
Ivona tersenyum mendengar keributan itu, dia tidak berhenti tetapi melanjutkan langkahnya kembali ke dalam kamar. Sesampainya di kamar, Ivona terkejut melihat sebuah bungkusan rapi di atas meja belajarnya. Dia menghampiri meja belajar, kemudian mengangkat bungkusan tersebut kemudian mengamatinya.
"Tok.., tok.., tok.." tiba-tiba pintu kamar Ivona diketuk dari luar.
Ivona yang merasa jarang mendapatkan tamu berkunjung ke kamarnya, dia bertanya-tanya dalam hati.
"Masuk.., tidak dikunci." setelah menghela nafas sebentar, gadis itu menyilakan tamu di depan kamarnya untuk masuk.
Rio masuk ke dalam kamar, setelah dipersilakan masuk oleh Ivona.
"Apakah kedatanganku saat ini mengganggu adikku?" tanya Rio sambil tersenyum.
"Jika tidak lama sepertinya tidak masalah kak, duduklah! Tapi ingat, aku akan segera untuk berangkat tidur karena besok pagi harus berangkat ke sekolah." jawab Ivona datar.
Rio tersenyum, kemudian dia duduk di kursi yang ada di dalam kamar Ivona. Laki-laki itu mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar.
"Kamar dengan view paling bagus keluar adalah kamar ini. Untungnya adikku yang cantik, yang menempatinya sekarang." tanpa sadar Rio memberi pujian dengan kamar yang ditempati Ivona saat ini.
"Sepertinya malam-malam begini, merupakan hal yang kurang tepat untuk mendatangi kamar seorang anak gadis kak." dengan ekspresi sinis, Ivona sarkasme pada Rio.
"Ha..ha.., ha.., iya maafkan kakak Ivona! Kakak hanya mau memberi tahu, bungkusan yang ada di meja itu tadi dititipkan oleh Alexander pada kakak. Katanya untuk temanmu tidur malam ini..," akhirnya Rio menyampaikan tujuannya mengganggu adiknya malam ini.
__ADS_1
"Ya.., terima kasih." sahut Ivona singkat. Tiba-tiba tidak tahu kenapa, hatinya menjadi sedikit terasa hangat.
"Ternyata Tuan Muda dari Kavindra Group itu memiliki sisi-sisi kehangatan juga. Sudah terlalu lama, dia mendapat julukan sebagai Pengusaha Muda yang paling Cool.., ternyata kehadiran adik kandungku pelan-pelan bisa merubahnya menjadi seorang pria yang hangat." sahut Rio sambil tersenyum kecut. Adik kandungnya Ivona belum pernah secara tulus memberinya sebuah senyuman hangat, tetapi saat bersama dengan Alexander dia melihat senyum adiknya yang cerah.
"Kak Rio.., sepertinya pujian kakak dialamatkan pada Kak Alex.., bukan padaku. Sampaikan sendiri pujian itu untuknya, jangan salah sasaran menyampaikannya padaku." sindir Ivona. Mendengar perkataan itu, Rio tersenyum nyengir sambil garuk-garuk kepalanya.
"Oh iya.., benar juga perkataanmu adikku. Aku akan kembali ke kamarku sekarang, selamat istirahat Ivona adik cantikku." Rio segera berdiri meninggalkan kamar adiknya, tetapi sesampainya di pintu kamar laki-laki muda itu kembali melongokkan kepalanya ke dalam.
"Ivona..., apakah kamu ingat tentang kejadianmu melarikan diri dari rumah sakit jiwa dulu?? Kamu tahu Direktur Rumah Sakit kan yang ternyata papanya Vaya. Kenapa ya, kakak tidak bisa menghilangkan kecurigaan pada laki-laki itu. Jangan-jangan..." ucap Rio tiba-tiba.
Ivona tertegun mendengar kalimat itu, tiba-tiba dia teringat bagaimana perlakuan kejam dari laki-laki tua itu. Dia juga berpikir, kenapa Vaya tidak mengakui terus terang tentang keberadaan papanya itu sampai sekarang, dia malah tetap menganggap Tuan Iswara sebagai papa kandungnya meskipun dia sudah tahu siapa dia sebenarnya.
"Sudah kak Rio.., aku mau tidur." Ivona segera menutup pintu kamarnya, dan mengusir kakaknya untuk segera pergi dari situ.
*************
Pagi harinya di SMA Dharma Nusa
Sesampainya di sekolah, seperti biasa Ivona melihat banyak murid-murid sekolah bergerombol. Mereka terlihat membicarakan sesuatu, dan sedikit terdengar jika mereka membicarakan sebuah lagu baru. Merasa murid-murid itu tidak menjadikannya topik pembicaraan, Ivona tetap melanjutkan langkahnya, dia segera memasuki kelas. Beni teman sekelasnya yang berbadan gemuk menyambutnya dengan senyuman.
"Nih tasmu.., bisa-bisanya kamu sekolah tidak membawa tas." Beni memberikan tas sekolahnya, dan Ivona sangat yakin jika Alexander yang sudah mengantarkan ke sekolah.
__ADS_1
"Terima kasih." sahut Ivona. Dia membuka tas sekolahnya, dan melihat semua buku tulis beserta buku wajib paket semuanya lengkap sudah tersedia di dalam tasnya.
"Kamu ga tanya, siapa yang menitipkan tasmu padaku?" tanya Beni sedikit heran. Dia melihat tanpa berkedip pada gadis itu.
"Tidak perlu Ben.., yang penting aku tidak kena hukuman saja, gara-gara tidak membawa buku ke sekolah." sahut Ivona terlihat cuek. Dia sudah menebak pasti Alexander yang sudah menyiapkan buku-bukunya sesuai jadwal sekolah hari ini, dan pasti dia juga yang sudah mengantarnya ke sekolah.
"Halah dasar..., kakakmu yang kamu suruh aku menemuinya dulu, dia yang menitipkan tas sekolahmu padaku." akhirnya Beni memberi tahu siapa yang menitip tas Ivona padanya.
Tidak berapa lama, Ivona melihat ada nada kedip di ponselnya. Dia melirik Beni sebentar, dan saat tahu jika laki-laki gemuk itu tidak memperhatikannya, dia mengambil ponsel kemudian membukanya.
"Ivona.., aku tunggu di MUSE Bar sekitar jam 16.30 bagaimana?" bunyi chat yang dikirimkan oelh Caroline padanya.
"Kenapa harus di tempat itu Caroline.., tidak bisakah kamu mengirimkan tempat yang jauh lebih baik dari tempat itu? Aku harus menyamar jika kita ketemu denganmu disitu." Ivona membalas chat tersebut. Dia memahami jika orang-orang yang ada di MUSE Bar akan dengan mudah mengenalinya, jika dia masuk ke bar tersebut. Kejadian terakhir dia menghajar Tuan Muda Irawan dengan anak buahnya, dan akhirnya dia dibawa pergi Alexander pasti akan diingat oleh para penjaga bar tersebut. Apalagi kakaknya Tommy, juga sering nongkrong disitu untuk bertemu dengan para koleganya.
"Okay.., tapi nanti malam aku harus menyanyikan lagu baruku di bar itu. Jika mau pindah, bagaimana kalau kita bertemu sambil makan saja. Aku yang akan mentraktirmu, sebagai ucapan rasa terima kasihku." ucap Caroline.
Ivona berpikir, ucapan terima kasih atas apa. Tetapi dia mengabaikan pikirannya itu.
"Baik.., tunggu aku jam 16.30 di rumah makan Madam Lie ya!" Ivona segera mengirimkan persetujuannya untuk menerima ajakan dari Caroline. Setelah memastikan pesan terakhirnya terkirim ke ponsel Caroline, dia segera mematikan ponselnya. Saat dia mengangkat mukanya, ternyata William sudah berada di sampingnya tanpa bicara sepatah katapun. Merasa tidak ada urusan dengannya, Ivona juga mengabaikan keberadaan William itu.
"Bolehkan aku pinjam tugas terakhir yang diberikan guru kelas!" Ivona kaget saat mendengar William mengajaknya bicara. Setelah diam sejenak, Ivona segera mengambil buku catatan, kemudian memberikannya pada laki-laki teman sebangkunya itu.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum melihat gadis itu dengan suka rela memberikan hasil kerjaan padanya. Dengan cepat, William langsung mengambil buku tulis, kemudian menyalin kerjaan Ivona.
********************