
Kelly memandang teman-teman perempuannya dengan mata merah, dan terlihat teman-temannya menganggukkan
kepala. Kelly memang sangat tergila-gila dengan William, dia sangat menyukai laki-laki tukang bully itu. Jadi mendengar jika murid pindahan itu mencoba mendekati kekasih hatinya, Kelly menjadi marah.
"Benarkah apa yang kalian katakan?" Kelly menegaskan pendengarannya.
"Benar kak, apakah kak Kelly melihat William marah, saat tahu di sebelahnya ada murid pindahan itu duduk? Tidak kan? Itu salah satu bukti kak."
"Iya kak, kakak harus segera memberi pelajaran pada gadis itu, biar dia tidak mencari muka dan melakukan tebar pesona di sekolah kita!" beberapa murid perempuan terus mengipasi bara api yang sudah mulai muncul di hati Kelly.
Seluruh murid di kelas memang sudah tahu, jika Kelly menyukai William. Tetapi rasa suka gadis itu tidak pernah dibalas oleh William, karena laki-laki yang diincar Kelly itu menyukai Vaya. Sedangkan Vaya sudah memiliki dan menyukai Roy, sehingga Kelly masih merasa memiliki harapan untuk memiliki William, dan dia tidak pernah khawatir. Tetapi, di luar kelas, Kelly selalu berkata kalau dirinya berhubungan baik dengan Vaya. Saat dia mendekati William, dia akan berbicara jika dia melakukannya demi Vaya.
"Baiklah, mumpung murid pindahan itu sedang berada di luar, aku akan kerjain dia. Dia belum tahu, dengan siapa dia berhadapan di kelas ini." ucap Kelly yang langsung disambut dengan gembira oleh sebagian murid perempuan lainnya.
"Iya kak, hajar murid pindahan itu kak! Aku saja sampai muak melihat tingkahnya dari tadi, kalau kak Kelly melihatnya, ekspresinya saat duduk di samping William. Pokoknya sangat menyebalkan, seperti sedang menarik perhatian dari William."
"Terus bagaimana dengan sikap William padanya?"
"Yah, coba kakak tebak sendiri! William yang suka buat onar dan keributan, seperti speechless dengan murid pindahan itu."
"Sia*an..., berarti memang murid pindahan itu belum pernah mendapat pelajaran. Lihat saja, begitu dia masuk ke kelas lagi, dia akan menyesal sudah berurusan dengan siapa dia."
"Ayo kak, aku akan bantu kak Kelly memberi pelajaran pada murid pindahan itu. Ayo teman-teman, kita persiapkan!"
Para murid perempuan itu berlomba-lomba menyenangkan hati Kelly, karena keluarga Kelly memang salah satu
keluarga terpandang di kota ini. Dia juga terkenal royal, dalam menggunakan uangnya untuk senang-senang. Dia tidak segan-segan mentraktir semua teman-temannya yang memuji dan dekat dengannya.
__ADS_1
"Apa yang perlu aku siapkan kak? Pokoknya kakak harus menghabisi pelakor itu, jangan sampai dia berhasil merebut suami kakak!"
Kelly merasa sangat senang saat mereka berkata William itu suaminya.
"Okay.., bantu aku menyiapkan tinta hitam!" dengan tegas, Kelly meminta bantuan teman-teman perempuan.
"Dimana kita bisa mendapatkannya kak? Masak dari bollpoint?"
"Ke ruang administrasi DODOL..., kalian bisa mencurinya, atau beli di koperasi. Nih uangnya." Kelly langsung mengambil 5 lembar uang ratusan ribu dan meletakkannya di atas meja. Beberapa murid mengambil uang itu dengan cepat, kemudian segera berlari keluar kelas.
**********************
Sesampainya di luar kelas, Ivona melakukan streching di halaman kelas. Dia duduk di bawah pohon, sambil asyik berselancar dengan Ipad nya. Beberapa murid laki-laki dari kelas lain mencoba menggodanya, tetapi sedikitpun Ivona tidak melihatnya. Kehadiran Ivona memang seperti magnet yang banyak menarik perhatian lawan jenis, tetapi
menimbulkan rasa iri bagi murid perempuan lainnya.
"Hai gadis..., siapa namamu? Boleh tidak kita kenalan?" seorang anak laki-laki memberanikan diri untuk berkenalan dengan Ivona.
"Oh My God... ulah siapa ini?" teriak Ivona sambil menunjuk atas mejanya dengan jarinya. Tinta hitam berceceran di atas mejanya, dan bahkan buku pelajaran yang sengaja dia tinggalkan diatasnya rusak terkena noda tinta hitam.
Matanya langsung memerah, jiwa barbar dari kehidupan sebelumnya langsung muncul di wajahnya. Beberapa murid perempuan berlindung di belakang Kelly. Melihat sikap beberapa murid perempuan itu, dengan berani Ivona menghampiri Kelly yang menatapnya sambil senyum-senyum dari atas mejanya.
"Ulah perbuatan kamu bukan?" seru Ivona pada Kelly, dengan nada tinggi.
"Kalau iya, mau apa kamu? Ingat siapa dirimu, kamu hanya seorang murid pindahan dari sekolah kasta bawah!" Kelly langsung berdiri dan menantang Ivona.
"Berarti itu ulahmu? Bersihkan dan ganti semua buku pelajaranku!"
__ADS_1
"Eits.., memang kamu siapa, berani-beraninya memerintah aku? Harusnya aku yang suruh kamu membersihkan
mejaku, jangan ngelunjak kamu murid baru!" Kelly terpancing marah pada Ivona.
Malas bersilat lidah, tangan Ivona tiba-tiba sudah berada di leher Kelly. Dengan sigap, teman-teman Kelly memegang tangan Ivona dan menariknya. Tetapi mereka tidak menyangka, jika tangan kecil Ivona ternyata kuat. Dengan tenaganya, Ivona mengibaskan tangannya sampai teman Kelly hampir terjatuh ke belakang, dan punggungnya mengenai meja yang ada di belakangnya.
"Aduh.., sakit. Kamu jahat Ivona!" seru dua murid perempuan yang hampir terjatuh.
Tetapi sedikitpun Ivona tidak meliriknya, gadis itu tetap memandang muka Kelly dengan sengit. Sebenarnya Kelly sedikit ngeri melihat tatapan kemarahan Ivona, tetapi untuk menjaga kredibilitasnya di kelas, Kelly tetap memberanikan diri konflik dengan Ivona.
"Sekali lagi aku tanya, kamu mau bersihin mejaku tidak?" Ivona terus berjalan lebih mendekat ke arah Kelly.
"Tidak, kamu dengar. Sekali lagi aku jawab... Tidak."
"Huh.." sudut mulut Ivona naik sedikit, dan dengan sinis tangannya dikibaskan, dan tumpukan buku pelajaran Kelly langsung berjatuhan ke lantai.
"Dasar.., jala*g kamu Ivona! Baru satu hari saja kamu ke kelas ini, sudah berani mancing keributan denganku." teriak Kelly kalap.
Ivona bersedekap dan dengan senyum sinis melihat ke arah Kelly, dan Kelly menjadi semakin marah, tetapi tiba-tiba,
"Berisik..., tahu tidak suara kalian terdengar sampai diluar sana?" William tampak marah, dan saat dia masuk kelas melihat Ivona dan Kelly sedang bertengkar.
Tidak ada yang berani menjawab perkataan William, semua langsung terdiam. Kelly kemudian dengan cepat berusaha memaniskan dirinya di hadapan laki-laki itu. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Ivona, dia tetap dengan tampang sebelum William masuk.
"Siapa yang membuat masalah di mejaku?" teriak William yang langsung menjadikan murid yang berada di kelas itu menjadi keder. Tatapan William terlihat marah, saat melihat meja Ivona beserta buku pelajarannya yang ada di atasnya kotor dan rusak terkena tumpahan tinta.
"Ayo jawab! Apakah di kelas ini mendadak semua murid menjadi bisu, tidak dapat berbicara? Siapa pelakunya?" kembali suara William menggelegar.
__ADS_1
Semua murid terkejut dan saling berpandangan, karena biasanya William tidak akan peduli dengan hal seperti ini.
**********************************