Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 245 Pesan


__ADS_3

Karena Carminda tidak mau menambah laboran baru, akhirnya Madam Theodora menempatkan Ivona dalam divisi di bawah koordinasi Rafi, seorang laki-laki usia paruh baya yang berasal dari Turki. Madam Theodora saat ini mengumpulkan Ivona untuk dipertemukan dengan Rafi dan para anggota timnya, yang semuanya berisi orang-orang yang sudah berumur.


"Dokter Rafi.., saya perkenalkan kamu dengan anggota tim barumu. Selain berbakat dan genius dalam perancangan alat-alat medis, Ivona juga memiliki latar belakang sebagai dokter sama sepertimu. Aku harap, pada divisi kalian akan muncul inovasi dan kreatifitas yang akan bermanfaat bagi dunia medis dunia ini." Theodora mengawali pertemuan dengan mengenalkan Ivona. Tanpa mengurangi rasa hormat dengan anggota tim yang lain, Ivona berdiri dan membungkukkan badan, pada empat orang selain Madam Theodora yang ada di ruangan itu.


"Kenalkan saya Ivona Carminda.., mohon arah dan bimbingannya untuk dapat menyesuaikan pada divisi Tuan dan Madam." ucap Ivona memperkenalkan dirinya. Mendengar nama belakang Ivona.., empat orang itu saling berpandangan mata. Mereka tertegun mendengar nama Carminda tersemat di belakang nama gadis itu.


"Kami akan menerima dan menempamu gadis cantik. Aku harap tidak akan ada penyesalan yang muncul dari keputusanmu, untuk bergabung dengan laboratorium utama. Kamu pasti sudah tahu dan paham, kenapa aku menanyakan masalah ini. Masa mudamu masih panjang, dan kamu bisa mendapatkan banyak uang di luar sana. Untuk apa menghabiskan waktu dengan orang-orang yang sudah berumur dalam ruangan ini." untuk tidak membuat gadis itu menyesal, dengan sikap kebapakan, Rafi memberi nasehat pada Ivona.


"Aku juga sudah memberinya nasehat Dokter Rafi.. Tetapi sepertinya gadis ini.., memiliki minat yang kuat dalam riset-riset yang akan kita kembangkan. Semoga saja.. tidak akan ada penyesalan di kemudian hari." ucap Madam Theodora sambil menghela nafas. Mendengar nasehat dari kedua orang yang memiliki umur jauh di atasnya itu, Ivona tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih untuk perhatian dari Madam Theodora dan Dokter Rafi untuk kebaikan Ivona. Mohon arahan dari junior ini, keputusan yang saya ambil sudah merupakan keputusan bulat dengan pertimbangan yang matang. Mohon terima dan bimbing saya." dengan tegas, Ivona menyatakan kemantapannya untuk bergabung dengan divisi itu.


Tanpa diminta, empat orang dari divisi Rafi.., mereka maju ke depan dan memberi pelukan pada gadis itu. Madam Theodora tersenyum melihat bagaimana penyambutan gadis itu oleh para seniornya.


"Bagaimana kami akan memanggilmu gadis kecil?" Joshep bertanya pada Ivona.


"Call me Nana..!" ucap Ivona perlahan. Gadis itu merasa senang dan terharu atas penyambutan dan sikap humble yang ditunjukkan oleh rekan-rekan satu timnya. Dia merasa akan mendapatkan saudara baru dalam lingkungan terlarang itu.


"Okay.., okay..., sudah cukup waktu kalian untuk saling mengenalkan diri. Sekarang segera kembali ke ruang laboratorium kalian. Riset terakhir sudah dilakukan uji coba instrumen.., segera selesaikan untuk menggunakan sampel yang sebenarnya. Kerja.., kerja.." setelah memandang acara perkenalan cukup, Madam Theodora segera membubarkan mereka.

__ADS_1


"Baik Madam.., tidak adakah sebentar saja tambahan waktu untuk kami bersenang-senang sebentar saja." ucap Joseph sedikit keberatan dengan himbauan Madam Theodora.


"Kalian masih memiliki banyak waktu selepas jam kerja. Jika kalian mau, aku memiliki koleksi wine yang sudah terfermentasi sangat lama. Aku akan mengantarkan ke asrama kalian, berpestalah sejenak untuk menghilangkan kejenuhan." tanpa berpikir untung rugi, karena sudah bersama-sama di tempat terisolir, Madan Theodora menawarkan sedikit kesenangan pada anak buahnya.


"Memang yang paling baik pemimpin kita ini.." sahut Joseph sambil mengacungkan jempol. Mereka kemudian bersama-sama meninggalkan ruang kerja Madam Theodora dengan bersemangat.


***********


Hari-hari berlalu


Sudah satu minggu berada di laboratorium utama, Ivona seperti terlupakan tujuan utama untuk bergabung di laboratorium ini. Hari-harinya banyak dihabiskan untuk menekuni riset peralatan medis, penyakit-penyakit baru dan alternatif penyembuhannya. Bahkan selesai jam kerja, gadis itu lebih suka bertahan di laboratorium dengan rekan-rekan kerjanya yang lain. Baru selepas senja, gadis itu baru kembali ke asrama mereka. Sebenarnya tidak pas jika disebut asrama, karena tempat tinggal Ivona di asrama seperti sebuah kamar mewah di penthouse. Fasilitas sangat lengkap tersedia disitu, dan makanan yang disajikan untuk mereka pun karya dari chef-chef standar hotel bintang lima Michelin.


"Aku akan membuka iPad saja.., sudah lumayan lama aku tidak berbincang dengan Marcus di dunia virtual. Apakah Marcus sudah kembali ke Indonesia ya.., atau masih berada di negara ini?" gumam lirih Ivona. Gadis itu kemudian mengambil iPad kemudian menggunakan perangkat khusus yang dia bawa dari luar, untuk masuk dan melakukan penelusuran.


"****.. ****.. ****..." signal ada perangkat baru yang memasuki area privacynya dalam dunia virtual, memberi isyarat pada gadis itu. Dengan dahi berkerut Ivona penasaran, dia ingin melihat siapa yang sudah berani memasuki ranah privacynya.


Beberapa saat kemudian Ivona mulai masuk ke akunnya. Tiba-tiba jantungnya seperti berhenti berdetak.., ingatan masa lalunya mengembangkan sebuah harapan baru di matanya, ketika membaca sebuah message yang dikirimkan kepadanya.


"Hope my girl doesn't forget the CEO of Kavindra Group".. kalimat yang pernah dikirimkan Aldo untuknya, terasa seperti menusuk hatinya. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata gadis itu.

__ADS_1


"Ya Tuhan..., apakah kak Alex juga berada di dunia ini?? Jika iya.., pertemukan kami ya Tuhan.." dengan tergugu, Ivona menangis terisak. Masih jelas tergambar dalam ingatannya, bagaimana arogan, perhatian, keintiman yang pernah mereka lakukan pada kehidupan sebelumnya. Tiba-tiba Ivona teringat untuk membalas pesan itu.


"Kak Alex..., where are you now?? I love you forever, in any world..." dengan tersendat-sendat, Ivona membalas pesan yang dikirimkan orang misterius itu. Sebuah kalimat manis, yang menyatakan jika dia mengatakan mencintai Alex selamanya dan di dunia manapun dituliskan Ivona pada pesan yang dikirimnya. Sesaat gadis itu lupa jika dia akan menghubungi Marcus.


"Drtt.., drtt.." tiba-tiba alert penanda Marcus online menyala di device yang lain. Ivona segera menghapus air matanya dengan menggunakan tissue, kemudian kembali online.


"Hey Ivona.. bagaimana kabarmu. Nyalakan video..!" Ivona melihat wajah Marcus yang terlihat lebih bersih, tapi badannya sedikit kurus.


"Baik dong.., posisi dimana Marc.. masih di Hong Kong?" mereka terlibat pembicaraan secara online.


"Masih.., aku kan sudah bilang padamu, jika aku akan berada di Hong Kong selama dua minggu. Masih ada waktu lima hari aku disini. Bagaimana apakah kamu sudah menemukan Nyonya Carminda?" Marcus langsung bertanya ke pokok permasalahan.


Dengan lesu, Ivona menggelengkan kepalanya. Marcus mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.


"Sabarlah Nana.., oh ya aku ada informasi untukmu. Tuan Muda Aldo dan Tuan Richard mencari keberadaanmu. Beberapa hari lalu saat kamu meninggalkan apartemen tanpa berpamitan denganku, aku sempat terkena pukulan di rahangku oleh laki-laki tangan besi itu." Marcus tiba-tiba mengadukan tindakan kekerasan yang dilakukan Aldo padanya.


*"What the fu*ck?? Ada hubungan apa kamu dengan laki-laki itu Marcus..?" Ivona kaget mendengar pengaduan dari Marcus. Laki-laki itu kemudian memberi tahukan tentang sikap Aldo dan Richard yang sangat memperhatikan gadis itu.


***************

__ADS_1


__ADS_2