Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 105 Pergilah ke Luar Negeri


__ADS_3

Ivona memegang tangan kakek, dia ingin mengajaknya bicara sebelum masuk ke ruang operasi. Tommy berdiri disisinya mendampingi gadis itu, sedangkan Tuan dan Nyonya Iswara tetap duduk di sofa hanya melihat pada mereka.


"Kakek senang Nana..., kamu mendampingi kakek disini. Tidak seperti dulu, kamu tidak pernah ada untuk kakekmu ini. Meskipun nanti tindakan operasi itu gagal, kakek tidak akan merasa kecewa, kakek merasa puas karena cucu kesayanganku ada disini." ucap kakek sambil mengusap tangan Ivona.


"Tidak akan terjadi apa-apa kek, Ivona yakin kalau operasi kakek akan berjalan lancar dan sukses. Percayalah pada Ivona.., Dokter Tantowi bukan merupakan dokter sembarangan! Beliau akan memastikan jika kakek Ivona akan kembali sehat seperti sedia kala." Ivona membesarkan hati kakeknya.


"Tommy.., sesibuk apapun jangan kamu lupakan adikmu! menjaga dan mengawasinya merupakan tanggung jawabmu, apakah kamu peduli dengan keadaan adik kandungmu selama ini?" kakek bicara sedikit pedas dengan Tommy.


"Pasti kek, Tommy bersama dengan Thomas dan Rio akan memastikan semua yang dilakukan Ivona dalam pantauan kami. Makanya kakek harus segera kembali pulih setelah menjalankan operasi nanti." Tommy berjanji.


Tiba-tiba Rio dan Thomas sudah masuk ke dalam kamar, mereka sudah berdiri di belakang Ivona.


"Kapan kamu datang kesini Rio, Thomas? Bagaimana keadaan perusahaan jika semua orang berada di rumah sakit ini?" tanya kakek tiba-tiba. Ivona dan Tommy menengok ke belakang, mengetahui kedua saudaranya berada disitu, dia sedikit bergeser ke samping.


"Jangan khawatir kek, Rio tadi sempat ke kantor untuk memastikannya. Perusahaan akan berjalan baik-baik saja untuk beberapa minggu ke depan. Setelah selesai bersama Thomas, kami langsung menyusul kesini." Rio menyenangkan hati kakeknya. Dia dan Thomas segera maju ke depan.


"Aku betul-betul bahagia kali ini, aku ditunggu oleh keempat cucuku. Rukunlah selalu kalian semua, jangan ada apapun yang bisa memisahkan hubungan persaudaraan di antara kalian. Keeratan hubungan itu merupakan suatu anugrah, jangan pernah berebut apapun diantara kalian. Bicara dan rembuglah jika ada masalah di antara kalian." tidak biasanya kakek menasehati mereka berempat dalam satu  waktu.


"Baik kek.., kami akan selalu rukun dan saling menjaga. Bukankah begitu adik-adikku?" tanya Rio, dia sebagai anak pertama dalam keluarga Iswara memimpin adik-adiknya. Keempat orang itu menyatukan dan menggabungkan telapak tangan mereka, kemudian menunjukkannya pada kakek.


Tuan dan Nyonya Iswara tersenyum melihat kekompakan putra-putri mereka, meskipun tidak mudah untuk melepaskan bagaimana Vaya dari mereka. Dia masih menginginkan jika Vaya saat ini bersama dengan keempat putra-putri mereka. Tetapi untuk saat ini, dia hanya bisa menelan kekecewaannya itu.

__ADS_1


"Tok.., tok.., tok.." tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Dua orang perawat masuk ke dalam kamar, satu perawat laki-laki dan satunya perempuan.


"Mohon maaf, kakek harus segera bersiap-siap dulu untuk segera dilakukan tindakan operasi!" kata perawat laki-laki. Keempat cucu kakek segera memberi akses jalan bagi perawat untuk menyiapkan kakek mereka.


"Untuk Non Ivona.., Dokter Tantowi ingin bertemu dan berbicara dengan Nona sebentar sebelum melakukan tindakan operasi. Apakah Nona ada waktu sekarang?" perawat perempuan menyampaikan pesan dari Dokter Tantowi.


Tommy melihat pada Ivona, dan gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Mari suster.., saya akan menemui Dokter Tantowi dulu!" Ivona segera berjalan mengikuti perawat. Tommy mengikuti Ivona di belakangnya.


************


Ivona meminta kakaknya Tommy untuk menunggunya di luar ruang untuk transit Dokter Tantowi, dia mengatakan jika ada hal penting yang akan dia bicarakan dengan dokter yang khusus datang ke Indonesia hanya untuk memberikan tindakan operasi pada kakeknya.


"Aku tidak apa-apa kak, Dokter Tantowi itu ayah dari temanku. Dia tidak akan mempersulit atau menyusahkan aku. Percayalah kak!" Ivona berusaha meyakinkan Tommy. Akhirnya dengan berat hati, Tommy bersedia menunggu di luar pintu.


Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, saat ini Ivona dan Dokter Tantowi duduk berhadapan di ruang transit. Dokter sangat terkejut saat pertama kali bertemu Ivona, dia sama sekali tidak menyangka ternyata orang yang didewakan oleh Marcus ternyata masih seorang anak sekolahan. Dia berpikir jika Ivona sudah memiliki tampilan sebagai seorang perempuan dewasa, atau sebagai seorang peneliti, ternyata dia sudah terlalu *over estimated. *


"Kamu sangat mengejutkanku Ivona, betul-betul aku tidak menyangka. Aku berpikir jika saat ini aku sedang ketemu dengan seorang anak ABG. Bisa-bisa jika kita ketemu di luar rumah sakit, dipikir orang aku adalah sugar daddy yang sedang mengencani seorang *sugar baby." *Dokter Tantowi berkelakar.


"Wah Dokter Tantowi bisa saja. Ivona betul-betul berterima kasih pada Dokter, karena kesediaan untuk melakukan tindakan untuk kakek Ivona." Ivona memberikan salam hormat atas kesediaan Dokter.

__ADS_1


"Lupakan itu, untuk seorang calon peneliti yang expert dalam bidang teknologi medis, aku akan melakukan apa saja untuk menyenangkannya. By the way.., apakah kamu sudah pernah ketemu dengan Marcus sebelumnya?" tanya Dokter tiba-tiba.


Ivona menggelengkan kepala, dia hanya tersenyum kecut.


"Belum?" tanya Dokter menekankan.


"Iya belum Dok.., selama ini kami hanya berkomunikasi via sambungan telpon atau via email. Karena aku mengirimkan berkas padanya memang melalui email." jawab Ivona jujur. Dia tiba-tiba merasa nyaman berkomunikasi dengan Dokter Tantowi.


"Prok.., prok.., prok.., luar biasa, excellent. Aku akui Marcus memiliki kejelian dan ketajaman untuk menemukanmu. Tapi kamu harus hati-hati gadis, jika orang negara ini bisa tahu siapa kamu sesungguhnya, aku yakin Badan Intelejen Nasional sudah akan mencarimu," ucap Dokter sambil bertepuk tangan.


"Aku sudah memikirkan hal itu Dok. Target jangka pendek saya adalah akan menyelesaikan sekolahku dulu di tingkat SMA, jadi aku akan memiliki alasan untuk pergi ke luar negeri untuk melakukan studi lanjut."


"Saat inipun negara itu sudah akan dengan terbuka menerimamu, kamu bisa melanjutkan studi dengan transfer di High School, tidak perlu menunggu kamu finish disini dulu." Dokter Tantowi mengharap Ivona segera pindah ke luar negeri.


"Masih banyak yang harus aku selesaikan di negara ini Dokter. Aku harap, Marcus masih bisa bersabar untuk menungguku." ucap Ivona lirih.


"Marcus akan memaksamu untuk segera mengurus kepindahan ke negara itu Ivona. Karena aku sudah mendapatkan bocoran kabar, jika pusat komputer nasional saat ini sudah mengirimkan orang untuk menyelidiki siapa kamu. Pergilah segera ke luar negeri." Dokter terus meminta Ivona.


"Tidak akan ada yang pergi ke luar negeri dalam waktu dekat ini." Ivona terkejut, sontak wajahnya terlihat pias saat melihat Alexander berjalan masuk menghampirinya di ruang transit.


Untungnya melihat wajah Ivona, Dokter Tantowi langsung tanggap. Dia juga langsung berdiri.

__ADS_1


"Terima kasih Ivona.., atas informasi awal tentang kakekmu. Informasi ini sangat bermanfaat untuk proses operasi ini. Baiklah mari kita segera menuju ruang operasi!"


 *************


__ADS_2