
Ivona seakan tidak mempercayai pendengarannya, dia ingin menjawab iya tetapi gadis itu tidak yakin dengan dirinya. Sebaliknya gadis itu jika ingin menjawab tidak, masih banyak impian Ivona asli yang belum dia wujudkan terjadinya. Diam dan meresapi semuanya.., mungkin cara terbaik bagi gadis itu untuk mewujudkan sikapnya. Alexander masih bertahan duduk di bawah kaki Ivona.., dengan matanya yang teduh mengandung tatapan pemintaan.
"Apakah yang membuatmu ragu Nana.., belum yakinkah kamu dengan perasaanku?" kembali pertanyaan disampaikan Alexander untuknya.
Ivona memandang lekat ke mata laki-laki di depannya itu, baru kali ini dengan kesombongan dan kearoganan yang selalu bersama hari-harinya.., Alexander saat ini melakukan perbuatan itu.
"Apakah ini namanya cinta..., pengorbanan? Aku sendiri tidak bisa mendeskripsikannya. Dalam kehidupanku sebelumnya.., karena adanya ramalan banyak dokter yang memperkirakan jika umurku tidak akan lama.., aku membatasi pergaulanku dengan para laki-laki. Kenapa kali ini aku dihadapkan oleh sebuah perasaan yang rumit?" banyak pertanyaan membanjir di pikiran Ivona.., dan gadis itu berusaha sendiri untuk mencari jawabannya.
"Nana.., apa yang harus aku lakukan untukmu sayang? Sebagai bentuk tanda jika aku memang sangat menginginkanmu.., sangat menyayangimu." suara Alexander terdengar pasrah. Harapan untuk mendapatkan jawaban atas kepastian yang dia berikan pada gadis itu.., sampai sekarang belum ada jawabannya.
Ivona mengalihkan pandangannya ke jari manisnya yang masih dipegang oleh Alexander. Sebuah cincin berlian berwarna merah muda.., terlihat cantik melingkar di jari manisnya. Tanpa sadar.., Ivona menarik tangan ke atas.., gadis itu mencium cincin itu dengan menggunakan bibir sambil memejamkan mata. Ada setitik keharuan saat melihat cincin itu..,
"Pernikahan.., apakah ini yang aku inginkan?" sambil berbisik, Ivona kembali melihat ke mata laki-laki yang masih setia menunggu jawabannya itu.
"Kakak..., Ivona bingung untuk menjawab dan mengungkapkan rasa ini. Ivona terlalu takut dan khawatir untuk menjalani semuanya.., dan tiba-tiba semuanya akan menghilang." ucap Ivona lirih.
"Apakah yang ditakutkan Nana.., kita akan melewatinya bersama-sama sayang. Aku tidak bisa mengalihkan hati ini untuk yang lain.., semuanya hanya untukmu. Rasa dan raga ini.." sambil memandang mata Ivona.., Alexander menanggapi ucapan Ivona. Perlahan laki-laki itu mengangkat tubuhnya ke atas.., saat ini Alexander berdiri di depan Ivona sambil memegang jari-jari di kedua tangan gadis itu.
__ADS_1
"Milik siapa sebenarnya rasaku ini.., Ivona saat ini atau Ivona di kehidupan masa laluku?" Alexander mengerenyitkan dahi, saat mendengar pertanyaan itu. Tetapi laki-laki itu tidak berusaha untuk menyela perkataan Ivona.., dengan sabar dia mencoba mendengarkan semua ucapan yang keluar dari bibir itu.
"Kak Alex akan bertahan padaku.., atau akan meninggalkanku? Karena raga ini, tubuh ini, jasad ini bukan milikku kak.. Ivona ingin mengembalikan semuanya pada Ivona saat ini.., kehidupanku bukan disini kak.." dengan suara tercekat, Ivona mengungkapkan jati dirinya pada Alexander.
Suasana diam beberapa saat kembali menyelimuti mereka berdua. Di kejauhan titik-titik sinar yang membentuk bintang.., terlihat sangat indah berpadu dengan suasana malam yang tenang.
"Nana.., saat ini.., besok.., masa lalu.., atau kapanpun dan dimanapun kita akan selalu bersama. Tidak masalah dimanapun Nanaku berada.., aku akan selalu mengikutimu." kalimat indah yang merupakan sebuah janji.., terucap dari bibir Alexander. Ivona seperti tidak percaya.., tanpa sadar gadis itu mengikuti apa yang dilakukan laki-laki di depannya itu. Dengan perasaan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.., Ivona memeluk erat tubuh laki-laki itu. Di kesunyian malam.., di atas sebuah bukit dua hati manusia itu menyatu.
"Kamu menerimaku Nana...?" kembali Alexander berbisik pada gadis itu, untuk memastikan perasaannya. Gadis itu menganggukkan kepala.
"Aku ingin mendengarnya Nana.., katakan!" bisik Alexander.
"Aku tidak peduli siapapun kamu.., aku menyayangimu saat ini Nana." Tidak tahu siapa yang memulai.., di pinggir kolam renang yang penuh dengan bunga mawar.., dua hati sudah disatukan oleh malam. Kedua bibir saling menempel.., berpa*gutan mesra.., saling mengisi kekosongan hati masing-masing.
**************
Pagi harinya....
__ADS_1
Rico sudah berdiri di teras rumah keluarga Iswara. Untuk mewujudkan impian Tuan Mudanya.., semalam pukul 01.00 dini hari.., laki-laki itu harus turun dari bukit untuk mempersiapkan semuanya. Dan pagi ini juga.., demi mewujudkan mimpi CEO Kavindra Group.., laki-laki ini sudah berkunjung di waktu yang tidak tepat ke rumah ini.
"Ada apa Rico.., apakah kamu tidak tahu jika tindakanmu sepagi ini sudah mengganggu istirahat kami?" tanya Thomas dengan kesal pada asisten itu.
"Maaf Tuan Thomas.., saya melakukan ini karena ada unsur keterpaksaan. Saya diutus oleh Tuan Muda.., untuk membawa kakek pagi ini juga. Tuan Muda akan mengadakan acara.., dimana itu sangat membutuhkan kehadiran dari kakek." Rico juga heran, kenapa Tuan Mudanya tidak memerintahkannya untuk membawa Tuan Iswara, tetapi malah kakek yang harus dia bawa. Tetapi sedikitpun dia tidak memiliki keberanian untuk menanyakannya.
"Kakek butuh waktu untuk istirahat Rico.., kamu tahu ini jam berapa?? Masih jam 05.00 pagi, waktu yang sangat pas untuk kembali menarik selimut. Kami tidak akan menuruti kegilaan yang akan kalian lakukan pada keluargaku." Thomas tidak mau menerima alasan yang disampaikan Rico.
"Tok.., tok.., tok..," tiba-tiba terdengar suara tongkat beradu dengan suara lantai mendekat ke arah Thomas dan Rico. Mata Rico berubah cerah melihat siapa yang datang.
"Siapakah tamu yang berkunjung sepagi ini Thomas..? Pasti ada hal penting yang akan dia beritahukan.., jika sepagi ini sudah datang berkunjung." kakek bertanya pada Thomas. Melihat kakek yang sudah berdiri di belakangnya, Thomas langsung membantunya.
"Tuan Besar.., maafkan saya Tuan Besar. Kedatangan saya di pagi ini ke rumah Tuan Iswara.., karena mendapatkan amanah dari Tuan Muda Alexander untuk membawa Tuan Besar." tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Rico langsung berbicara pada kakek. Dahi kakek berkerut sedikit.., tetapi..
"Baiklah.., tunggu sebentar. Aku akan ikut bersamamu.., semua yang terkait dengan CEO Kavindra Group itu pasti akan terkait dengan cucuku Ivona. Tidak akan mungkin, jika tanpa alasan Tuan Muda Alexander mengundangku untuk datang." tanpa berpikir panjang, Kakek langsung mengiyakan ajakan Rico.
"Terima kasih Tuan Besar.." Rico mengucapkan terima kasih atas kesanggupan yang diberikan oleh kakek Ivona.
__ADS_1
"Ayo bantu aku Thomas.., bawa aku ke kamar untuk bersiap-siap. Cucuku pasti sudah menungguku." dengan rona kebahagiaan.., kakek meminta Thomas untuk membantunya bersiap. Tidak mau membantah permintaan kakek, Thomas menuntun kakek dan membawanya kembali ke dalam kamar.
******************