
Seusai makan malam bersama, Nyonya Besar Kavindra masuk ke dalam kamar sebentar. Tidak berapa lama, dia keluar dengan membawa sebuah paper bag, dan langsung kembali duduk di depan Ivona. Alexander terus duduk bersama dengan Ivona, dia tidak mau meninggalkan gadis itu sebentar saja karena khawatir jika malahan dia yang ditinggalkan sendiri. Bahkan tanpa seijin Ivona, dia sudah mengirim pesan via chat pada Tommy, jika malam ini Ivona pulang bersamanya ke villa.
"Ivona.., tante punya sesuatu untuk kamu. Barang ini tante beli, saat tante mengunjungi Perancis di sebuat merchant yang berada dekat Menara Eiffel. Tante harap kamu berkenan menerimanya sayang.." sambil tersenyum, Nyonya Besar memberikan paper bag yang dipegangnya pada Ivona.
Ivona diam hanya menatap paper bag itu, kemudian dia menatap mata perempuan tua itu. Nyonya Besar Kavindra menganggukkan kepalanya, dia berharap besar jika gadis itu akan menerima hadiah itu. Setiap berkunjung ke suatu negara, Nyonya Besar selalu membeli barang-barang, yang harapannya akan diberikan pada perempuan yang dia inginkan untuk dia jadikan menantu. Tetapi, harapannya belum terkabul sampai dengan saat ini.
"Terima ya sayang.., masak kamu tega mengecewakan Tante yang sudah tua ini!" ucap Nyonya Besar sekali lagi.
"Terimalah Nana.., itu ucapan terima kasih dari mama untukmu!" Alexander ikut menambahkan. Ivona melirik sekilas ke arah Alexander, laki-laki itu senyum-senyum sendiri.
Untuk tidak membuat kecewa Nyonya Besar, Ivona menerima paper bag tersebut. Rona bahagia terbit di wajah Nyonya Besar.
"Lihatlah.., tante yakin kamu akan menyukainya sayang. Gadis-gadis biasa menggunakan barang-barang itu untuk jalan-jalan."
Ivona membuka paper bag, dan dahinya langsung berkerenyit. Di dalam paper bag, ada sebuah tas kecil lengkap dengan dompet di dalamnya dari sebuah branded terkenal dari produsen luar negeri. Bahkan ada sertifikat sebagai pelengkap tanda kepemilikan barang, yang menandakan jika barang itu bisa dijual kembali.
"Kenapa sayang.., apakah kamu tidak menyukainya? Bawa saja hadiah itu, besok kalau Tante ada perjalanan ke luar negeri, Tante pasti akan mengingatnya dan membelikan kenang-kenangan untukmu." Nyonya Besar bertanya pada Ivona, saat melihat ekspresi bingung pada gadis itu.
"Cukup Tante.., tidak perlu. Hanya Ivona jarang menggunakan tas model seperti ini, tapi terima kasih sekali Tant. Tas yang tante berikan ini sangat bagus sekali." sahut Ivona dengan cepat.
"Ya mama harus selalu ingat Ivona dong.., jika mama bepergian kemanapun. Anggap Ivona ini seperti putri mama sendiri, kan mama merindukan memiliki seorang anak perempuan kan?" Alexander cengar-cengir menanggapi kehebohan mamanya.
__ADS_1
"Benar.., benar apa yang dikatakan Alexander. Tumben sekali, malam ini otakmu agak encer." sahut Nyonya Besar memuji putranya.
Alexander senyum-senyum, sedangkan Ivona hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tiba-tiba dia teringat jika dia sudah pergi sejak pagi dari rumah, dan belum mandi sore hari.
"Tante.., sebelumnya mohon maaf. Jika diperkenankan, Ivona mau minta ijin untuk pulang ke rumah. Karena saya pergi sejak tadi pagi, juga belum melakukan mandi sore." ucap Ivona pelan.
"Hadeh.., kenapa tidak bilang dari tadi sayang. Kan kamu bisa mandi di tempat ini. Sudah.., mandi saja, dan menginap disini malam ini!" Nyonya Besar meminta Ivona untuk menginap di rumahnya.
"Waduh mohon maaf tante.., Ivona tidak bisa menginap sembarangan. Apalagi besok pagi, harus berangkat ke sekolah. Banyak PR yang harus Ivona selesaikan malam ini." dengan tersenyum kecut, Ivona menolak ajakan Nyonya Besar untuk menginap di rumahnya.
"Kalau kamu mau menginap disini, aku temani." bisik Alexander. Ivona langsung mendelik, dan menginjak kaki laki-laki muda itu.
"Yah.., sayang sekali. Oke.., kamu boleh pulang dulu, tapi kamu harus janji untuk sering-sering datang ke rumah ini di lain waktu." akhirnya Nyonya Besar mengijinkan, dan meminta Ivona untuk berjanji.
*************
Alexander membukakan pintu mobil untuk Ivona, dia memaksa untuk mengantar pulang Ivona. Padahal Nyonya Besar sudah memerintah sopir keluarga untuk mengantarkan gadis itu. TetapiĀ Alexander tetap memaksa, dan akhirnya diijinkan untuk membawa Ivona.
"Masuklah., aku tahu kamu capai dan ngantuk kan?" kata Alexander pelan sambil tersenyum. Setelah Ivona duduk di kursi yang ada di samping kursi kemudi, Alexander memasangkan seat belt ke pinggang Ivona.
Saat tangan Alexander memeluk pinggangnya karena memasangkan seat belt, pipi Ivona memerah. Dia melengoskan kepalanya ke samping untuk menghindari tatapan laki-laki muda itu padanya. Alexander tersenyum kecut, dia kemudian menutup pintu mobil dengan pelan.
__ADS_1
"Antar Ivona pulang ke rumah ya Kak!" Ivona menoleh dan meminta Alexander mengantarkannya pulang ke rumah keluarga Iswara. Gadis itu masih membayangkan yang tidak-tidak tentang Alexander, sehingga menjauh darinya saat ini merupakan cara terbaik untuk menghindar.
"Hmmm." dengan singkat Alexander menanggapi perkataan Ivona. Dia tidak menolak juga tidak mengiyakan. Laki-laki itu bergegas masuk ke kursi kemudi, dan tanpa banyak bicara dia langsung menjalankan mobilnya.
Seperti dugaannya, tidak lama berada di kursi mobil, nafas Ivona mulai teratur, dan tidak lama kemudian gadis itu tertidur pulas. Alexander memandangnya sekilas, dia tersenyum penuh arti. Tanpa bicara apapun, Alexander mengarahkan mobilnya menuju villa tempat tinggalnya. Dia tidak mau kehilangan kesempatan, berpisah kembali dengan gadis itu.
***************
Setelah beberapa saat mengemudi, mobil yang dibawa Alexander memasuki halaman villa yang luas. Melihat kedatangan mobilnya, pelayan rumah berlari untuk membukakan pintu rumah, dan satu orang bergegas membukakan pintu mobilnya.
"Tuan.., ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan rumah dengan sopan, sambil membukakan pintu mobil untuk Alexander.
"Bukakan pintu kamarku, aku akan memindahkan Nona Ivona kesana!" ucapnya sambil berjalan ke pintu mobil tempat Ivona duduk. Mendengar perintahnya, pelayan rumah langsung berlari untuk membuka pintu dengan lebar.
"Ini ada cewek tukang tidur." ucap Alexander sambil menyentil pelan hidung Ivona. Pelan-pelan dia segera memindahkan tubuh Ivona ke atas lengannya, kemudian dengan gaya bridal style, dia membawa Ivona masuk ke dalam rumah.
Begitu Alexander melangkah masuk rumah, pelayan rumah segera berlari menutup pintu mobil dan memindahkan mobil untuk diparkir di garasi.
Setelah membaringkan tubuh Ivona di atas tempat tidur, dengan telaten dan sabar, Alexander melepaskan sepatu yang dikenakan Ivona. Laki-laki muda itu tidak membangunkan gadis itu, dia malah menarik selimut dan menyelimuti Ivona.
"Selamat malam Ivonaku.., sweet dream." Alexander membisikkan kalimat di telinga Ivona, kemudian memberi kecupan basah di kening Ivona.
__ADS_1
************