Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 253 Gadis Itu Berhak Bebas


__ADS_3

Berhasil menyaksikan putri satu-satunya masih bertahan hidup, Nyonya Carminda menjadi lebih bersemangat. Tetapi dia tidak dapat mengingkari janji dan kontrak yang sudah dia tanda tangani saat akan masuk ke main laboratory. Harapan satu-satunya adalah berupaya agar putrinya Ivona dapat kembali keluar, dan melanjutkan hidup serta masa depannya.


"Aku harus segera menemui Rafi.., hanya laki-laki itu yang dapat menolongku." ucap Nyonya Carminda lirih. Ketika melihat Ivona yang dengan perasaan tenang tertidur lelap di ranjangnya, perlahan perempuan paruh baya itu berdiri. Nyonya Carminda menundukkan kepalanya di pinggir ranjang, kemudian memberikan ciuman lembut di dahi Ivona.


Perlahan Nyonya Carminda mengambil nomor ponselnya, kemudian menekan nomor telpon Dokter Rafi. Panggilan pertama  dan kedua yang dia lakukan untuk memanggil laki-laki itu tidak ada jawaban. Tetapi berpikir untuk kebebasan putri satu-satunya, Nyonya Carminda tidak kehilangan semangat. Perempuan itu terus menekan nomor Dokter Rafi.., dan akhirnya setelah lima kali panggilan masuk, baru mendapat respon dari laki-laki itu.


"Ada apa Carmind.., maaf aku barusan tertidur." dengan suara serak, tetapi seksi..., Dokter Rafi akhirnya menyapa Nyonya Carminda.


"Bisakah kita ketemu malam ini Rafi.., aku ingin berbicara denganmu." dengan hati-hati karena waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, Nyonya Carminda meminta untuk bertemu.


"Okay.., tunggulah Carmind! Aku akan segera mengunjungi kamarmu." mendengar permintaan dari perempuan yang sangat dicintainya, tanpa berpikir Rafi langsung menyanggupi untuk ketemu.


"Aku yang akan ke kamarmu Rafi.., putriku tidur di kamarku. Aku tidak mau, dia mendengar pembicaraan kita." Perempuan paruh baya itu melarang Rafi untuk berkunjung, dia yang akan mendatangi laki-laki itu di kamarnya.


Tanpa menunggu persetujuan Rafi, Nyonya Carminda langsung berdiri. Karena di luar pasti sangat dingin, perempuan paruh baya itu kemudian mengambil outer kemudian mengenakannya. Perlahan perempuan itu berjalan menuju cermin, kemudian menyisir rambut dan mengoleskan lipstik untuk mewarnai bibirnya yang terlihat pucat. Setelah melihat dirinya sudah terlihat pantas untuk bertemu dengan Rafi, Nyonya Carminda perlahan menuju ke arah pintu untuk keluar.

__ADS_1


Perempuan paruh baya itu menengok ke ranjang tempat putrinya tidur. Melihat Ivona masih begitu lelap dalam tidurnya, perlahan perempuan itu segera memutar gagang pintu, dan perlahan keluar. Setelah menutup pintu, dan akan mulai melangkahkan kakinya, Nyonya Carminda dikejutkan oleh kedatangan seorang laki-laki yang berjalan ke arahnya.


"Rafi.., kamu mengejutkanku." dengan terkejut, Nyonya Carminda menyapa laki-laki yang tiba-tiba berdiri di depannya.


Laki-laki itu tersenyum, kemudian meraih tangan perempuan paruh baya itu, dan menggosok-gosokkan dengan telapak tangannya untuk memberi kehangatan. Merasa sudah mulai membuka hatinya untuk laki-laki itu, Nyonya Carminda membiarkannya.


"Jadi bicara di kamarku Carmind?" sambil tersenyum, Dokter Rafi kembali bertanya pada perempuan itu. Tanpa menjawab, Nyonya Carminda menganggukkan kepala menyetujui apa yang ditanyakan laki-laki itu.


Dengan cepat Dokter Rafi langsung merangkul perempuan paruh baya itu, kemudian membawanya menuju kamar. Tanpa kata dan tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Nyonya Carminda dan Dokter Rafi hanya berjalan dalam diam, di tengah malam yang sangat sepi. Untuk memberi kehangatan pada perempuan yang ada disampingnya, sesekali Rafi memberi ciuman di punggung tangannya. Perempuan itu terdiam, seakan menikmati setiap perlakuan lembut yang diberikan oleh laki-laki yang kini berjalan di sampingnya itu.


********


"Carmind.., apakah yang ingin kamu bicarakan padaku? Sepertinya tidak akan mungkin kan, kamu dengan rela menyodorkan tubuhmu padaku malam ini?" dengan suara lirih, Dokter Rafi bertanya pada Nyonya Carminda. Sebagai seorang keturunan dari warga negara Perancis, membuat laki-laki ini berbicara apa adanya.


"Tidak bolehkan sekali dan sebentar saja aku menerima perlakuan kelembutanmu Rafi?" ucap Nyonya Carminda perlahan, dan perkataan itu sangat mengagetkan Dokter Rafi. Tetapi, saat ini memang tidak ada lagi yang harus disembunyikan oleh perempuan itu. Meskipun putrinya Ivona telah mengatakan, jika Frans masih hidup dan ada, dia sudah membuat keputusan. Kasih sayang yang diberikan Dokter Rafi padanya tidak akan dia sia-siakan.

__ADS_1


"Katakan Carmind..., apa yang kau inginkan dariku. Aku bukan tipe laki-laki yang akan menerima imbalan untuk membantumu." tiba-tiba dengan suara tegas, Dokter Rafi langsung bertanya pada Nyonya Carminda. Perempuan paruh baya yang masih terlena dengan perlakuan laki-laki itu, mengarahkan pandangannya ke atas. Sejenak mata mereka bertemu, kemudian dengan dibantu laki-laki itu, Nyonya Carminda memposisikan duduk di atas sofa.


"Rafi.., hanya kamu yang bisa membantuku. Bebaskan putriku Ivona Carminda..!" dengan suara tercekat, Carminda meminta bantuan Rafi. Laki-laki itu memundurkan badannya ke belakang, sejenak mereka kembali terdiam. Bukan resiko yang ditakutkan Rafi untuk membantu Carminda, tetapi memang dia tidak memiliki kuasa untuk keluar dari main laboratory sebelum kontrak mereka berakhir.


"Kamu tahu Carmind bagaimana posisiku di laboratorium ini?? Tanpa kamu mintapun aku akan membantumu, apalagi aku juga mengenal dekat putrimu. Dengan kapabilitasnya, gadis itu bisa sukses di dunia luar, tanpa harus mengorbankan hidupnya disini." Dokter Rafi bersuara dengan perasaan tertekan. Carminda terdiam, sebenarnya dia juga mengetahui bagaimana posisi dan kewenangan Rafi. Tetapi laki-laki itu akan lebih paham dan bagaimana harus bertindak mempengaruhi orang-orang penting di laboratorium itu.


"Tapi aku akan berusaha dengan caraku Carmind.., doakan saja semua akan berhasil. Aku akan bicara dengan Madam Theodora." akhirnya Dokter Rafi menyanggupi untuk melakukan pendekatan pertama. Mendengar laki-laki itu akan mendekati Madam Theodora, Nyonya Carminda merasa tersentak. Perempuan paruh baya itu jelas tahu bagaimana perasaan perempuan itu pada Dokter Rafi. Tetapi karena dari awal hanya Carminda yang ada di hati laki-laki itu, Rafi selalu menolak dan mengabaikan Madam Theodora.


"Rafi.., jangan kamu korbankan dirimu pada Madam Theodora. Aku tahu persis bagaimana perasaan perempuan itu padamu Rafi. Aku tidak mau dan tidak rela.." ucap Carminda dengan suara tercekat.


"Aku akan mencobanya demi untuk membebaskan putrimu Carmind. Aku juga memiliki kedekatan dengan Ivona.., tanpa kamu yang memintapun, jika gadis itu memohon padaku, maka aku akan menolongnya. Percayalah padaku.., aku tidak melakukan hal yang konyol dengan perempuan itu. Sampai kapanpun.., hanya ada kamu di hatiku Carmind.. percayalah!" Rafi meyakinkan Nyonya Carminda.


Perlahan dengan terharu, Carminda memeluk erat tubuh Rafi dan menyandarkan kepalanya di dada laki-laki itu. Dinginnya malam menambah eratnya dua tubuh itu berpadu.


**********

__ADS_1


__ADS_2