Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 40 Jika Ada Masalah, Katakan Padaku


__ADS_3

Semua yang berada di tempat itu langsung terkejut, mereka baru tahu betapa mengerikannya murid pindahan itu. Yoshua dari kelas lain, yang selama ini sangat famous dengan kelakuan buruknya, tidak mereka sangka akan berakhir mengenaskan di depan gadis kecil itu. Kelly dan teman lainnya dengan muka memucat, langsung maju ingin menolong Yoshua.


"Kak Yosh..., tenang dulu kak. Kami akan menolongmu!" perlahan teman laki-laki satunya, memegang Yoshua dengan hati-hati.


"****.., akh..., pelan-pelan tolol!" teriak kesakitan Yoshua saat tangannya ditarik.


"Iya.., ini aku juga sudah hati-hati. Tahanlah sebentar, aku akan mencabut pecahan kaca yang tertancap di lututmu!" teman laki-laki Kelly memberi peringatan pada Yoshua.


"Akh...., sa...kit.." teriak Yoshua sekali lagi. Setelah pecahan kaca sudah diambil, Yoshua dipapah oleh teman laki-lakinya itu.


Kelly melirik ketakutan pada Ivona yang sudah berani menyakiti Yoshua, tetapi tanpa dia duga dengan senyum sinis Ivona juga menatapnya. Karena dia sangat khawatir jika akan bernasib sama dengan Yoshua.., tiba-tiba...


"Jangan sakiti aku..., ayahku seorang wakil Direktur! Kamu akan mendapatkan balasan setimpal jika berani menyakitiku." Kelly berteriak mengingatkan Ivona, sambil telapak tangannya diarahkan ke Ivona agar tidak mendekat padanya.


Ivona hanya tersenyum sinis, melihat Kelly yang tampak pucat dan ketakutan. "Memangnya ada apa dengan jabatan wakil direktur? Apakah kamu pikir, aku takut jika kamu bilang bahwa ayahmu seorang wakil direktur? Huh.., kamu salah Kelly. Bagiku yang salah, ya tetap salah. Tidak ada pembenaran untuk yang salah bagiku." dengan tatapan sarkasme, Ivona menatap Kelly.


Kelly mundur sedikit ke belakang, wajahnya tambah memucat melihat tatapan sarkasme murid pindahan itu. Tapi tiba-tiba Kelly merasa diuntungkan, karena pria gemuk yang bersama dengan Ivona tiba-tiba tersengal-sengal nafasnya.


"Ben..., Beni..., apa yang terjadi denganmu?" Ivona langsung panik, dan langsung berbalik badan memegang pria gemuk itu.


Dia melihat tubuh pria gemuk itu tampak lemas, raut wajahnya mulai memucat, dengan nafas yang tidak beraturan. Ivona panik, dia melihat Beni seperti sedang merasakan ketakutan.


"Ayo.., kita segera pergi dari sini! Apakah kalian mau berurusan dengan monster?" teriak Kelly mengajak teman-temanya meninggalkan tempat ini.


Murid laki-laki satunya memapah Yoshua yang masih merasa ketakutan, dan keempat orang itu segera meninggalkan tempat itu. Ivona tidak memiliki waktu lagi untuk berurusan dengan mereka, prioritas dia saat ini adalah menyelamatkan pria gemuk itu.

__ADS_1


"Pergilah Ivo..," dengan terbata-bata, Beni meminta gadis itu segera pergi meninggalkannya. Dia tidak ingin Ivona malu atau takut melihatnya, dan menganggap dirinya monster.


"Beni... apakah saat ini kamu membutuhkan suntikan?" mendengar pertanyaan Ivona, sekujur tubuh Beni langsung membeku. Dia tidak menyangka, gadis itu mengetahui kebiasaan menyuntik dirinya untuk mengendalikan penyakit yang dia alami.


"Kenapa kamu diam Beni? Jawab pertanyaanku, jika kamu butuh suntikan, dimana kamu menyimpannya? Aku akan membantumu untuk mempersiapkannya." Gadis itu semakin mendekat padanya, dengan tatapan kecemasan Ivona memandangnya. Tetapi Beni malah menundukkan kepalanya, dia tidak berani memandang tatapan Ivona.


"Ayolah Ben.., aku akan membantumu. Jika kamu diam, bagaimana aku bisa menolongmu saat ini?" Beni terkejut dengan perlakuan yang diberikan Ivona padanya, tidak ada rasa takut atau merendahkan dari tatapan gadis yang ada di depannya. Padahal  anggota keluarganya di rumah, bahkan papa dan mamanya akan menjauhi dia, saat dia mengalami kumat akan penyakitnya, Dia hanya melihat tatapan malas dan kesal, karena Beni dari tadi hanya diam dan malah mengusirnya pergi.


"Jika kamu merasa sakit, berobatlah! Ayo aku bantu kamu, sekarang !" tangan Ivona langsung memeganginya. Melihat ketulusan gadis itu, Beni akhirnya mau dipapah Ivona.


"Antar aku ke UKS saja! Nanti setelah istirahat sebentar, aku akan baik kembali." dengan lirih Beni meminta diantarkan ke UKS.


"Baik.., maafkan aku ya Ben! Gara-gara aku, kamu menjadi seperti ini. Kamu mendapat perlakuan bullying dari Kelly dan teman-temannya." sambil memapah Beni menuju UKS, Ivona meminta maaf.


"Terima kasih teman. Untuk ke depannya, jika kamu memiliki masalah apapun, katakan padaku! Aku pasti akan membantumu." dengan tersenyum, Ivona memberi perhatian pada Beni. Pria gemuk itu merasa tersentuh dengan gadis itu, hatinya tiba-tiba menjadi hangat. Dia yang selalu dijauhi teman-temannya, saat ini dia merasa mendapatkan perhatian lebih dari Ivona.


******************


Unit Kesehatan Sekolah.


Setelah sampai di pintu UKS, Ivona segera memegangi Beni dan langsung membawanya masuk ke dalam ruangan. Seorang wanita yang juga menjadi Guru di SMA Dharma Nusa, saat ini sedang mendapatkan giliran jaga. Guru itu masih muda dan cantik, dengan rambut sebahu dan riasan tipis.


"Ada apa ini?" dengan ramah Guru jaga itu bertanya pada mereka berdua.


"Teman saya tiba-tiba sakit bu, mohon bantuannya. Mungkin Ibu bisa memeriksanya, dan segera memanggilkan dokter untuknya!" Ivona kemudian mengantarkan Beni ke ranjang untuk istirahat murid-murid yang mengalami gangguan kesehatan di sekolah.

__ADS_1


Guru itu berjalan mendekati tempat Beni beristirahat.


"Gejala apa yang dirasakan murid ini?" sambil memegang dahi dengan punggung tangannya, Guru jaga itu bertanya.


Ivona kemudian menceritakan dengan singkat, kejadian yang baru saja dialami oleh Beni. Tiba-tiba ponselnya berdering, Ivona minta ijin untuk mengangkatnya sebentar. Tetapi dering panggilan itu berhenti, sesampainya Ivona di depan pintu UKS.


"Drrrttt." kembali Ivona melihat ponselnya, ternyata ada pesan masuk dari Marcus.


"Ivona..., ada pertemuan konferensi. Jika kamu ada waktu, joinlah virtual meeting!" isi pesan dari Marcus yang memberi tahu jika ada rapat via video conference. Ivona menepuk jidatnya sendiri, dia ingat jika sudah menanda tangani perjanjian kerjasama dengan perusahaan komputasi milik Marcus. Bahkan gaji tiga bulan di depan sudah dia terima pembayarannya.


"Tapi.., dengan keadaan Beni seperti itu, aku tidak akan bisa meninggalkannya sendiri disini." Ivona berpikir sendiri, dan karena kasihan dengan kondisi Beni yang gara-gara dia mengalami kumat di sekolah, dia berpikir untuk ijin tidak mengikuti rapat.


"Mohon dimaafkan, saat ini saya belum memiliki waktu longgar. Saya ijin tidak ikut rapat online, tetapi keputusan yang dihasilkan dalam rapat, aku akan mengikutinya." Ivona mengirim chat balik yang memberi tahukan jika dia tidak bisa join rapat.


Setelah memastikan pesannya terkirim ke kantor komputasi, Ivona kembali masuk ke dalam ruang UKS. Dia melihat guru jaga sudah duduk di mejanya, Ivona langsung menghampirinya.


"Bagaimana Bu, keadaan Beni?" Ivona bertanya mengenai keadaan Beni.


"Keadaan Beni cukup buruk. Aku tidak memiliki kemampuan untuk menanganinya." Guru jaga UKS itu merasa kasihan pada Beni.


*********


Merasa capai tiduran, Beni duduk di atas ranjang UKS dengan menyandarkan badannya yang gemuk di atas headboard. Dia termenung sendiri dengan tatapannya yang terlihat muram, memikirkan penolakan Ivona pada dirinya tadi.


****************************

__ADS_1


__ADS_2