
Saat kakek dipindahkan ke kamar rawat inap setelah melewati masa transisi, hanya Thomas beserta Tuan Iswara yang menemani. Diluar kamar, terlihat Rico dan beberapa pengawal tampak berjaga untuk memastikan keamanan mereka. Nyonya Iswara dan Vaya diajak Roy Kumala untuk menginap di apartemen milik keluarganya.
Pagi hari saat kakek sudah terbangun, terlihat mata kakek diedarkan ke penjuru kamar. Tetapi sepertinya dia tidak menemukan apa yang dia cari.
"Kakek sudah bangun?" tanya Thomas yang langsung menyadari saat kakek seperti sedang mencari seseorang.
"Nana .?" pertama kali suara kakek keluar, dia menanyakan keberadaan Ivona.
"Ivona tadi malam diajak Alexander ke hotel kek. Pagi ini, dia akan mengikuti battle pelajaran Fisika secara online. Ivona menjadi duta untuk mata pelajaran itu di sekolah." Thomas menjelaskan keberadaan Ivona.
Kakek tersenyum, dan raut wajah kakek terlihat bahagia mendengar perkataan Thomas.
"Cucuku.." ucap kakek sambil tersenyum.
"Tommy sama Rio ikut bersama dengan mereka. Thomas dan papa yang tinggal disini untuk menjaga kakek." ucap Thomas.
********
Vaya ditemani Nyonya Iswara dan Roy Kumala segera datang ke rumah sakit. Mereka langsung menuju kamar, dan hanya melihat Thomas dan Tuan Iswara yang berada di kamar bersama kakek.
"Ma.., Vaya takut." bisik Vaya pada Nyonya Iswara.
Melihat kekhawatiran Vaya, Nyonya Iswara merangkul bahunya.
"Tidak akan ada apa-apa Vaya, toh disini hanya ada kita. Bahkan Ivona juga belum sampai disini. Beri salam pada kakek." bisik Nyonya Iswara di telinga Vaya. Dia menggandeng tangan Vaya dan mengajaknya lebih dekat ke tempat kakek istirahat.
"Selamat pagi kakek.., Vaya datang untuk memberi salam." gadis muda itu langsung mengucap salam.
Kakek menoleh, terlihat beliau agak bingung masih melihat Vaya berada di sekitar keluarganya. Tetapi sebagai orang tua, dengan cepat kakek memberi senyum pada gadis itu.
__ADS_1
"Kamu ada disini?" ucap kakek lirih.
"Ya pasti ada, hanya Vaya yang betul-betul merasa sangat terpukul melihat keadaan kakek. Mendengar jika kakek dioperasi, kemarin dia langsung menuju kemari. Dan ternyata, kakek juga bisa melihat sendiri kan, siapa saat ini yang lebih peduli terhadap kakek." Nyonya Iswara langsung membanggakan Vaya.
Kakek diam, Thomas dengan pandangan tidak suka melirik ke arah mereka. Tetapi melihat posisi keberadaan mereka, tidak mungkin dia akan membantah perkataan Nyonya Iswara.
"Kakek mau sarapan, bagaimana jika Vaya yang akan menyuapi kakek?" Vaya berusaha mengambil perhatian kakek.
"Mama.., Vaya.., kakek lagi butuh istirahat. Lebih baik kalian berdua duduk di sofa saja, dan kebetulan juga baru saja kakek selesai makan pagi." Thomas meminta Nyonya Iswara dan Vaya segera menjauh dari tempat kakek istirahat.
"Adikmu ini lagi kangen sama kakek, dia hanya ingin menunjukkan rasa kangennya. Jangan kamu larang-larang dia Thomas!" Nyonya Iswara memberi teguran pada Thomas.
"Sekarang ada dimana Ivona, harusnya anak itu berada disini untuk menunggu kakek. Sudah siang jam segini, malah belum kelihatan batang hidungnya." lanjut Nyonya Iswara.
Thomas diam, dia tidak mau membantah perkataan Nyonya Iswara, apalagi membuat keributan disini. Dari sudut matanya, Thomas melihat bagaimana kakek menjauhkan tangannya saat mau disentuh oleh Vaya.
"Sudah ma.., benar kata kak Thomas. Sepertinya kakek butuh banyak istirahat, apalagi kakek juga sudah makan. Kita tunggu kakek sambil duduk di sofa saja dulu." Vaya berusaha mengambil hati Nyonya Iswara.
Vaya tersenyum dan matanya muncul kilatan, kemudian dia dan Nyonya Iswara kembali duduk di atas sofa. Thomas menyelimuti kaki kakek, kemudian ijin untuk keluar dari kamar.
"Kakek.., Thomas mau keluar dulu ya. Mau cari sarapan, ada papa yang akan bantu kakek, jika ada yang diinginkan."
"Ya.., pergilah. Jangan lupa hubungi Ivona, minta dia untuk fokus ikut battle, jika sudah selesai urusannya, baru dia boleh datang kesini." kakek berpesan pada Thomas.
"Baik kek.., sebentar Thomas hubungi Rio sama Tommy." sahut Thomas, kemudian dia meninggalkan kamar rawat inap.
Vaya mengerenyitkan dahinya, saat mendengar perkataan kakek dengan Thomas.
"Battle..?? Bukannya saat ini sedang ada battle pelajaran Fisika, kenapa gadis kampung itu ikut. Ah.., mungkin hanya alasannya saja untuk menghindar agar tidak mengurus kakek." Vaya berpikir sendiri, tapi kemudian dia menenangkan hatinya langsung.
__ADS_1
***********
Alexander membuka kamar Ivona, dan melihat gadis itu sudah terlihat rapi. Saat ini gadis itu sedang fokus di depan Ipad-nya, dia sedang ikut battle pelajaran Fisika. Tidak mau mengganggu, Alexander beranjak keluar dan duduk di sofa. Kebetulan kamar yang mereka tempati adalah tipe presidential suite room dengan dua kamar di dalamnya. Satu ruang tamu, balkon melengkapi kenyamanan mereka dalam menginap.
"Tok..., tok.., tok.." pintu kamar hotel diketuk dari luar.
Alexander berjalan ke arah pintu, dan setelah pintu terbuka dia melihat Rio dan Tommy sudah siap serta rapi.
"Kami mau kembali ke rumah sakit. Mau bareng sekalian tidak?" tanya Tommy.
Alexander tidak menjawab, dia hanya menunjuk kamar yang ditempati Ivona. Tommy dan Rio, langsung membuka pintu kamar. Mereka tersenyum, karena melihat adik kandungnya sedang fokus di depan Ipad-nya.
"Ternyata mereka tidur di kamar yang berbeda. Syukurlah." gumam Rio sangat pelan.
"Apa yang kamu gumamkan Rio?" tanya Tommy. Tetapi Rio tidak menjawab, dia hanya tersenyum.
Kedua laki-laki putra keluarga Iswara itu kembali menghampiri Alexander, mereka duduk di depan laki-laki itu.
"Alex..., aku harap setelah kita balik ke kota kita, Ivona bisa kembali ke rumah keluarga Iswara. Aku akan mencari seorang guru les privat yang akan mendampinginya untuk belajar." ucap Tommy. Dia merasa jika Ivona lebih dekat dengan Alexander, dari pada dengan mereka kakak-kakaknya. Dengan membawa kembali gadis itu ke rumah, dia berpikir akan dapat mengembalikan hubungan harmonis antara mereka.
"Apakah kamu sudah membicarakan keputusanmu dengan Ivona sendiri?" sahut Alexander tanpa melihat mereka berdua. Laki-laki itu tetap melihat pada layar komputer yang ada di depannya.
"Maksudmu?" tanya Rio.
"Ivona bukan lagi seorang anak kecil, dia punya logika untuk berpikir. Jangan mencoba untuk memaksakan kehendak kalian, tanpa gadis itu memberikan persetujuan. Aku harap, perkataanku sudah jelas bagi kalian berdua." suara tegas Alexander seakan mendominasi mereka berdua.
Rio menatap Tommy, dan adiknya itu hanya melihatnya.
"Mungkin kalian perlu tahu juga, kakek jelas-jelas menitipkan dan menguasakan padaku untuk memberikan pengawasan pada Ivona. Kakek ingin gadis itu bisa fokus menjalani hari-harinya di masa depan." Alexander melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
Kedua kakak Ivona itu terdiam, setelah beberapa saat akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan Ivona bersama dengan Alexander. Mereka langsung kembali ke rumah sakit.
*********