
Nyonya Besar Kavindra dan suami tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Melihat Ivona dalam balutan gaun pengantin modern berwarna putih, dan disampingnya duduk putra sulungnya Alexander Kavindra.., membuat pasangan itu tidak berhenti bersyukur. Sebagai orang tua, mereka merasa tugasnya sudah dilepaskan sebagian.
"Ma.., papa mau duduk disamping Alex.., mama duduk disini saja ya mengawasi Evan. Sedari tadi anak itu bikin ulah.., maunya lari ke tempat calon menantu kita saja." Tuan Kavindra yang lebih banyak berada di luar negeri, mendadak harus pulang dengan menggunakan pesawat jet pribadi. Tetapi rasa syukurnya berkali-kali dia panjatkan, ternyata kepulangannya mendapatkan hadiah yang tidak laki-laki paruh baya itu bayangkan. Meskipun dia belum dikenalkan dan mengenal calon menantunya, tetapi melihatnya sekilas sudah bisa mempersepsikan jika calon istri putranya adalah seorang gadis yang baik.
"Iya pa.., mama mengikuti dari sini saja. Evan memang memiliki kedekatan emosional dengan Ivona pa.., bahkan sebelum menjadi calon menantu kita," Nyonya Besar Kavindra menanggapi perkataan suaminya.
Tuan Besar Kavindra.. segera menempatkan diri dan duduk di samping Alexander. Melihat kehadiran papa yang jarang berkumpul dengannya, Alexander sedikit terharu.
"Baiklah karena sudah lama.. kita melakukan persiapkan. Segera pihak yang akan menjadi wali dari calon pengantin perempuan silakan menempatkan diri. Demikian juga para saksi.., mohon segera berada di posisinya masing-masing." suara penghulu menghentikan aktivitas semua yang hadir disitu. Beberapa orang yang merasa memiliki tugas seperti yang disebutkan penghulu, segera berdiri dan duduk di tempat yang sudah disediakan untuknya.
Thomas duduk mendampingi kakek yang menjadi wali nikah dari Ivona. Setelah semua orang sudah lengkap di posisinya, penghulu memimpin prosesi akad nikah antara Ivona Carminda dan Alexander Kavindra. Kakek sebagai pihak dari mempelai wanita mengucapkan Lafadzt Ijab dengan pengucapan yang jelas menggunakan bahasa Arab dan juga bahasa Indonesia.
"Aku nikahkan engkau, dan aku kawinkan engkau dengan pinanganmu, cucuku Ivona Carmindra dengan mahar seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Begitu kakek menyelesaikan bacaan ijab, dengan tegas dan mantap, Alexander membaca Lafadz Kabul:
قبلت نكاحها وتزويجها على المهر المذكور ورضيت بهى والله ولي التوفيق ; (Qabiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq) dengan arti "Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dautkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah."
__ADS_1
"Bagaimana para hadirin yang hadir di tempat ini, apakah pernihakan antara Nona Ivona Carminda dengan Tuan Alexander Cavindra dinyatakan SAH." penghulu bertanya pada semua yang ada di tempat itu.
"SAH.." serempak orang-orang mengucapkan kata itu dengan cepat. Alexander langsung memberikan ciuman di kening Ivona.
Air mata haru menggenangi kelopak mata Ivona.., dia sama sekali tidak membayangkan, transmigrasinya ke novel, ternyata mendapatkan pengalaman untuk menikah. Bahkan dalam kehidupan sebelumnya, Ivona belum mendapatkannya, bahkan bergaul dekat dengan laki-laki juga tidak dilakukan. Kelahirannya sebagai seorang genius.., membuatnya lebih banyak diamankan oleh mamanya agar tidak berinteraksi dengan orang kebanyakan. Keamanannya menjadi hal yang diutamakan oleh mamanya.
"Nana.., kamu milikku seutuhnya.." bisik Alexander pelan di telinga Ivona.., semburat merah dan rasa bergetar dirasakan oleh gadis itu. Selanjutnya terdengar suara penghulu menyampaikan khutbah pengajian, yang berisi tentang petuah dan nasehat dalam menjalani kehidupan berumah tangga.
***********
Alexander mengajak Ivona yang sudah resmi menjadi istrinya untuk meminta doa dan restu pada kakek. Melihat kedekatan hubungan antara kakek dan cucunya, Alexander bisa memahami jika istrinya itu terikat hubungan darah dengan laki-laki tua itu.
"Terima kasih kek atas restunya.. Alex akan memastikan, apapun yang Alex lakukan, semua hanya untuk kebahagiaan Ivona kek." Alexander mengucapkan janji pada kakek.
Setelah meminta restu dari kakek selesai, Ivona dan Alex kembali bersimpuh di kaki Tuan dan Nyonya Kavindra. Tanpa diduga sama sekali, tanpa bicara Tuan Kavindra langsung memegang kedua bahu Ivona, kemudian membantu gadis itu berdiri dan memeluknya.
"Panggil aku papa menantuku. Kebahagiaan dan harapan ke depan keluarga Kavindra.., saat ini berada di kedua pundakmu. Selamat menantuku.." dengan penuh kasih kebapakan, Tuan Kavindra memberikan ciuman di kening Ivona. Nyonya Besar Kavindra juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Guk.., guk.., guk.." tiba-tiba orang menyingkir, karena terdengar suara anjing menyalak dan mendatangi Ivona. Di belakangnya, tampak Evan memeganginya dari belakang.
"Max.. kamu datang juga ternyata." dengan penuh rasa gembira, Ivona mengusap punggung dan kepala Max, kemudian memeluk Evan yang ada di belakang binatang peliharaannya itu. Setelah beberapa saat...,
"Evan sana kembali ke tempat mama. Disini bukan tempat anak kecil, ini tempatnya orang dewasa." Alexander memaksa adiknya Evan untuk melepaskan istrinya.
"Kak Ivona.., kak Alex jahat. Laki-laki ini selalu menindasku.." Evan mengadukan perlakuan Alexander pada Ivona.
"Evan.., ayo ikut mama. Kita pindah duduk disana.., lihat banyak orang mau memberi ucapan selamat untuk kak Ivona dan kak Alex." Nyonya Iswara mengajak Evan pindah, tetapi anak laki-laki kecil itu enggan bergeser meninggalkan Ivona.
"Biarkan ma .. Evan disini menemani Ivona. Tidak akan terganggu kok.." akhirnya Evan ikut berada di stage dengan Max yang ikut duduk di depannya. Dengan muka masam, mendengar perkataan istrinya, Alexander akhirnya mengijinkan Evan ikut berada di depan bersama mereka.
Tuan dan Nyonya Iswara dan kedua kakak Ivona hanya melihat pasangan pengantin itu dari kursi yang ada di depan. Untuk menjaga martabat Ivona.., Alexander memegang tangan Ivona..
"Ada apa kak..?" tanya Ivona bingung.
"Aku akan mengajakmu untuk mendatangi papa dan mamu, juga ada kedua kakakmu di kursi bagian depan." Alexander berdiri kemudian menggandeng tangan Ivona. Pasangan itu segera menghampiri ke tempat Tuan dan Nyonya Iswara berada.
__ADS_1
"Selamat pagi pa. Papa.., mama.., restui kami!" Alexander mengucapkan salam dan langsung meminta doa dan restu kepada Tuan dan Nyonya Iswara. Tanpa menjawab, Tuan Iswara langsung memeluk Alexander dan Ivona, demikian juga yang dilakukan oleh Nyonya Iswara. Kedua kakak Ivona hanya melihatnya dari samping dengan mata tergenang.
**************