirahat penunggu pasien.
Setelah mereka masuk ke dalam kamar, tidak berapa lama Johny datang dengan membawa 3 perawat rumah sakit.
"Kami akan melakukan screening awal, untuk melakukan pengecekan apakah Tuan siap untuk dilakukan tindakan operasi nanti malam." salah satu perawat berbicara pada kakek.
Ivona segera mundur memberi ruang pada perawat untuk melakukan pemeriksaan, dia segera menuju sofa dan duduk disana. Di sudut, tampak Nyonya Iswara yang sedang memegang ponsel tidak memperhatikan Ivona. Tommy dan Tuan Iswara segera maju mendampingi perawat melakukan screening.
"Kondisi tubuh Tuan bagus.., jadi siap untuk dilakukan operasi nanti malam. Kemudian saya berpesan agar pasien melakukan persiapan untuk puasa dari jam 13.00. Kami mohon, semua anggota keluarga berpartisipasi untuk memastikan hal tersebut." kata perawat dengan ramah.
************
Sementara itu,
Setelah mendapatkan informasi dari Roy Kumala jika Ivona melakukan ijin tidak masuk sekolah hari ini, Vaya ingin mengambil hati Tuan dan Nyonya Iswara. Dia akan pura-pura memiliki kepedulian terhadap kondisi Ivona, sehingga dia akan menanyakan langsung pada mamanya. Melihat Roy sudah tidak ada di sekitarnya, Vaya langsung melakukan panggilan pada Nyonya Iswara.
__ADS_1
"Ada apa Vaya.., apakah kamu tidak ke sekolah pagi ini? Masak jam segini sudah melakukan panggilan pada mama." dengan ramah Nyonya Iswara langsung menerima panggilan masuk dari Vaya.
"Vaya saat ini sudah ada di sekolah ma. Vaya mau bertanya ma, apa ada yang terjadi dengan Ivona, karena Vaya sangat khawatir dengannya. Tadi Vaya mendapat informasi, jika kak Rio dan kak Thomas ke sekolah. Mereka memintakan ijin tidak masuk sekolah untuk Ivona. Jika Ivona sakit, Vaya apakah diijinkan untuk menengoknya ma?" Vaya langsung bertanya tentang kondisi Ivona.
"Tidak ada yang sakit Vaya kecuali kakek. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana kabar terakhir kakekmu. Saat ini kita semua sudah sampai di Jakarta, nanti malam akan dilakukan tindakan operasi otak kakekmu. Kakek ingin anak itu mendampinginya saat dilakukan operasi, makanya kedua kakakmu memintakan ijinnya di sekolah." Nyonya Iswara menjelaskan panjang lebar pada Vaya.
"Iyakah ma.., kok mama tidak memberi tahu Vaya kalau semua sudah berangkat ke Jakarta. Jujur ma, Vaya sangat khawatir juga dengan kesehatan kakek, bolehkan Vaya ikut menunggui kakek saat dilakukannya tindakan operasi ma?" Vaya dengan ekspresi sedih mencoba melunakkan hati Nyonya Iswara.
"Boleh sih boleh Vaya. Tapi kami semua sudah berada di rumah sakit Pusat Otak Nasional di Jakarta. Hanya Rio dan Thomas yang masih berada di kota itu, mereka menunggu selepas dari perusahaan baru akan datang kesini. Bagaimana kamu akan bisa datang kemari?" sahut Nyonya Iswara.
"Mama tidak perlu memikirkan bagaimana Vaya bisa datang kesana. Sekarang mama kirimkan share location saja pada Vaya, nanti Vaya dengan sendirinya akan bisa sampai di Jakarta. Vaya tunggu ya ma.., karena Vaya sangat mengkhawatirkan kondisi kakek, meskipun saat ini kakek sudah berubah. Kakek sudah melupakan dan menggantikan Vaya dengan Ivona. Hiks.." Vaya masih mencoba berusaha menjadi seorang cucu yang baik. Dia masih membutuhkan keluarga Iswara, dia belum siap jika harus menanggalkan statusnya di keluarga itu.
"Jangan berpikir seperti itu Vaya! Berapa kali, mama harus menyampaikan padamu. Kakek bersikap seperti itu hanya untuk menghibur Ivona. Sejujurnya kakek tidak benar-benar menyayangi gadis itu. Sudah ya, hati-hati di jalan. Mama akan segera mengirimkan share location padamu."
Tidak lama kemudian, terdengar tanda chat masuk di aplikasi whattsapps Vaya. Gadis itu membukanya, dan senyuman sinis langsung terbit dari mulutnya. Nyonya Iswara sudah mengirimkan share location melalui aplikasi Google maps.
__ADS_1
**************