
Ivona menoleh ke arah Aldo.., dia merasa bingung dengan dirinya sendiri. Tanpa bicara apapun, saat ini dia mengikuti laki-laki muda itu tanpa protes. Aldo tersenyum dan kembali fokus pada setir kemudinya. Mobil itu membelah keramaian jalan, dan tiba-tiba...
"Drrttt..., drttt..., drtttt..." tiba-tiba ponsel Aldo bergetar, laki-laki itu melihat Donny melakukan panggilan masuk. Aldo langsung memasang hansfree dan menerima panggilan masuk tersebut.
"Amankan barang-barang penting, dan simpan di kamar villa yang sedang kita bangun!" Aldo langsung memberi komando pada Donny.
"Tampung orang-orang yang berhasil diselamatkan ke apartemen yang baru selesai kita bangun. Bebaskan biaya untuk satu tahun awal.., sambil menunggu mereka bisa bertahan. Nanti akan kita pikirkan lagi bagaimana menolong mereka." suara tegas Aldo kembali terdengar. Ivona melirik ke arah Aldo, tetapi merasa jika itu bukan urusannya, akhirnya gadis itu berusaha diam.
"Okay.., sekalian kamu minta D & F butik untuk mengirim orang ke rumah. Sekalian minta untuk membawa baju-baju terbaru mereka." setelah bicara, Aldo mengakhiri panggilan telpon secara sepihak. Ivona hanya diam, tidak memberi komentar apapun atas percakapan yang dilakukan Aldo pada seseorang.
Aldo kembali menekan pedal gas, mereka berkendara dalam diam. Ivona juga tidak memiliki inisiatif untuk bicara.., dia hanya berpikir dalam benaknya, siapa yang mengirim dua orang untuk menangkapnya barusan. Rasa penasarannya ditambah, dengan laki-laki yang saat ini berada di sampingnya mengatakan jika akan membawanya untuk melindungi keselamatannya. Tiba-tiba.., lagu Once berbunyi dari ponsel Ivona. Melihat Bibi Sonya yang tidak biasanya memanggil, Ivona langsung menerima panggilan masuk tersebut.
"Ada apa Bibi...?" Ivona langsung menyapa Bibi Sonya, tetapi terdengar suara ribut dan tangisan perempuan tua itu.
"Bibi..., apa yang terjadi?? Kenapa Bibi Sonya menangis.., apakah ada yang salah?" kepanikan langsung melanda Ivona.., saat mendengar perempuan tua itu menangis.
"Rusun Cempaka terbakar Non..., hiks..., hiks..., tetapi untungnya bibi dan semua tetangga rusun tidak ada yang menjadi korban. Kami sedang diarahkan seseorang untuk mengikuti mereka.., dan katanya untuk sementara kita akan ditampung. Non.., selamat tinggal.., bibi tidak bisa menunggu Non Ivona..." dengan suara bercampur tangisan, Ivona mendengar perkataan yang disampaikan Bibi Sonya. Tanpa gadis itu sadari, air mata mulai menetes dari sudut matanya.
__ADS_1
"Kenapa bisa terjadi Bi.., hiks..., Ivona akan segera menuju rusun Bi. Bagaimana dengan barang-barang Ivona Bi.." sambil menangis Ivona bertanya pada Bibi Sonya. Tetapi perempuan tua itu tiba-tiba mematikan pangggilan telpon secara sepihak. Menghadapi itu semua, Ivona tidak memiliki pilihan lain..., dia harus minta tolong pada laki-laki yang saat ini sedang bersamanya.
"Tuan Muda.., apakah Ivona bisa minta tolong pada Tuan..?" dengan mata berkaca-kaca, Ivona memberanikan diri minta tolong pada Aldo. Laki-laki itu menoleh ke arah Ivona.., senyuman muncul di bibirnya..
"Panggil aku dengan panggilan Kak Al.., aku akan menolongmu!" bingung untuk menyebutkan jika dia adalah Alexander, Aldo meminta Ivona memanggilnya dengan panggilan Al. Gadis muda itu menganggukkan kepala..
"Tolong Ivona Kak Al.., antarkan Ivona ke rusun Cempaka. Ivona baru saja mendapatkan informasi, jika rusun tempat tinggalku terbakar.." dengan suara pelan bercampur tangis, Ivona meminta Aldo untuk mengantarkannya kembali ke rusun. Aldo menghela nafas.., kemudian..
"Apa yang ingin kamu lihat, asistenku baru saja melaporkan.., jika bangunan rusun sudah ambruk. Tetapi kamu tidak perlu mengkhawatirkan orang-orang yang tinggal disitu, orang-orangku sudah menyelamatkan mereka semua. Aku tahu..., jika orang-orang yang tinggal bersamamu di rusun sangar berarti bagimu." ucap Aldo pelan.
************
Di pinggir jalan, Ivona tidak dapat menahan air matanya. Petugas pemadam kebakaran masih berada disitu membersihkan puing-puing bangunan yang terbakar. Ivona mengedarkan pandangannya ke sekitar, tetapi benar yang disampaikan oleh laki-laki muda yang bersamanya itu, dia tidak melihat satupun tetangga rusunnya berada disitu. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Bibi Sonya, tetapi ponsel perempuan tua itu sedang tidak aktif. Tiba-tiba sebuah pelukan hangat dirasakan Ivona dari belakang, tetapi gadis itu tidak bisa mengetahui kelanjutannya. Gadis muda itu tiba-tiba terjatuh pingsan di pelukan Aldo.
"Bukakan mobilku cepat...!" Aldo berteriak memanggil anak buahnya yang masih banyak yang berada disitu.
"Siap Tuan.." anak buah Aldo berlari membukakan pintu mobil laki-laki muda itu. Setelah memasukkan Ivona dengan hati-hati, Aldo kemudian memerintahkan salah satu anak buahnya untuk membawakan mobilnya. Dengan penuh rasa khawatir, Aldo memangku kepala Ivona di atas pangkuannya.
__ADS_1
"Beritahu Donny.., untuk memberi tahu Dokter Candra ke mansion ku!" Aldo memerintah anak buah yang membawakan mobilnya, dan segera mobil segera berjalan meninggalkan lokasi kebakaran. Aldo terlihat sangat khawatir, tangannya memeluk erat tubuh Ivona yang tidur di pangkuannya.
**************
Sesampainya di mansion, Dokter Chandra dan orang-orang dari D & F Boutique sudah menunggu di ruang tamu. Laki-laki itu tersenyum melihat kepanikan dan kekhawatiran yang jelas terlihat di wajah Aldo. Saat ini Aldo sedang menggendong Ivona dengan bridal style dan membawanya sambil berlari ke arah kamar tidur laki-laki itu sendiri. Chandra tersenyum, kemudian mengikuti Aldo di belakangnya.
"Periksa gadisku..., pastikan jangan sering memegang bagian-bagian tubuhnya!" dengan nada penuh ancaman, Aldo memberi pesan pada Dokter Chandra. Sudah memahami dan mengetahui gaya Aldo, Dokter Chandra tidak menjawab, dia hanya mengangkat tangan ke atas memberi kode dengan melingkarkan ibu jari dan telunjuknya. Setelah beberapa saat...,
"Tenangkan dirimu Al..., gadis ini hanya shock saja. Tidak ada indikasi penyakit serius pada dirinya.., minumkan teh manis panas saja setelah siuman untuk menenangkannya." setelah memeriksa kesehatan Ivona dengan hati-hati, Dokter Chandra mengajak bicara Aldo. Wajah laki-laki itu sudah tidak bisa diajak bercanda..
"Jangan membohongiku Chandr..., aku bisa mencabut ijin praktikmu jika kamu berani berbohong padaku." dengan pandangan menakutkan, Aldo berbicara pada Chandra. Laki-laki itu tidak mau kehilangan Ivona untuk kedua kalinya. Terlalu menyakitkan..
"Siapa yang di kota ini berani bermain-main denganmu Al. Yang aku katakan benar.., sepertinya gadis ini pernah mengalami vegetatif ya.. Ada kejadian yang seharusnya belum bisa diterima oleh akal gadis ini.., tetapi sepertinya kita tidak bisa mengendalikan takdir di tangan kita. Ada kejadian apa yang menjadi trigger gadis ini, sampai dia mengalami pingsan?" Chandra bertanya dengan serius. Laki-laki itu melihat pada Aldo yang masih terus memandangi Ivona yang tampat tertidur tenang di atas ranjangnya.
"Aku akan merawatnya sendiri Chandra.., katakan padaku saja. Obat atau perlakuan apa yang harus aku berikan jika gadis itu sadar kembali." tidak mau menceritakan keadaan Ivona yang sebenarnya, Aldo mengatakan pada dokter jika dia akan merawat sendiri gadis itu.
************
__ADS_1