Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 115 Kejutan


__ADS_3

Saat istirahat sekolah


"Mau keluar ke kantin, jika ya, ayo sama-sama aku!" Ivona sedikit kaget,mengetahui tiba-tiba William mengajaknya keluar dari kantin secara bersama-sama. Begitu juga murid-murid lain yang ada di kelas, karena William berbicara sedikit keras semua melihat dengan penuh tanda tanya. Terlebih Kelly, mulutnya sampai ternganga melihatnya. Seumur-umur dia sekolah disitu, belum pernah sekalipun dia maupun murid-murid perempuan yang lain mendapatkan tawaran dari William. Tetapi kasus terakhir yang membuat Yoshua Jonathan mendapatkan panggilan dari pihak kepolisian membuat Kelly berpikir dua kali untuk menyinggung Ivona.


"Aku lagi agak malas keluar, sorry." jawab Ivona cepat. Dia lagi malas berurusan dengan murid-murid lain yang belum bisa menerima kehadirannya di kelas. Mendengar jawaban Ivona, William hanya melihatnya sekilas, dia langsung pergi meninggalkan gadis itu.


"Ivona.., apakah kamu tidak lapar jika kamu hanya berada di kelas saja?" Beni menghampiri gadis itu di bangkunya, dia bertanya.


"Untuk saat ini belum Ben.., aku mau mengerjakan yang lain dulu. Tapi, jika kamu mau ke kantin.., mau deh jika aku dibelikan sosis bakar. Terus bawain kesini, sama es lemon tea..!" ucap Ivona sambil tersenyum. Dia berencana akan membuka Ipad nya, karena sejak dari rumah sakit Ivona belum mengecek email. Dia terlalu sibuk mengurusi kakeknya.


"Okay deh.., aku tinggal dulu." Beni dengan badannya yang besar, berjalan meninggalkan gadis itu sendiri.'


Merasa sudah tidak ada lagi murid-murid di kelas, Ivona mengambil Ipad, kemudian langsung melakukan pengecekan email. Seperti yang dia duga, Marcus mengirimnya email.


"Aku dan timku disini mengharap kamu segera datang ke negaraku. Konsep peralatan medis yang kamu rancang, sudah dibuat prothotype nya dan akan dilakukan tahap uji coba. Kita butuh advice langsung dari konseptornya, pada saat uji coba tersebut." membaca email yang dituliskan Marcus Ivona tersenyum.


"Satu persatu urusan Ivona sudah aku selesaikan, kakek juga sudah proses mengeluarkan Vaya dari ahlu waris keluarga. Akan aku pastikan semua sudah berjalan sebagaimana mestinya, aku akan berangkat ke luar negeri." Ivona berbicara pada dirinya sendiri. Beban terberat dari kesembuhan kakek dan mengembalikan posisi Ivona pada keluarga Iswara sudah sebagian dia selesaikan. Hanya Nyonya dan Tuan Iswara belum bisa menggantikan posisi Vaya dengan posisi Ivona, yang masih menjadi tugas terberatnya.


"To Marcus...


Secepatnya aku akan urus kepindahanku ke negaramu. Masih ada sedikit masalah yang masih harus aku selesaikan disini.

__ADS_1


Ivona"


Setelah memastikan emailnya terkirim, Ivona tanpa sadar melihat kiriman email masuk untuknya. Dia klik, ternyata surat pemberi tahuan hasil Battle mata pelajaran Fisika sudah finish, dan ternyata dia berhasil mendapatkan peringkat pertama. Melihat hasil tersebut, tidak membuatnya bangga sama sekali. Dia malah tersenyum sinis, dia sudah terlalu muak dengan hasil tersebut. Pada masa lalunya, setiap ada event kejuaraan atau kompetisi selalu dapat dia menangkan dengan mudah. Tetapi hal tersebut tidak dapat mendatangkan kebahagiaan baginya, dia seperti kehilangan ruhnya karena dia tidak dapat tampil menunjukkan siapa dirinya.


"Nih pesananmu.." Beni meletakkan packing tempat makanan dan satu gelas plastik minuman lemon tea di atas mejanya. Gadis itu tersenyum, langsung mengambil gelas dan menyesap beberapa teguk menggunakan sedotan. Dia kemudian melakukan log out dan menutup Ipad nya, dia ingin menikmati sisa-sisa harinya di negara ini dengan kehidupan wajar layaknya anak muda jaman sekarang.


************


Selesai pelajaran hari ini, tanpa menunggu apapun, Ivona langsung menyambar tas sekolahnya. Karena dia memiliki urusan untuk bertemu dengan Caroline.., dia berpikir dua kali jika keluar lewat gerbang sekolah. Ivona khawatir Alexander atau kakak-kakaknya sudah berada di luar gerbang untuk menjemputnya. Dia langsung berjalan cepat menuju samping sekolah..


"Ivona.., tunggu aku!" gadis itu berhenti sebentar, dia melihat Beni berusaha mengejarnya dari belakang.


"Kembalilan Ben.., jangan ikuti aku! Aku lagi ada urusan." teriak Ivona meminta Beni kembali. Dia tidak menunggu Beni, tetapi langsung menuju ke tembok samping. Dengan dua kali loncatan parkur, Ivona sudah meloncat dan berada di balik tembok sekolah.


Melihat tampilan Alexander yang arogan, Beni berjalan sambil menyelinap. Dia malas berhadapan langsung dengan laki-laki muda itu.


"Hei.., mau kemana kamu?" tiba-tiba Alexander melihat Beni, dia kemudian mengajaknya bicara.


"Hai.. kak.., jemput Ivona ya?" dengan muka sedikit pias, Beni membalas sapaan Alexander. Dia berjalan menghampiri laki-laki muda itu.


"Biasanya kamu selalu keluar sekolah bersama dengan Ivona. Dimana gadis itu sekarang, masih di dalam kelas atau sedang di kantor guru?" Alexander langsung menginterogasi Beni.

__ADS_1


"Ehmm.., gimana ya?" dengan ekspresi bingung, Beni hanya garuk-garuk kepala.


"Gimana apanya, kamu tahu dimana Ivona sekarang?" kembali CEO Kavindra Group mengulang kembali pertanyaannya.


"Ivona.., Ivona.. sudah keluar dari tadi." jawab Beni terbata-bata sambil menundukkan kepala. Dia tidak berani menatap Alexander dengan tatapan mata yang seolah menelanjanginya.


"Aku bertanya padamu. Tidak mungkin gadis itu sudah keluar dari sekolah, kecuali dia membolos dari tadi siang. Sebelum bel sekolah berbunyi, aku sudah menunggu disini." ucap Alexander.


"Dia tidak membolos, dia mengikuti pelajaran sekolah dari awal sampai akhir. Swear..." Beni mengangkat dua jari membentuk huruf V.


"Terus sekarang dia dimana?" sahut Alexander. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan gadis itu. Sejak kejadian malam itu di The Riltz Carlton Hotel, Ivona selalu menghindar jika ketemu dengannya. Bahkan gadis itu harus menginap kembali di rumah Keluarga Iswara, belum pulang kembali ke rumah bersamanya.


"Ivona keluar sekolah dengan melompat dari tembok samping sekolah." akhirnya Beni menyampaikan apa yang dia lihat.


"*What the f*uck?? Apakah saat ini kamu sedang berbohong padaku?" Alexander bersuara keras pada Beni.


Laki-laki bertubuh gemuk itu menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak berbohong. Sudah dua kali aku melihat Ivona dengan mudah melompati tembok samping sekolah, seperti adegan parkour. Aku pernah ingin menirunya, tapi aku tidak bisa." sahut Beni sambil tertunduk malu.


Alexander terdiam, dia melangkah sambil berpikir menuju mobil meninggalkan Beni. Melihat kakaknya Ivona (versi Beni) berjalan menuju mobil, Beni langsung bergegas meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Kejutan apa lagi yang kamu simpan dariku gadis.., kamu semakin menarik." ucap Alexander lirih, dari sudut mulut atasnya terangkat sedikit ke atas.


*****************


__ADS_2