Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 67 Tunggu Kakak


__ADS_3

Dengan hati marah dan jengkel, Vaya kemudian berjalan menghampiri Ivona yang sedang berdua dengan Alexander. Saat dia akan menarik Ivona, Alexander langsung menghadang Vaya dan menatapnya dengan tatapan datar. Akhirnya dengan ditutupi badan Alexander, Vaya melampiaskan kekesalanya pada Ivona.


"Ivona.., dimana hati dan perasaanmu?? Apakah perasaanmu sudah mati rasa?" tanpa basa-basi Vaya langsung menyemprot Ivona.


Ivona dan Alexander terkejut dengan sikap Vaya yang berani memarahinya. Ivona langsung menggeser badan Alexander, dia kemudian menghampiri Vaya dan berdiri lebih dekat padanya.


"Apa kamu bilang gadis manja, yang hanya bisa bersembunyi di balik ketiak papa dan mama?" dengan nada sinis, Ivona bertanya balik pada Vaya.


Melihat keberanian Ivona melawannya, muka Vaya jadi merah menghitam menahan marah.


"Mengacalah kamu Ivona. Gara-gara kamu, hari ini terjadi keributan besar di rumah ini. Aku baru tahu, ada manusia sepertimu yang berani melawan pada orang tuanya sendiri." dengan nada tinggi, Vaya memarahi Ivona.


"Huh.., begitu ya?" Ivona tersenyum sinis.


"Aku sudah tahu kalau aku cantik Vaya..., jadi sepertinya aku tidak memerlukan kaca deh untuk bercermin. Atau sebenarnya kamu sendiri, yang saat ini lagi butuh kaca untuk mencerminkan akal licik yang tersembunyi di sudut otakmu." lanjut Ivona dengan suara pelan.


"Jaga bicaramu gadis kampung! Gara-gara kedatanganmu di rumah ini, setiap hari hanya keributan yang aku dengar. Semua masalahnya ada padamu Ivona, lebih baik kamu segera menghilang dari dunia ini selamanya." ucap Vaya dengan nada tinggi.


"Coba kamu bilang sekali lagi!! Atau aku bocorkan ke seluruh penghuni rumah ini, siapa kamu sebenarnya? Siapa Kepala Rumah Sakit Jiwa.., ha..ha...ha.. jadi aku agak curiga ini.. Bisa-bisa saat mama melahirkan aku, ada yang melakukan konspirasi untuk menukar bayi kita." mendengar perkataan Vaya yang tidak mau diam, habis juga kesabaran Ivona. Dengan telak gadis itu mengungkit rahasia terbesar dari Vaya.

__ADS_1


"Apa kamu pikir mama dan papa percaya dengan apa yang akan kamu katakan? Kamu lihat sendiri kan, bagaimana papa dan mama terus berusaha membela dan menghiburku. Mereka berdua tidak terlalu mempedulikan bagaimana statusku di keluarga Iswara, bahkan kamupun tidak akan pernah dianggap oleh mereka di keluarga ini." kata Vaya dengan nada sombong.


Ivona sedikit membenarkan apa yang disampaikan Vaya, karena dari sejak awal dia masuk ke keluarga ini, dia sudah merasakan bagaimana perlakuan berbeda dia terima dari Tuan dan Nyonya Iswara.


"Baiklah Vaya... kalau kamu memang berani. Kekuasaan tertinggi di keluarga Iswara masih ada di tangan kakek. Apakah kamu tidak berpikir, jika kakek sampai tahu bahwa ayahmu adalah Kepala Rumah Sakit Jiwa di kota ini, aku pikir secepatnya kakek akan menendangmu keluar dari rumah keluarga Iswara." jengkel karena mendengar ucapan Vaya yang semakin sombong, Ivona menggunakan ayah Vaya sebagai senjata untuk memukul gadis itu.


"Dasar kamu.., bisanya cuma mengadu. Awas..., aku akan bilang sama papa dan mama bagaimana kamu memperlakukan aku, putri kesayangan Tuan dan Nyonya Iswara." seru Vaya sambil membalikkan badan, dan meninggalkan Alexander dan Ivona.


Sepeninggalan Vaya, Ivona kembali duduk di kursi. Hatinya merasa masih panas mendengar ucapan-ucapan yang disampaikan oleh Vaya. Dia ingin menghancurkan Vaya saat itu juga.


"Tenanglah Nana.., untuk apa kamu mempedulikan gadis itu. Jadi sebenarnya putri kandung di keluarga ini adalah kamu ya, bukan Vaya." Alexander mencoba menenangkan Ivona. Dia kemudian berjongkok di depan Ivona.


"Kalian semuanya ingin melihatku mati, ya?" terdengar teriakan keras kakek dari dalam ruang tengah.


"Apa yang terjadi dengan kakek kak?? Ivona harus kesana." mendengar teriakan kakeknya itu, Ivona langsung berdiri dan akan berlari mendatangi kakeknya. Tetapi dengan cepat Alexander mendekap dan menenangkannya.


"Kamu tunggu kakak di dalam mobil!! Jangan khawatir, kakak akan bicara pada kakek Iswara." Alexander meminta Ivona menunggunya di dalam mobil. Pria muda itu kemudian berjalan ke arah mobil sambil merangkul Ivona. Dia kemudian membukakan pintu mobil.


"Tunggu kakak sebentar ya, jangan kemana-mana sampai kakak kembali ke mobil!" setelah menyalakan mobil dan AC, Alexander segera menutup pintu mobil sambil berpesan pada Ivona.

__ADS_1


 


********


Di dalam ruang tamu, Kakek Iswara terlihat dingin dan mulai marah-marah pada Tuan dan Nyonya Iswara. Thomas hanya terdiam melihat ketiga orang itu berdebat dengan merasa serba salah.


"Kalian itu bisa menggunakan akal dan pikiran tidak? Apakah kalian berdua itu menganggap jika Ivona itu bukan anak kandung kalian? Dan Vaya itu yang kalian pikir sebagai anak kandung?" teriak kakek saat Tuan dan Nyonya Iswara memintanya untuk menerima dan lebih bersikap baik terhadap Vaya. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan gadis itu, saat Vaya lari keluar dari dalam rumah.


"Bukan begitu kek..., Vaya sudah tinggal bersama kita sejak dia dilahirkan di dunia ini. Sejak dulu sampai sekarang, anak itu sudah sering membawa nama keluarga Iswara menjadi lebih terkenal karena prestasinya. Sepertinya tidak ada bedanya jika dia itu anak kandung atau bukan." terdengar suara Tuan Iswara membela Vaya.


"Tetapi ingatlah kalian! Bagaimanapun dia, Vaya itu tetap bukan anak kandungmu. Apakah kamu ingat, jika darah itu lebih kental daripada air. Bisa-bisanya kalian berdua memperlakukan cucu kandungku seperti itu, haknya kalian rampas dan kalian berikan pada Vaya." masih dengan nada tinggi kakek memarahi kedua orang tua Thomas.


"Mungkin jika Ivona bisa menjadi seperti Vaya, kita juga akan memperlakukan hal yang sama padanya. Tetapi hanya ulah liarnya yang selalu mempermalukan kami sebagai orang tua. Pergi tidak pernah pamit, dan mana prestasi yang dapat dia bawa pulang ke rumah ini." Nyonya Iswara ikut membela Vaya.


"Itu tugas kalian sebagai orang tuanya. Jangan hanya bisanya menuntut pada anak, apa yang bisa mereka berikan untuk kalian. Tapi didiklah, ajarlah mereka, agar mereka bisa menjadi orang-orang yang bermanfaat. Pokoknya aku tidak mau tahu, perlakukan Ivona selayaknya anak kandung. Dan jika aku masih melihat kalian pilih kasih antara Ivona dan Vaya, maka lebih baik aku tidak melihatnya." ancam kakek Iswara.


"Terus apa mau kakek? Pokoknya saya tidak setuju jika kakek mengusir Vaya dari rumah ini?" teriak Tuan Iswara dengan nada tinggi.


Mendengar nada tinggi yang dikeluarkan Tuan Iswara, emosi kakek menjadi memuncak. Dada kakek mendadak menjadi sesak. Dengan memegang dadanya, kakek jatuh terduduk di kursi.

__ADS_1


**********


__ADS_2