Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 91 Kakak Kandung


__ADS_3

Murid-murid yang masih berada di SMA Dharma Nusa berkasak kusuk membicarakan tentang Vaya dan Ivona. Mereka yang pada awalnya mencemooh Ivona, ketika melihat bagaimana perlakuan kedua kakak Vaya bersikap baik dan mencari orang yang selalu mereka hujat, menjadikan mereka bertanya-tanya. Dengan melihat komunikasi yang ada di depan mata, mereka membuat pembicaraan sendiri.


"Kenapa Kak Tommy dan kak Thomas berubah sikap dengan Vaya? Biasanya mereka selalu berebut untuk menjemput bahkan memuaskan Vaya, tetapi kenapa kali ini mereka berbeda. Mereka sepertinya datang ke sekolah ini untuk Ivona bukan Vaya." seorang murid berbicara pada murid lainnya.


"Iya juga ya, jadi aneh kelihatannya. Melihat sikap keduanya, sepertinya Vaya itu bukan saudara kandung mereka. Memangnya ada seorang kakak kandung bersikap seperti itu, menolak adiknya sendiri." murid lainnya ikut menimpali.


"Atau jangan-jangan Vaya itu bukan putri kandung dari keluarga Iswara, dan yang sebenarnya putri kandungnya adalah Ivona."


"Hush.., pelankan suaramu! Bisa celaka jika omonganmu itu sampai di ketahui Vaya. Tapi jujur sih, aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu."


Murid-murid yang masih berada di lokasi kejadian, terus membicarakan tentang status Vaya di keluarga Iswara. Mereka yang semua semula sangat getol mendukung Vaya, kali ini dia mulai meragukan status Vaya dalam keluarganya.


 


*************


"Kak Tommy..., ini benarkah untuk Ivona semuanya hadiah ini? Apakah hadiah yang aku dapatkan, sama dengan yang didapatkan Vaya?" Ivona mengira Tommy juga memberikan hadiah yang sama untuk Vaya. Jika hadiah yang diberikan oleh Tommy, sama dengan yang diterima Vaya, dia berniat untuk tidak mau menerimanya.


Tommy tersenyum, dia menepuk pundak adik kandungnya itu. Dia merasa senang, melihat gadis itu mau menerima hadiah yang dia belikan dari luar negeri.


"Tidak mungkin Ivona.., masa kakakmu ini membelikan hadiah yang sama dengan Vaya. Status kalian kan berbeda, kamulah Ivona, adik kandung kakak. Sedangkan status Vaya dalam keluarga kita adalah orang luar, dia memiliki keluarga sendiri. Sudah saatnya dia harus kembali pada keluarga kandungnya." ucap Tommy sambil tersenyum.

__ADS_1


Mendengar perkataan kakaknya Tommy yang biasa memanjakannya, hati Vaya menjadi sesak. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, tetapi melihat bahwa di sekitarnya masih banyak murid-murid yang melihat kejadian ini, dengan cepat dia menghapus air matanya. Dia harus memikirkan cara, agar status dia di SMA Dharma Nusa masih putri kandung dari keluarga Iswara. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana sanksi sosial akan dia rasakan, jika murid-murid itu tahu statusnya yang sebenarnya di keluarga Iswara.


"Atau kamu menginginkan sesuatu yang baru mungkin? Kakak kan belum begitu mengetahui apa yang menjadi kesenanganmu selama ini. Sepatu, tas, pakaian, atau accecories mungkin? Jika kamu menginginkannya, ayo sekarang pergi sama kakak. Semuanya akan kakak belikan untukmu." lanjut Tommy lagi. Dia berusaha untuk mengambil hati Ivona, dan agar adik kandungnya itu mengakui bahwa dia adalah kakak kandungnya.


Ivona kembali bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa Tommy dan Thomas betul-betul seperti tulus memperhatikannya. Mereka yang dalam cerita novel lebih mengutamakan Vaya, kali ini tidak terlihat sedikitpun perhatian yang mereka tunjukkan untuk gadis itu.


"Aku tidak butuh apapun kak, semua barang dan perlengkapanku sudah cukup dan semua masih terlihat bagus untuk aku gunakan." sahut Ivona santai, sambil melirik ke arah Vaya yang terlihat mengenaskan.


"Tapi kakak lihat semua perlengkapanmu berasal dari merek lokal, bukan barang branded. Ayo cari barang branded biar sesuai dengan kelasmu." Tommy berniat untuk memuaskan Ivona dengan barang-barang yang masuk kategori branded baginya.


"He.., he.., he.., apakah kak Tommy kurang belajar tentang sebuah brand. Mau merek lokal, mau merek luar negeri, bagi Ivona itu sudah merupakan barang branded, tergantung branded lokal atau branded internasional. Dan Ivona merasa nyaman-nyaman saja dan juga confident dengan barang-barang branded lokal." Ivona keukeuh mempertahankan barang-barang merek lokal yang sering dia gunakan. Dia memang menggunakan barang bukan dengan melihat dari brand apa, tetapi dari sudut manfaat dan kenyamanan.


"Iya..iya.., kamu memang benar-benar adik kandung kak Tommy Ivona. Kakak senang dengan pola pikirmu." sahut Tommy.


 


*************


"Kak Thomas.., mau jemput Vaya ya?" tanya Ivona basa-basi. Dia berhenti di hadapan kakak yang satunya itu.


"Bukan Iv.., kakak berada disini karena mau mengajak Ivona pulang ke rumah. Sudah lama lho Ivona pergi dari rumah. Kakek menanyakan terus dimana Ivona." Thomas menjawab pertanyaan Ivona.

__ADS_1


"Kan kakek sendiri yang bilang pada kak Alex, jika lebih baik Ivona tinggal bersama dengannya. Kak Alex bisa menjaga Ivona dengan baik, dan selalu memberikan pelayanan dan perhatian lebih dari yang aku dapatkan di rumah keluarga Iswara." jawab Ivona yang telak memukul perasaan Thomas. Thomas agak menyesal, karena sering tidak bertindak tegas membela gadis itu, jika terjadi perselisihan dengan kedua orang tuanya.


Sedangkan Tommy merasa senang, karena ternyata sahabatnya Alexander bisa diandalkan untuk menjaga dan mengawasi Ivona dengan baik. Tidak salah dia meminta tolong laki-laki itu untuk menjaga adik kandungnya itu.


"Sudah.., ayo Ivona. Kakak akan mengajakmu untuk pergi makan dulu. Kakak yakin, kamu pasti lapar." Tommy mengambil alih pembicaraan.


"Iya sekalian, aku kebetulan juga belum makan dari tadi siang. Kita bisa makan bersama, ayo kita ke restoran Michelin.., masakan disana disajikan dengan standar hotel bintang lima." Thomas menimpali perkataan Tommy.


"Sudahlah Thom.., kamu segera pulang saja dulu. Kasihan kan kakek, beliau tidak ada temannya di rumah. Biar Ivona sementara bersamaku, kami akan makan berdua saja dulu." Tommy melarang Thomas untuk bergabung makan dengan mereka.


"Tidak bisa begitu dong. Kita ini kan keluarga, masak harus terpisah-pisah." protes Thomas.


"Kamu kan sudah sering bertemu dengan Ivona. Aku baru datang dari luar negeri, sudah dua minggu aku belum berjumpa dengannya. Kasih waktu dan kesempatan untukku dong, agar aku bisa melepaskan kangen dengan adik kandungku tercinta." sahut Tommy berusaha meyakinkan Thomas.


Ivona hanya diam melihat perdebatan Tommy dan Thomas. Dia tidak begitu ambil pusing akan mereka berdua, bahkan jika bisa melarikan diri dari situ, dia lebih baik kabur dari kedua kakaknya itu.


"Okelah.., aku tidak akan mengganggu acara kalian untuk makan berdua. Kakak pulang dulu Ivona, aku harapkan setelah kalian berdua makan, kamu segera balik pulang ke rumah." kata Thomas akhirnya mengalah.


Ivona diam tidak menjawab. Vaya terpaku diam di tempat, dan dia terlihat tidak bisa mempercayai semua yang terjadi di depannya. Dengan perasaan iri, geram, dan marah dia melihat pada ketiga orang yang dari tadi mengacuhkan, bahkan menganggapnya tidak ada.


 

__ADS_1


**************


__ADS_2