Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 267 Aku Menjemputmu


__ADS_3

Setelah menerima petunjuk alamat villa yang disiapkan Ester untuk Ivona di pulau Lombok, tidak mau menunggu lagi, Marcus dengan menggunakan private jet langsung menyusul gadis muda itu disana. Menunggu jadwal terbang sampai dengan tiga puluh menit di bandara, private jet menempuh perjalanan ke bandara Zainuddin Abdul Majid di kota Lombok hanya dengan waktu tidak genap satu jam. Menggunakan koneksi prievilege facility sebagai tenaga ahli kedokteran, Marcus langsung mendapatkan penjemputan  VIP dan langsung diantarkan menuju hotel.


Dalam perjalanan menuju hotel, iseng-iseng Marcus menghidupkan google maps untuk menunjukkan arah menuju villa Ivona. Penunjuk arah menginformasikan hanya membutuhkan waktu perjalanan sekitar tiga puluh menit untuk menuju villa tersebut. Laki-laki itu melihat penunjuk waktu di pergelangan tangannya, dan jarum jam di angka pukul 20.15 menit.


"Belum terlalu malam.., aku bisa langsung menuju villa di perbukitan Sembalun. Hanya membutuhkan waktu perjalanan selama 30 menit untuk menuju kesana." tiba-tiba karena merasa tidak sabar untuk segera bertemu dengan Ester, Marcus berpikiran untuk merubah arah perjalanannya.


"Mas..., putar balik saja ya!! Tidak perlu mengantarkan saya ke hotel di Mataram. Antarkan sekarang ke villa di perbukitan Sembalun!" dari kursi tengah, Marcus mengulurkan secarik kertas, bertuliskan alamat villa di bukit Sembalun pada sopir yang membawanya.


"Serius Tuan..., apakah saat ini Tuan sudah mempersiapkan pakaian hangat?? Cuaca di kawasan perbukitan itu sangat dingin Tuan., bahkan tidak jarang akan turun kabut disana. Saya menyarankan, jika Tuan Marcus belum menyiapkan pakaian hangat, mungkin bisa saya berhentikan sebentar mobil di toko pakaian. Tuan bisa membelinya lebih dulu disana." tidak mau membuat penumpang yang dibawanya kecewa, sopir menawarkan Marcus untuk mencari baju hangat terlebih dulu.


"Kamu atur sajalah mas..., bangunkan aku jika sudah sampai lokasi! Aku mau tidur sebentar, dan jika sampai di toko pakaian, pilihkan jaket agar bisa aku pakai di villa tersebut." Marcus mengeluarkan kartu debit, dan sekaligus menuliskan PIN agar bisa digunakan oleh sopir yang membawanya. Setelah itu, Marcus langsung memejamkan matanya.


Laki-laki muda itu menatap Marcus dari kaca di atasnya dengan penuh tanda tanya, tetapi melihat laki-laki itu sudah memejamkan matanya, dia hanya bisa geleng-geleng kepala. Seperti yang sudah dipesan oleh Marcus, sopir menghentikan mobil di sebuah toko pakaian lokal. Tidak lama kemudian, dengan hati-hati sopir itu meninggalkan Marcus yang sedang tertidur, dan tidak lama kembali dengan menenteng sebuah paper bag. Tanpa berbicara, laki-laki muda itu kembali menginjak pedal gas, dan langsung melajukan mobil ke arah Sembalun.


Karena jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam lebih, jalanan yang mereka lalui terlihat sangat sepi. Untungnya jalanan sudah beraspal dan mulus, sehingga tidak menghambat perjalanan mereka. Seperti tadi yang sudah dikatakan oleh sopir itu pada Marcus, kabut terlihat menghalangi jalan mereka. Laki-laki muda itu, menyalakan fog lamp untuk menghalau kabut, tetapi tetap mengharuskan menempuh perjalanan dengan hati-hati. Terlihat beberapa binatang malam menyeberang jalan, sehingga selain fog lamp, laki-laki muda itu sesekali menggunakan lampu panjang.

__ADS_1


Tidak sesuai yang diperkirakan Marcus, ternyata pada pukul hampir sepuluh malam, mereka baru sampai di tujuan. Untungnya gerbang villa yang dituju belum ditutup oleh penjaga villa, perlahan laki-laki muda langsung membawa mobil dan berhenti di halaman. Tampak dua orang laki-laki separuh baya menghampiri mereka.


********


Marcus membuka matanya, terlihat mobil yang membawanya sudah berhenti di halaman sebuah villa kecil. Laki-laki itu mencari sopir yang membawanya, dan ternyata laki-laki muda itu sedang mengobrol dengan dua orang di depan mobil. Perlahan, Marcus membuka pintu mobil kemudian turun dan menghampiri mereka.


"Tuan sudah bangun..., maafkan saya Tuan! Saya tidak enak mau membangunkan Tuan, jadi saya tinggal turun terlebih dahulu." dengan cepat laki-laki muda itu meminta maaf pada Marcus, dan Marcus menjawab dengan mengangkat tangannya ke atas. Penjaga villa itu berjalan menghampiri Marcus..,


"Jika kamu berdua boleh tahu, untuk apa Tuan malam-malam menuju ke villa ini?? Apakah ada yang akan dicari, jika Tuan akan menyewanya, kali ini villa ini tidak disewakan. Tadi pagi, yang punya datang dari Jakarta." belum ditanya, kedua penjaga itu menjelaskan pada Marcus jika ada tamu datang dari Jakarta tadi pagi. Tanpa memberi tanggapan, Marcus langsung berjalan meninggalkan ketiga orang tersebut.


"Aku calon suaminya Ester.., aku akan menyusulnya ke dalam. Ada kesalah pahaman di antara kami tadi malam, aku datang untuk menyelesaikannya dengan gadis itu." dengan nada tinggi, Marcus menanggapi kedua orang itu.


Mendengar perkataan Marcus.., dua orang itu saling berpandangan.


"Laki-laki itu ternyata calon suaminya Nona Ester.., jika begitu kita harus membiarkannya untuk masuk ke dalam. Ternyata sangat ganteng calon suaminya, yah..., nona Ester cantik juga sih." dua orang itu membiarkan Marcus ke dalam rumah sendirian. Mereka tidak mau kena marah dari mereka, jika melarang laki-laki itu memasuki villa tersebut.

__ADS_1


*********


Di dalam Villa


Ester membaringkan tubuhnya di kursi panjang yang ada di depan ruang tengah sambil melihat televisi. Sejak kedatangannya tadi pagi, perempuan muda itu tidak mau meninggalkan dalam villa. Semua kebutuhannya dicukupi oleh dua orang penjaga, dan satu orang pelayan perempuan yang menempati villa itu, jika tidak ditempati. Pandangan Ester kosong, dia tidak bisa melupakan perbuatannya yang sudah melanggar norma pada laki-laki yang dicintainya.


"Kenapa aku tidak bisa melupakan kejadian tadi malam..? Padahal sebenarnya, Marcus juga tidak akan mengetahui, dengan perempuan mana dia melakukannya. Toh laki-laki itu seperti sedang tidak sadar.." Ester mengusap wajahnya, rambutnya acak-acakan.


Beberapa saat Ester menutup wajahnya.., tetapi tiba-tiba gadis muda itu merasakan sebuah dekapan kehangatan di kedua pundaknya. Perempuan itu merasa seperti hanya mimpi,  dia malah memejamkan matanya. Tetapi tatkala hembusan hangat menerpa belakang telinganya, gadis muda itu terjenggirat kaget.


"Siapa.. ka..., kak Marcus...?? Apakah Ester bermimpi..?" dengan suara tercekat, Ester tidak percaya saat melihat laki-laki yang sejak tadi berada di pikirannya, tiba-tiba memeluk tubuhnya erat. Sebuah ciuman basah diberikan laki-laki itu di pipi Ester, dan mata gadis itu terbelalak.


"Aku datang Ester..., aku menjemputmu." bisik Marcus di telinga gadis itu, air mata mengalir deras di pipi Ester.


***************

__ADS_1


__ADS_2