Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 122 Apresiasi


__ADS_3

Di dalam Kelas


Murid-murid di kelas G mencuri pandang pada Ivona dengan pandangan takjub dan heran. Tetapi Ivona sama sekali tidak mempedulikan pandangan mereka, dia malah risih dengan tatapan itu. Dia malah berpikir jika murid-murid di kelasnya itu, akan menyusun strategi untuk mengerjai atau mempermalukannya. Gadis itu seperti biasa langsung duduk di kursinya dengan santai, dan meletakkan kepalanya di atas bangku sambil menunggu guru kelas memasuki kelasnya.


"Ivona.., Ivona.., katanya hari ini tidak ada pelajaran." tiba-tiba kedatangan Beni mengejutkan gadis itu yang hampir tertidur.


"Bisa tidak sih Ben.., kamu lihat-lihat dulu kalau mau bicara! Aku sudah mau terbang ke alam mimpi, tiba-tiba terjatuh ke got karena dengar suaramu." Ivona protes dengan suara Beni.


"He.., he.., he.., sorry Iv.., peace..!" Beni cengar-cengir sambil mengangkat dua jari membentuk huruf V, sebagai kode permintaan maaf. Ivona tersenyum, kemudian gadis itu menegakkan kembali badannya dan melihat ke arah Beni.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Ivona.


"Kata murid-murid yang tadi mengobrol di depan, hari ini tidak ada pembelajaran penuh. Ada informasi penting yang akan disampaikan pihak sekolah pada semua civitas akademika sekolah ini." Beni menjelaskan hasil curi dengarnya.


"Syukur deh jika begitu. Tapi ga ada urusan juga kan denganku, sudah aku mau lanjut tidur dulu." Ivona kembali menyandarkan kepalanya di atas meja. Dia masih merasa mengantuk, karena semalam dia tidur lagi padaku 02.00 pagi karena mengerjakan tugas sekolah dengan ditunggui Alexander.


Dari arah depan terlihat William mendatangi bangkunya, matanya melihat ke arah Beni yang berdiri di samping bangkunya. Melihat tatapan tanpa makna itu, Beni langsung bergegas kembali ke mejanya.


William yang tidak membawa tas sekolah, hanya satu buku tulis yang dia lipat dan dimasukkan ke saku baju depannya langsung duduk. Dia menatap wajah Ivona yang sedang memejamkan matanya di atas meja sekolah. Laki-laki itu tersenyum melihat tingkah Ivona yang selalu cuek, dan tidak mempedulikan lingkungan jika sudah mengantuk.


"Cantik juga ternyata gadis ini. Kenapa belum lama, semua yang ada di dirinya bisa berubah begitu cepat." William membatin sendiri tentang Ivona.


Tiba-tiba laki-laki yang masih memandangi wajah Ivona itu kelincutan, tanpa dia duga Ivona membuka matanya dan langsung menatapnya. William langsung mengalihkan pandangannya ke depan kelas, dan dia diselamatkan oleh masuknya guru kelas.


"Selamat pagi..., ayo Ketua Kelas berkeliling ke dalam kelas. Kumpulkan tugas yang Bapak berikan kemarin siang!" tanpa basa-basi, guru kelas meminta semua murid untuk menyiapkan tugasnya.

__ADS_1


Dengan rasa malas, Ivona mengambil tas sekolah kemudian mengeluarkan tugas sekolah yang sudah dia kerjakan. William langsung mengambil tugas Ivona, kemudian menyerahkan pada Ketua Kelas untuk disusun menjadi satu.


"Makasih." ucap Ivona singkat. William tidak menjawab, dia hanya mengangkat dua bahunya ke atas.


"Baiklah.., karena semua tugas sudah terkumpul, Bapak mau menyampaikan pengumuman. Hari ini kita tidak ada pembelajaran penuh, dikarenakan ada acara di meeting room. Acara kali ini akan langsung dipandu oleh Kepala Sekolah, terkait dengan adanya pemberian apresiasi pada salah satu murid yang ada di sekolah kita." Guru menyampaikan pengumuman.


"Aku harap 30 menit lagi, kalian sudah berada di ruangan tersebut. Sekian terima kasih."


Begitu guru selesai bicara, dia langsung keluar meninggalkan kelas. Suasana kelas G menjadi riuh, mereka berbicara bisik-bisik sambil melirik pada Ivona.


***********


Keluarga Iswara langsung dibawa Kepala Sekolah beserta para guru memasuki meeting room. Banyak murid sudah berada di dalam ruangan tersebut, Thomas mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan tapi tidak menemukan keberadaan Ivona di ruang tersebut. Mereka dari tadi bertanya-tanya dalam hati, untuk apa mereka dibawa masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan puluhan murid sekolah tersebut.


"Baik, tapi jangan lama-lama pak. Kakek saya harus segera istirahat." sahut Thomas.


"Tidak Tuan Thomas., mohon waktunya sedikit lagi." Kepala Sekolah memohon pada Thomas.


Akhirnya mereka berempat duduk di barisan depan sendiri di ruangan tersebut.


***********


Setelah semua murid meninggalkan kelas, Ivona dengan malas dipaksa Beni untuk ikut bergabung ke meeting room. Sejak tadi William sudah mengajaknya untuk datang bersama, tetapi Ivona masih malas-malasan untuk bangkit dari peraduan di atas bangku sekolah. Akhirnya merasa tidak enak dengan William dan Beni, Ivona bangun dari kursi dan setelah meregangkan otot-ototnya dia ikut keluar kelas bersama dengan William dan Beni.


''Drttt.., drttt..," tiba-tiba ponsel Ivona bergetar, dan gadis itu langsung melihat di layar telpon. Marcus is calling...

__ADS_1


"Kalian jalan dulu ya, aku mau menerima panggilan telpon dulu!" Ivona meminta William dan Beni untuk berjalan meninggalkannya. William melihat Beni sekilas, kemudian meninggalkannya. Sedangkan Beni tetap berdiri di tempat, dia akan menunggu sampai Ivona selesai bicara.


Ivona menyelinap kemudian menerima panggilan tersebut.


"Ada apa Marcus, jam segini kamu sudah menelponku?" Ivona langsung bertanya pada Marcus.


"Sorry..., ini lagi darurat Ivona. Kami  disini membutuhkan kedatanganmu segera Ivona. Ada gangguan dalam sistem, kami butuh masukan untuk menyelesaikan project yang konsepnya berasal dari ide kamu." Marcus meminta Ivona untuk segera datang ke negaranya.


"Tunggu aku saat kelulusan Marcus, tidak akan lama lagi! Sekalian aku selesaikan dulu urusanku di negara ini." seperti biasanya, Ivona minta penangguhan waktu.


"Yah..., paling tidak bantu kami dulu Ivona! Project ini akan gagal jika kamu tidak datang kesini." Marcus terus memaksa Ivona.


Ivona diam beberapa saat, kemudian menghela nafas.


"Okay.., akhir minggu aku akan ke negaramu! Kirim Visa ke alamatku, aku akan mengirim alamat pengiriman. Tapi ingat, aku baru sementara untuk beberapa hari tinggal di negaramu,  banyak urusan yang harus aku bereskan dulu." akhirnya gadis itu menyanggupi untuk sementara datang ke negara Marcus, kemudian akan kembali ke negaranya.


"Sepakat, cek email! Aku akan kirim tiket penerbangan untukmu, dan visa dalam waktu singkat akan datang ke alamatmu." Marcus memastikan kedatangan Ivona ke negaranya.


Setelah tercapai kesepakatan, Ivona langsung mengakhiri panggilan telpon. Dia bergegas menyusul ke tempat Beni yang masih berdiri menunggunya.


"Yuk Ben.., aku pikir kamu sudah tinggalkan aku." Ivona langsung mengajak Beni menuju meeting room.


Di depan meeting room, Ivona melihat Roy Kumala duduk di kursi yang ada di depan ruangan. Ivona sudah jengah melihat anak itu, tetapi tumben hari ini Roy Kumala hanya melihatnya dengan pandangan yang memiliki makna. Ivona hanya melewatinya tanpa memberi sapaan. Melihat gadis itu masuk, Roy mengajak teman-temannya ikut memasuki meeting room.


*************

__ADS_1


__ADS_2