
Melihat Ivona berdiri dan akan pergi meninggalkannya, Caroline memegang tangannya, kemudian dia sekali lagi berbicara pada gadis itu.
"Tolong aku Ivona, dalam hatiku aku yakin dan percaya jika kamu dapat menolong aku keluar dari masalah ini!"
"Apa manfatnya bagiku jika aku menolongmu? Kita baru saja kenal, dan sebenarnya aku sedang tidak mau mencari masalah."
"Please... Ivona. Kamu gadis yang baik, hanya kamu yang bisa menolongku saat ini."
Melihat permohonan Caroline yang diikuti dengan tatapan mata yang menyedihkan, Ivona mengambil nafas panjang. Kemudian dia mengeluarkan nafasnya, dan sambil melangkah pergi, Ivona mengelus punggung gadis itu.
"Ikuti aku!" bisik Ivona pelan sambil melangkah pergi.
Caroline berjalan dengan menundukkan wajahnya, mengikuti Ivona yang memasuki toilet. Sesampainya di dalam, Ivona mengunci pintu akses masuk ke toilet wanita..
"Keluarlah dari pintu samping, jangan lupa kenakan topi untuk menutupi wajahmu! Paparazi dan orang-orang yang mengenalmu akan aku alihkan perhatian mereka."
"Terima kasih Ivona.., aku tidak akan melupakan jasa baikmu malam ini. Aku pergi dulu...." Caroline meninggalkan Ivona yang berdiri bersandar pada tembok, sambil melihatnya keluar dari pintu samping.
********************
Setelah memastikan Caroline pergi dengan aman, Ivona membuka kembali akses pintu masuk toilet wanita. Beberapa pengunjung MUSE Bar tampak menatapnya dengan pandangan tidak suka, saat melihat Ivona keluar dari toilet. Mereka sudah menahan hajat dari tadi, tetapi tidak bisa masuk karena akses dikunci Ivona dari dalam. Ivona tidak mempedulikan tatapan tidak suka mereka, dia langsung keluar dari bar menuju arah keluar.
"Sial..an.., banyak orang disitu rupanya. Sepertinya mereka bukan orang baik-baik, pasti akan tambah urusan nantinya." gumam Ivona sendiri.
Tetapi gadis itu tetap nekad menuju lorong gelap, karena malas mengambil jalan memutar lewat dalam bar, baru keluar lewat pintu dimana tadi dia masuk. Matanya menangkap pemandangan di depannya, ada sekitar tiga sampai empat orang pria yang sedang berdiri dan menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ivona mengacuhkan mereka, dan tetap berjalan melewati mereka.
"Hai tunggu...!" teriak salah satu dari pria yang berdiri di lorong gelap tersebut.
__ADS_1
Ivona berhenti, ingin tahu apa yang akan dilakukan para pria tersebut terhadapnya. Gadis itu melihat para pria itu satu persatu dengan mengangkat sebelah alisnya karena rasa penasarannya.
"Wow... keren. Punya nyali juga kamu menggoda kami." celetuk pria lainnya lagi.
Salah satu pria tersebut adalah Tuan Muda Irawan, dia anak dari salah satu orang kaya yang ada di kota tersebut. Dengan penuh aura kesombongan Tuan Muda Irawan mendekati Ivona, kemudian bertanya padanya.
"Gadis cantik.. mau kemana kamu?"
Ivona tidak menjawab, tetapi dia hanya mengangkat kedua sudut mulutnya sedikit ke atas, sambil memandang pria yang bertanya kepadanya.
"Apakah kamu tidak punya mulut? Tuan Muda bertanya, kamu hanya memandangnya, apa kamu tidak memiliki lidah sehingga tidak bisa bicara?" teriak salah satu pria yang sepertinya anak buah dari laki-laki yang bertanya padanya.
Tuan Muda Irawan mengangkat tangannya memberi kode agar teman-temannya diam. Dia semakin mendekat pada Ivona, dan dengan cepat gadis itu memundurkan langkahnya ke belakang sampai ke tembok.
"Nyalakan rokok untuk Tuan Muda Irawan!" melihat Ivona yang tampak polos dan hanya diam tidak bersuara, terdengar teriakan pria menyuruhnya menyalakan rokok untuk laki-laki yang berada dekat di depannya.
"Mana rokoknya Tuan Muda, apakah harus aku yang mengambilnya untukmu?" tanya Ivona dengan dingin.
Tuan Muda Irawan memandang Ivona dengan senyum smirk, kemudian menarik satu batang rokok dan memasukkannya ke mulutnya. Sesuai permintaan para pria itu, dengan cepat Ivona menyalakan rokok yang sudah berada di mulut Tuan Muda Irawan. Setelah menyala, muncul kilatan dingin di mata gadis itu, kemudian dengan pandangan mengejek Ivona tersenyum dingin..
Tuan Muda Irawan menghisap rokok, dan mengeluarkan asap dari mulutnya. Melihat asap itu, muncul ide bagi Ivona untuk mengejek pria-pria tersebut.
“Lihatlah asap ini, bukankah sama seperti asap dupa di makam kalian?” tiba-tiba keluar ucapan dengan nada sinis dari mulut Ivona.
Mendengar perkataan gadis itu, beberapa orang tersebut menjadi marah, dan seketika raut mereka langsung menjadi muram. Baru kali ini ada seorang gadis yang berani menghina mereka.
"Bicara apa kamu?" teriak Tuan muda Irawan.
__ADS_1
"Tidak salah kan aku bicaranya. Asap yang keluar dari mulutmu, persis dengan asap dupa yang akan ada di makam kalian." kata Ivona sekali lagi sambil tersenyum mengejek mereka.
"Kurang ajar.., jaga bicaramu gadis ******! Berani-beraninya kamu menghina Tuan muda." teriak salah satu pria tersebut, dan Ivona sedikitpun tidak ada rasa takut. Dia malah memandang mereka satu persatu sambil tersenyum.
"Habisi gadis itu! Baru kali ini, ada seorang gadis yang berani menghinaku." teriak Tuan Muda Irawan sambil jarinya menunjuk ke arah Ivona, tetapi dengan cepat Ivona menangkap jari itu kemudian mengibaskannya.
"Cepat.., habisi dia!"
Anak buah Irawan yang bertubuh besar berlari mendekat ke arah Ivona, dan pria itu mengulurkan tangannya untuk membekap mulut Ivona. Belum sampai ke mulut gadis itu, tiba-tiba dia merasa kerah bajunya ditarik dengan tenaga kuat dan kasar. Pria itu sampai membelalakkan matanya, saat dia melihat tangan putih dan ramping tang berada di lehernya.
"Berani-beraninya tangan kotormu itu akan memegang wajahku. Najis.." ejek Ivona sambil mengangkat tubuh anak buah Irawan, kemudian dengan sekali hentakan dia membantingnya ke tanah.
"Aduh.., sakit." teriak pria tersebut kesakitan.
"Siapa yang akan bermain-main denganku? Kemarilah.., mumpung malam ini aku lagi ingin berolah raga!" tangan Ivona melambai memanggil mereka untuk mendekat padanya. Tetapi melihat temannya yang bertubuh paling besar, hanya sekali tarikan langsung dibanting oleh gadis itu, mereka hanya saling berpandangan.
"Kenapa kalian diam saja? Percuma aku memberi makan kalian, serang dan habisi gadis ****** itu!" teriak Tuan Muda Irawan dengan murka.
Bertiga pria itu memberanikan diri menyerang Ivona, tetapi kaki gadis itu tanpa peringatan langsung bersarang di dagu salah satu pria tersebut. Belum habis rasa terkejut mereka melihat temannya yang tiba-tiba terkapar sambil merintih kesakitan, tendangan gadis itu sudah berada di perutnya.
"Ayo..., siapa lagi yang akan melawanku? Apakah kamu berani Tuan Muda, sekedar menghangatkan tubuhku malam ini?" dengan senyum smirk, Ivona menantang Tuan Muda Irawan.
"Jangan senang dulu gadis ******.., aku akan memanggil orang-orangku. Sayang tenagaku kalau harus melawanmu sendiri." seru Tuan muda Irawan. Sebenarnya dia agak ngeri melihat Ivona yang dengan mudah mengalahkan anak buahnya.
"Kapanpun aku siap Tuan Muda."
****************
__ADS_1