
Alexander sudah memberi tahukan pada Tommy, jika sore ini dia akan ke rumah keluarga Iswara untuk mengantarkan Ivona. Tetapi dia tidak berjanji akan menyerahkan atau membiarkan Ivona untuk kembali tinggal dengan keluarga Iswara. Dia akan membiarkan Ivona yang memilihnya sendiri untuk tinggal dengan siapa, karena yang dia utamakan adalah rasa kenyamanan gadis itu.
"Mau makan dulu atau langsung ke rumah keluarga Iswara?" tanya Alexander saat mereka sudah berada dalam perjalanan meninggalkan sekolah.
"Lapar sih, tapi lagi malas makan di rumah makan." sahut Ivona cepat.
Alevander diam tidak menanggapi Ivona, dia hanya tersenyum dan membiarkan gadis itu yang sedang mengeluarkan ponsel. Yang penting adalah Ivona saat ini memiliki mood yang positif, dia sudah merasa tenang. Setelah beberapa lama mengemudi, Alexander membelokkan mobilnya ke rumah makan yang menjual menu cepat saji. Dia langsung mengambil antrian drive thru.
"Satu French fries, Satu bic mac Burger, pie apple, satu hot coffee, dan satu Cola." Alexander memesan menu pilihannya saat sudah gilirannya di antrian. Mendengar apa yang diucapkan Alexander, Ivona merasa senang. Tanpa mengucapkan apapun, ternyata laki-laki muda itu bisa menerka apa yang sedang dia inginkan.
Setelah melakukan pembayaran, Alexander menjalankan mobilnya ke depan, dan mengambil menu pesanannya pada outlet di depannya. Setelah mendapatkan barang pesanannya, Alexander memarkirkan mobilnya sebentar.
"Makanlah ini dulu, nanti jika tidak ada makanan di rumah keluarga Iswara, habis dari sana kita makan lagi." Alexander menyerahkan makanan dan minuman cola pada Ivona. Kemudian dia menyesap sedikit hot coffee, dan melanjutkan membawa mobilnya.
"Terima kasih kak Alex." dengan mata berbinar, Ivona menerimanya dan langsung menikmati makanan dan minuman tersebut. Alexander danya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat gadis itu menikmati makanannya.
************
Di rumah keluarga Iswara
__ADS_1
Pusat komputer nasional sudah mendapatkan data identitas dan alamat Ivona, atas perintah dari Giandra peneliti senior mereka melacaknya. Saat ini Giandra mengirimkan orang untuk datang ke rumah menemui Ivona.
"Nyonya Iswara..., ada dua orang tamu di teras rumah. Mereka kesini mau ketemu dengan Nona Ivona." pelayan rumah memberi tahu pada Nyonya Iswara, yang saat ini sedang main ponsel di media sosial dengan teman-teman sosialitanya.
"Siapa pula yang mencari gadis itu, kamu kan tinggal bilang jika Ivona sudah tidak tinggal bersama dengan kita lagi. Sampaikan jika kita juga tidak tahu, dimana tempat tinggal dia sekarang." jawab Nyonya Iswara. Dia masih melihat ponselnya.
"Baik Nyonya, akan saya sampaikan." sahut pelayan rumah langsung meninggalkan Nyonya Iswara.
Tetapi tidak lama kemudian, pelayan rumah itu kembali masuk ke dalam dengan wajah penuh ketakutan.
"Nyonya Iswara.., mohon maaf kan saya!" ucap pelayan rumah tanpa berani memandang pada Nyonya Iswara.
"Ada apalagi, apakah kamu tidak melihat, saat ini aku sedang melakukan apa?" sesuai dugaan pelayan rumah, Nyonya Iswara langsung berbicara dengan nada tinggi.
Mendengar perkataan pelayan rumah jika tamunya dari pusat komputer nasional, Nyonya Iswara terkejut tapi kemudian mukanya cerah. Dia berpikir mungkin ada kesalahan, harusnya yang dicari Vaya bukan Ivona. Dia segera bergegas menuju teras rumah, untuk menemui kedua tamunya.
*************
Di teras rumah keluarga Iswara
"Kami berdua dari pusat komputer nasional, dan diperintahkan oleh Tuan Giandra seorang peneliti senior dari institusi kami." kedua tamu di rumah keluarga Iswara memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Iya.., silakan masuk dulu, mungkin kita bisa berbicara lebih serius di dalam!" Nyonya Iswara mempersilakan kedua tamunya untuk masuk ke dalam.
"Kami tidak akan lama Nyonya.., kami hanya ingin bertemu langsung dengan putri keluarga ini yang bernama Nona Ivona. Ataupun jika sedang tidak ada di rumah, kami bisa mendapatkan nomor contact person sehingga kami bisa menghubunginya via panggilan telpon." kedua tamu menolak dengan halus.
"Ehm.., peneliti senior mencari Ivona?? Kira-kira dalam hal apa, apakah anak itu melakukan kesalahan, sehingga pusat komputer nasional sampai mengirimkan utusannya untuk datang kemari?" dengan penuh tanda tanya, Nyonya Iswara menanyakan kepentingannya.
"Nyonya tidak perlu khawatir. Ada kepentingan dari peneliti senior, untuk mengajak Nona Ivona bergabung dengan institusi kami. Dia memiliki kompetensi di bidang penguasaan IT yang tidak semua orang memilikinya." tamu itu menjelaskan alasan mereka ingin bertemu dengan putri keluarga Iswara.
Nyonya Iswara mengerenyitkan keningnya, dia berpikir jika ada kekeliruan data yang didapatkan oleh pusat komputer nasional. Dia berpikir jika nona rumah yang mereka cari adalah Vaya, bukan Ivona. Perempuan paruh baya itu masih meragukan kemampuan yang dimiliki putri kandungnya, dia masih menganggap jika Vaya adalah putri kandung dan kesayangannya.
"Tuan.., mungkin ada kekeliruan dalam data yang Tuan dapatkan. Putriku yang cerdas dan memiliki banyak talent mengagumkan adalah Vaya bukan Ivona. Tetapi putri saya saat ini masih sekolah, dan untuk beberapa saat dia tidak bisa pulang ke rumah. Karena ada urusan penting, untuk sementara waktu dia tinggal di hotel." Nyonya Iswara mencoba meluruskan data, tetapi dia menutupi sesuatu, jika Vaya sudah diusir dari rumah keluarga ini.
"Atau ada kesalahan informasi ya, karena data yang ada di kami sepertinya nama Ivona bukan Vaya. Tapi jika kami belum bisa dipertemukan dengan putri keluarga ini, mungkin saya bisa mendapatkan contact person untuk bertemu dengan putri yang Nyonya maksud." kedua orang ini langsung tertarik dengan obrolan dengan Nyonya Iswara.
"Baiklah coba anda tulis saja, akan saya bacakan. +628122722777 itu nomor putri saya yang bernama Vaya Iswara. Jika belum dapat terhubung nanti kalian berdua bisa ketemu dengan saya, nanti akan saya atur janji untuk bisa bertemu dengan putriku." selain membacakan nomor ponsel Vaya, Nyonya Iswara juga memberikan kartu namanya.
"Okay.., kami berdua sangat mengapresiasi langkah Nyonya Iswara yang akan menghubungkan kami dengan putri keluarga ini. Informasi sementara sudah cukup, kami berdua langsung mohon pamit."
Kedua tamu tersebut kemudian pamitan, dan segera ijin meninggalkan rumah keluarga Iswara. Sambil tersenyum penuh kebanggaan, Nyonya Iswara memandangi kedua tamunya yang sedang berjalan menuju mobilnya. Bersamaan dengan hal itu, tampak mobil Lamborghini Aventador dan Porsche Clayman yang dibawa Tommy dan Thomas memasuki halaman rumah. Melihat mobil mewah tersebut, dua orang dari pusat komputer nasional berpandangan mata. Tetapi mereka segera masuk ke mobil mereka, kemudian langsung meninggalkan rumah keluarga Iswara.
"Siapa kedua orang itu, kamu kenal?" Tommy bertanya pada Thomas.
Thomas tidak menjawab, dia hanya mengangkat kedua bahunya ke atas, kemudian mereka langsung masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
**************