
Sekujur tubuh Jonas merasa gemetar, baru kali ini dia betul-betul merasa ketakutan. Ketiga anak buahnya tidak berani menolong Tuan muda mereka. Tanpa sedikitpun rasa kasihan, Alexander memandang mereka dengan tatapan mematikan.
"Mau lagi??? Api itu panas Tuan Muda Irawan.., itu baru di pundakmu yang tertutup kain. Tidakkah kamu berpikir bagaimana rasanya, jika aku menyalakan lagi rokok, dan menyundutnya di pipimu." tanya Alexander dengan sarkasme.
"Tidak Alex.., aku benar-benar kapok hari ini. Aku berjanji dan bersumpah padamu Alex, ke depan kami akan lebih hati-hati. Aku pastikan tidak akan terjadi kesalah paham lagi!"
Akhirnya karena Alexander khawatir jika Ivona ketakutan mendengar pekik teriakan Jonas, Alexander melepaskan Jonas.
"Ingat Irawan.., sekali lagi aku mendengar kamu membuat ulah padaku. Aku tidak akan segan-segan mematahkan kakimu."
"Baik Alex.., terima kasih atas belas kasihanmu pada kami."
Tanpa memandang mereka lagi, Alexander segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
**********
Di ruang privat yang terletak di sebelah ruang privat yang digunakan Alexander menekan Jonas Irawan.
Ivona terlihat dengan malas-malasan duduk menyandarkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan tersebut. Beberapa waitress bar, mengantarkan makanan dan buah-buahan serta minuman susu untuk Ivona. Melihat minuman yang sama sekali tidak menarik seleranya, Ivona hanya menatapnya dingin.
"Apa dipikirnya aku ini masih BALITA apa, disuruh minum susu." gumam Ivona jengkel.
Melihat gadis itu bergumam sendiri merasa tidak puas, pengawal Alexander berjalan menghampirinya. Dengan tatapan dingin, Ivona melihat ke arah pengawal itu.
"Non Ivona.., tolong menunggu Tuan Alexander dulu ya! Sebentar lagi, urusannya pasti sudah selesai." melihat tatapan dingin gadis itu, beberapa pengawal meminta Ivona menunggu Alexander.
"Jangan marah pada kami Non, kami disini karena perintah dari Tuan Alex untuk menjaga Nona. Dan mohon maaf, Non Ivona tidak boleh pergi kemana-mana sampai Tuan Alex sampai ke ruang ini lagi!" lanjut pengawal itu lagi.
"Okay.., okay.., aku tidak akan pergi dari sini. Tutup mulut kalian, berisik tahu!" seru Ivona sambil melihat ke arah pengawal itu.
Gadis itu terdiam tidak melakukan apapun, dia tetap duduk dan melihat ke sekeliling dengan tatapan datar. Tiba-tiba pintu private room terbuka, dan wajah Ivona menjadi cerah. Di pintu masuk, Alexander tersenyum manis pada gadis itu. Perlahan Alexander berjalan mendekat dan duduk tepat di samping gadis itu.
__ADS_1
"Keluar!" dengan ucapan datar, Alexander memerintahkan para pengawal segera keluar dari ruangan itu.
Tanpa menunggu perintah dua kali, dua orang pengawal yang sejak tadi mengawasi Ivona di private room tersebut, bergegas keluar dari ruangan.
"Kenapa kamu tidak minum atau makan sesuatu disini?" tanya Alex lembut, sambil tangannya mengambil satu butir buah anggur dan memasukkan ke mulutnya.
"Malas, aku ga lapar." sahut Ivona cepat.
Alexander tersenyum, kemudian dia melihat ke arah gadis itu.
"Kak.., aku akan mengembalikan utangku pada kakak. Habis berapa .......?" belum selesai gadis itu membicarakan masalah utangnya, Alexander sudah memotongnya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Sekarang kamu harus segera keluar dari bar ini! Apa kamu pikir, aman bagi seorang gadis berada di dalam bar ini sendirian?"
"Tapi bagaimana dengan utangku kak?"
"Utang??? Sudah, ayo sekarang ikuti aku!" Alexander segera berdiri dan berjalan keluar dari private room. Melihat Ivona belum bergerak, laki-laki itu berhenti sejenak, kemudian dengan wajahnya memberi isyarat agar Ivona mengikutinya. Dengan muka kesal, Ivona langsung berdiri dan berjalan mengikuti Alexander keluar dari private room.
*********
Setelah mereka berada di lobby, sebuah mobil limosin berhenti di depan mereka. Alexander langsung membuka pintu mobil dan meminta Ivona untuk segera memasuki mobil.
"Masuklah dulu.., nanti kamu kena air hujan!" dengan lembut, Alexander berbicara pada Ivona.
Ivona sekilas melihat pada Alexander, tetapi laki-laki itu hanya tersenyum dan mengisyaratkan dengan matanya agar Ivona segera memasuki mobil. Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil di bagian tengah, dan Alexander segera memutari mobil sambil dipayungi oleh sopir yang menjemputnya, masuk dan duduk di samping Ivona.
"Langsung ke rumah pak!" Alexander memerintah sopirnya untuk langsung menuju rumah.
"Baik Tuan." sopir menjawab sambil menjalankan mobil keluar dari halaman parkir MUSE Bar.
"Capai?" Alexander bertanya pada Ivona. Laki-laki itu melihat mata Ivona memerah, seperti mengantuk karena kurang tidur. Pada kehidupan sebelumnya Ivona sering mengalami insomnia, dan dokter mengatakan jika kapasitas yang diterima otaknya terlalu besar, yang mungkin bisa melukai pusat otaknya. Jika terus seperti ini, dia tidak akan berusia panjang. Namun Ivona merasa hidup sampai berusia 40 hingga 50 tahun juga sudah cukup.
__ADS_1
"Sedikit. Kakak akan membawaku kemana?" tanya Ivona. Gadis itu duduk sambill memicingkan mata indahnya, dia merasa ada yang aneh.
"Ke rumahku. Apa kamu keberatan?" Alexander balik bertanya pada gadis itu.
"Daripada aku balik ke rumah keluarga Iswara, lebih baik aku ikut pulang Alexander. Sepertinya laki-laki ini orang yang baik, dari awal dia menolongku, dia tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak pantas, dan aku yakin tidak akan merepotkan" Ivona berpikir sendiri, kemudian sambil tersenyum..,
"Okay.., aku akan mengikuti. Jangan khawatir.., aku sudah punya uang. Selain aku akan membayar kembali utang-utangku, aku juga akan membayar sewa rumah." Ivona berkata pada Alex, tetapi laki-laki itu seperti tidak mau mendengarkan perkataan Ivona.
Alexander tersenyum, dan melihat keluar mobil. Ternyata jalanan macet, dan perjalanan menuju ke rumah menjadi sedikit tersendat.
"Maaf jalanan macet Tuan, jadi sampai rumah sedikit terlambat." ucap sopir.
Alexander tidak menanggapi perkataan sopir. Dia menoleh pada gadis itu..
"Jalanan macet.., tidurlah dulu sebentar, masih lama kita akan sampai rumah!" Alexander meminta Ivona untuk tidur dulu.
Ivona tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Belum sampai Ivona memejamkan matanya, ..
"Nana.." laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan Nana, dan sampai saat ini bahkan dari kehidupan sebelumnya belum ada orang yang memanggilnya dengan sebutan itu. Dengan jantung berdegup kencang, Ivona menoleh ke laki-laki tersebut.
"Tidurlah disini, letakkan kepalamu di pundakku. Gunakan sebagai bantal!" Alexander menepuk pundaknya.
Ivona tersenyum, kemudian tanpa ada pengulangan dari Alexander, gadis itu menggunakan pundak laki-laki itu sebagai bantal. Dia berniat untuk berpura-pura tidur, tetapi hidungnya merespon aroma maskulin yang menguar dari tubuh Alexander. Ivona merasa nyaman dengan aroma tubuh laki-laki itu, dan tanpa sadar Ivona malah tertidur pulas.
"Gadis ini sudah tidur, rupanya dia merasa kecapaian." gumam Alexander pelan, sambil membetulkan posisi tubuh gadis itu di pundaknya.
Alexander mengambil ponselnya, dia berniat memberi tahu pada Tommy jika Ivona sudah bersamanya.
"Tommy..., adikmu sudah aman bersamaku. Aku akan membawanya pulang ke rumahku." bunyi chat yang dikirimkan Alexander pada Tommy kakak Ivona.
Setelah memastikan pesan terkirim, Alexander langsung meletakkan ponselnya secara sembarangan.
__ADS_1
*****************************