
Richard akhirnya berusaha memahami karakter Ivona.., meskipun dokter muda itu tinggal di rusun bawah standar, tetapi tidak mencerminkan jika gadis itu kekurangan uang. Kepintarannya untuk menutup jati diri dirinya, menimbulkan kekaguman di hati laki-laki muda itu.
"Baiklah Dokter.., aku hargai bagaimana Dokter menolak tanda apresiasi dari keluarga kami. Ke depan.., jika Dokter memiliki sedikit rintangan, Globally Group siap memberi bantuan untuk menyelesaikan semua permasalahan pada Dokter." Richard menghargai pendapat dan kekonsistenan Ivona.
"Okay.., ada lagi Tuan yang ingin aku sampaikan. Berhentilah untuk memanggilku dengan panggilan Dokter.., panggil aku dengan namaku Ivona Carminda.." ucap gadis itu. Mendengar nama belakang gadis muda itu, muncul tanda tanya besar di hati Richard. Dia merasa tidak asing dengan nama itu, karena berkali-kali papanya sering mengigau menyebut nama Carminda dalam tidurnya. Jika Frans ditanya, laki-laki tua itu hanya menggelengkan kepala. Tanpa sadar, Richard tanpa berkedip melihati gadis muda itu.
"Tuan.., Tuan Richard.. Kenapa Tuan melihat saya seperti ini?" telapak tangan Ivona dinaik turunkan di muka Richard.
"Maaf.., maafkan saya Nana.., bolehkan aku memanggilmu dengan sebutan Nana?" sambil tergagap karena tersadar dengan perilakunya, Richard meminta ijin memanggil dengan panggilan akrab. Melihat itu, Ivona tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Oh iya Nana.., ada lagi yang harus aku sampaikan padamu. Aku harap kamu tidak boleh untuk menolaknya, kerena aku ingin menyenangkan hati papa." mendengar perkataan laki-laki muda itu, Ivona menatap wajah Richard.
"Yupz.., apa yang harus aku lakukan?" Ivona tertarik untuk mendengarnya.
"Papa ingin bertemu kembali denganmu Nana.. Tolong kabulkan permintaan papa, aku bersedia melakukan apa saja untukmu." dengan penuh harap, Richard memohon pada gadis itu. Setelah menghela nafas.., Ivona berpikir sepertinya tidak akan ada masalah, jika dia meluangkan waktu untuk berkunjung pada Tuan Frans.
"Baik Tuan Richard.., aku akan mengabulkan permintaanmu." akhirnya Ivona mengabulkan permintaan Richard. Richard merasa sangat bahagia mendengar kesanggupan Ivona.
"Bagaimana jika saat ini kita langsung menuju ke tempat kediaman papa?? Apakah hal ini menganggumu Nana??" tiba-tiba Richard mengajak Ivona untuk saat ini juga berkunjung ke kediaman papanya. Gadis itu berpikir sebentar..
__ADS_1
"Jika itu tidak mengganggu Tuan Frans istirahat, tidak masalah. Kebetulan saat ini, aku juga tidak memiliki agenda penting." ucap Ivona akhirnya.
"Keluargaku malah akan sangat bersyukur jika kamu datang mengunjungi papa, Nana.. Ada satu lagi yang ingin aku sampaikan padamu.., jangan panggil aku dengan sebutan Tuan. Panggil aku dengan sebutan kakak saja." entah perasaan apa yang muncul di hati Richard, laki-laki muda itu merasa dekat hatinya dengan Ivona.
"Baik kak Richard.., ijinkan aku ganti baju dulu dan bersiap sebentar." setelah ada kesepakatan, Ivona segera berdiri dan masuk ke dalam kamar. Richard dan teman laki-lakinya melanjutkan menikmati camilan dan kopinya.
**********
Hampir satu jam perjalanan, Richard membawa Ivona ke daerah dataran yang lebih tinggi dari apartemen yang dia tempati. Tetapi gadis itu diam saja, menikmati deretan pohon pinus yang tumbuh di kanan kiri jalan yang mereka lewati. Setelah beberapa saat.., mobil itu berhenti di depan pintu gerbang yang terbilang tinggi. Beberapa orang terlihat membukakan pintu, dan mobil itu segera masuk ke dalam.
"Selamat datang di mansion papaku Nana.." sambil tersenyum, Richard membukakan pintu mobil untuk Ivona. Gadis itu segera turun dari dalam mobil. Matanya terkesima melihat sebuah bangunan mansion yang didominasi dengan warna putih sangat megah di hadapannya. Richard memimpin gadis itu, dan mengajaknya segera memasuki mansion.
Memasuki rumah itu, lagi-lagi menimbulkan kekaguman dan membuat Ivona terkesima. Bangunan rumah seperti model rumah di Perancis, terlihat lebih mewah lagi di dalamnya. Lampu gantung yang didominasi kristal, tampak menambah cantik dan kemewahan rumah tersebut.
"Tunggulah sebentar disini Nana.., aku akan melihat papa dulu di dalam!" dengan suara pelan, Richard meminta Ivona untuk duduk menunggunya sebentar. Setelah melihat Ivona menganggukkan kepala, perlahan Richard meninggalkannya sendiri di ruangan itu.
"Betul-betul sangat mewah dan elegance tempat ini. Penghuni rumah ini memiliki selera yang tinggi, terlihat dari perabotan dan interiornya. Aku jadi ingin memiliki rumah seperti ini.." gumam Ivona sambil mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan. Tiba-tiba tampak seorang maid mengantarkan minuman panas di depannya.
"Nona Muda.., minumlah dulu, sambil menunggu Tuan Besar dan Tuan Muda keluar.." maid itu mempersilakan Ivona untuk menikmati minuman yang baru saja dia sajikan.
__ADS_1
"Terima kasih.." ucap Ivona singkat. Maid itu menganggukkan kepala, kemudian minta pamit dan meninggalkan Ivona sendiri di ruangan itu. Untuk mengurangi rasa sepi, Ivona mengambil cangkir dan menyesap minuman panas tersebut secara perlahan.
Beberapa waktu kemudian, terlihat Richard datang dengan senyum bahagia. Laki-laki itu seperti habis mendapatkan lotre undian.
"Nana..., syukurlah papa sudah habis makan malam. Beliau sangat bahagia saat aku sampaikan, jika Dokter Ivona sudah berada di rumah ini." Richard berdiri di depan Ivona, kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri.
"Aku bisa berdiri sendiri.., dimana kita akan menemui Tuan Frans?" Ivona menolak uluran tangan yang diberikan Richard, gadis muda itu berdiri dengan sendirinya. Richard tidak tersinggung, laki-laki itu hanya tersenyum melihat sikap penolakan yang ditunjukkan gadis itu.
"Papa memiliki ruang tamu kecil di dalam kamarnya. Ayo.., aku akan menemani dan mengantarmu ke kamar papa." Richard langsung berjalan memimpin di depan Ivona. Keduanya masuk ke bagian ruang yang lebih dalam, karena mansion ini ternyata sangat besar sekali. Banyak ruangan dan kamar yang tersedia, dan Ivona tidak memahami kegunaannya masing-masing. Di depan sebuah kamar dengan pintu bercat putih yang sangat tinggi, Richard mengetuk pintu.
"Tok.., tok.., tok.." tidak lama kemudian terlihat maid membukakan pintu untuk mereka. Richard segera mengajak Ivona masuk ke dalam. Begitu mereka masuk, Ivona bertatapana dengan Tuan Frans yang tanpa berkedip melihatnya dari tadi.
"Duduklah Nana...! Papa.., ini Richard membawa Dokter Ivona berkunjung kemari, sesuai janji Richard untuk papa." Richard langsung mengajak Frans berbicara. Melihat papanya terus memandang Ivona, muncul tanda tanya besar di hati Richard.
"Papa.." Richard dengan suara pelan kembali memanggil papanya.
"Iya..iya.., silakan duduk Dokter. Merupakah anugerah untukku yang sudah tua ini, bisa merasakan dikunjungi oleh Dokter Ivona yang pasti sangat sibuk." sambil tergagap, Frans menyilakan Ivona untuk duduk. Ivona menuruti ajakan Frans, gadis itu kemudian duduk di depan laki-laki tua itu. Richard kemudian mengikuti duduk di samping Ivona.
****************
__ADS_1