Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 45 Ivona Tidak Ingin Pulang


__ADS_3

Nyonya Iswara terkejut mendengar apa yang saat ini terjadi di depannya. Dia ternyata telah keliru menyangka jika putrinya melakukan perbuatan yang tidak terpuji, sehingga terjadi kesalah pahaman antara dia terhadap Ivona. Nyonya Iswara kemudian bergeser mendekati putrinya, tetapi Ivona tetap diam mematung.


"Apa hanya karena ada yang bersaksi untuknya, lalu murid perempuan ini bisa dengan enaknya tidak diperiksa??? Ini tidak adil untuk saya." Direktur Hendra Jonathan tidak terima.


"Terus apa mau anda Direktur? Apakah anda sedikitpun tidak menghargai keluarga Iswara?" Thomas langsung menyambar ucapan Direktur Hendra dengan nada tinggi.


"Jika kamu tidak puas dengan apa yang terjadi saat ini, kita bisa lanjutkan urusan ini di luar." lanjut Thomas dengan nada emosi.


Melihat kemarahan Thomas putra Keluarga Iswara, semua yang ada disitu terdiam. Direktur Hendra tidak menyangka jika murid perempuan yang sudah memukul putranya, memiliki hubungan dengan Keluarga Iswara. Dan keluarga itu bukanlah keluarga yang bisa dia singgung seenaknya.


"Bukan seperti itu maksud saya Tuan Thomas, lupakan semuanya! Mari pak Polisi..., aku akan ikut dengan anda datang ke kantor polisi." akhirnya Direktur Hendra Jonathan mengalah.


Thomas tersenyum sinis melihat Direktur Hendra melangkahkan kaki keluar dari ruangan Kepala Sekolah. Sebelum pergi Direktur Hendra melihat dengan sengit, ke arah Ivona. Tetapi darah seperti mengalir ke ubun-ubunya, karena melihat murid perempuan itu seperti mengejeknya. Ivona menyunggingkan senyum dan melambaikan tangan ke arahnya.


Setelah semua orang pergi, Nyonya Iswara dan Thomas berjalan mendekati Ivona yang mamsih berdiri di  samping Beni.


"Ivona.., kakak kembali dulu ya. Ada urusan yang masih harus kakak selesaikan. Ingat, jika ada apa-apa, langsung hubungi kakak!" Thomas berpamitan pada Ivona.


"Siap.., tapi sebenarnya tanpa bantuan kakakpun, aku dapat menyelesaikan urusanku sendiri." jawab Ivona tanpa tersenyum.


"Iya kakak percaya." sahut Thomas sambil tersenyum dan mengusap kepala Ivona, kemudian melihat ke arah Nyonya Iswara.


"Ma.., Thomas kembali bekerja dulu." Thomas berpamitan pada Nyonya Iswara.


"Ya.., hati-hati di jalan!"


"Ivona..., kamu nanti pulang ke rumah kan nak??" tanya Nyonya Iswara pada Ivona dengan lembut.


Ivona melihat mamanya dengan tatapan datar, dan dengan nada bicara yang malas, dia menjawab pertanyaan Nyonya Iswara.

__ADS_1


"Ivona tidak ingin pulang dalam waktu dekat ini."


******


"Ivona tunggu aku...!" teriak Beni yang melihat Ivona keluar bersama dengan Nyonya Iswara.


Ivona hanya menoleh sebentar, tetapi tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan Beni sendiri di ruang kepala sekolah. Beni segera merapikan seragamnya, setelah beberapa saat dia berlari mengejar untuk mengikuti Ivona dari belakang.


"Jangan ikuti aku Ben!!! Kembalilah dulu ke kelas, nanti aku akan menyusulmu!" teriak Ivona melarang Beni untuk mengikutinya.


"Tidak.., aku akan ikut bersamamu Ivona. Aku lagi malas, tidak mau berada di kelas." seru Beni, tetapi Ivona tidak mau menunggunya. Tetapi pria gemuk itu tetap mengikuti langkah Ivona dengan berlari kecil.


Melihat pria gemuk itu terus mengikutinya, Ivona langsung mempercepat langkahnya dan sampailah dia di dinding pembatas sekolah yang berada di samping gedung sekolah. Tempat itu tidak terjangkau kamera CCTV, sehingga tanpa berpikir panjang Ivona langsung melompati dinding setinggi 2 meter, pergi dari sekolah.


"Wow..., lincah sekali kamu Ivona.., aku akan mengikutimu." teriak Beni.


Dia menirukan apa yang telah dilakukan Ivona, tetapi malah tubuhnya yang gemuk membentur dinding. Dia berusaha memanjat dinding, tetapi lagi-lagi dia tidak kuat mengangkat tubuhnya. Berkali-kali dia mencoba untuk melompati dinding, tetapi dia tetap tidak berhasil. Akhirnya dia putus asa, dan dengan gontai berjalan kembali menuju ke kelas.


*************


"Sudah lihat belum di website sekolah ada video bullying yang dilakukan Yoshua?" tanya seorang murid pada temannya.


"Iya aku sudah melihatnya, biarkan saja! Salah sendiri mentang-mentang anak Direktur, seenaknya suka menindas orang lain. Apa dia pikir dengan memukul orang seenaknya, orang tersebut tidak merasakan sakit." murid lainnya menimpali.


"Kira-kira siapa yang ya, yang berani memosting video itu ke website sekolah?? Banyak lagi tidak cuma satu, ada 65 video."


"Berapa, 65 video? Busyet..., banyak kali. Berani benar pengunggahnya, apa dia tidak takut jika nanti ketahuan. Apakah dia tidak tahu apa pekerjaan dari orang tua Yoshua?"


"Pasti pengunggahnya murid dari sekolah ini juga. Bisa jadi yang pernah menjadi korban bully annya atau yang punya dendam terhadap Yoshua. Kira-kira siapa ya??"

__ADS_1


"Jika itu Roy.., kira-kira mungkin tidak?" tiba-tiba salah seorang murid menyebut Roy.


"Jangan keras-keras, jika Roy mendengarnya, bisa habis kita nanti."


Pergunjingan diantara murid-murid itu terus berlangsung. Beni tiba-tiba teringat akan raut wajah murid perempuan yang tadi menyelamatkannya, Ivona.


"Apa mungkin dia yang melakukannya ya??" pikir Beni dalam pikirannya sendiri. Tetapi dia tetap diam tidak ikut mengomentari pembicaraan teman-temannya.


***************


Setelah sampai di luar sekolah, Ivona berjalan mencari tempat duduk yang tidak jauh dari sekolahnya. Dia mendatangi warung bakso yang berada di samping sekolah, dan langsung memesan satu mangkok bakso dan satu gelas es teh. Dia kemudian masuk ke marketplace penyedia layanan belanja online, dan langsung memesan dua botol obat untuk luka memar.


"Ini mbak pesanannya, selamat menikmati!" penjual mengantarkan pesanan Ivona.


"Terima kasih." sahut Ivona cepat.


Dengan cepat Ivona memakan baksonya sambil mengambil Ipad, kemudian memainkannya. Setelah utak utik sebentar, kemudian dia melihat pencarian teratas. Dia tersenyum, karena pencarian teratas dan website postingan sekolah sudah kembali normal.


"Good job...," bisik Ivona sambil tersenyum.


Tidak lama delivery order datang mengantarkan pesanannya, dan tiba-tiba dia mendengar bel berbunyi tanda kelas dimulai. Dia meninggalkan uang lembaran 100 ribu di atas meja.


"Pak.., ini uang bakso dan es teh ya. Kembaliannya ambil saja." ucap Ivona sambil berlari dan kembali meloncat pagar untuk kembali ke sekolah.


Ivona mengatur nafas, dan dengan santai berjalan memasuki kelas. Matanya langsung tertuju pada Beni, kemudian dia tersenyum pada pria gemuk itu yang sudah duduk di kursinya.


"Ini obat untuk luka memarmu. Oleskan tipis-tipis, aku yakin besok pagi luka-lukamu sudah akan kering!" Ivona meletakkan dua botol obat yang tadi baru dia beli secara online diatas meja.


"Ini untukku Ivona?? Terima kasih." dengan perasaan tersentuh, Beni menerima dua botol obat itu kemudian menyimpannya dalam tas.

__ADS_1


Ivona tersenyum dan menganggukkan kepala, kemudian segera menuju ke tempat duduknya. William melihat intensitas hubungan Ivona  dan Beni yang sudah semakin akrab merasa posisinya terancam.


***************


__ADS_2