
Keesokan harinya
Ivona seperti biasa setelah turun dari mobil, langsung berjalan langsung menuju kelasnya. Tiba-tiba ponselnya berdering, dan Ivona melihat jika Marcus sedang melakukan panggilan padanya. Merasa bersalah dengan laki-laki itu, karena sudah tidak pamit langsung meninggalkannya, Ivona menekan tombol menerima panggilan tersebut.
"Ya Marcus.. maaf ya! Ivona sudah berada kembali di Indonesia saat ini." Ivona langsung minta maaf pada laki-laki itu.
"Syukurlah Iv..., aku mengkhawatirkan keadaanmu dari kemarin. Dengan siapa kamu kemarin pulang ke Indonesia?" tiba-tiba Marcus bertanya.
Ivona menelan ludah, dia bingung mendeskripsikan bagaimana posisi Alexander baginya. Menyebutnya pacar.., tidak mungkin. Karena mereka selama ini tidak memiliki komitmen apapun, tapi menyebutnya sebagai teman juga tidak mungkin karena perlakuan over protective laki-laki muda itu, melebihi perlakuan terhadap pacarnya.
"Iv.., kok diam. What happend?" beberapa saat Ivona diam, Marcus kembali bertanya karena bingung.
"Kemarin aku pulang dengan Kak Alex.., kakakku." jawab Ivona sedikit tergagap. Menyebut kakak untuk Alexander memang merupakan hal yang tepat baginya. Karena perlindungan dan penjagaan yang dilakukan Alexander padanya, melebihi perlindungan yang diberikan kakak-kakaknya.
"Okelah kalau begitu.. Mungkin next time.., kita bisa ketemu lagi secara langsung." akhirnya dengan perasaan senang dengan jawaban Ivona, Marcus mengomentari perkataan Ivona.
"Ya Marc.., maybe next time. Oh ya sudah Marc..., Ivona harus segera masuk ke kelas." tanpa menunggu jawaban Marcus, Ivona langsung mengakhiri panggilan tersebut.
Setelah mengakhiri panggilan, Ivona segera berjalan menuju kelas. Beberapa murid berbisik-bisik saat melihat gadis itu, tetapi tatapan mereka sudah mulai berubah, tidak seperti saat hari-hari pertama Ivona masuk ke sekolah. Tatapan beberapa murid seperti menunjukkan kekagumannya pada Ivona, tetapi gadis itu tidak memiliki waktu untuk memikirkan semua.
************
Beni langsung mengangkat wajahnya, dan senyuman mulai berkembang di bibirnya saat melihat Ivona berjalan dari depan kelas untuk menuju tempat duduknya. Laki-laki itu langsung mengambil buku yang berisi tugas-tugas kelas yang diberikan guru kelas, dia akan memberikannya pada gadis itu.
"Hi Ben.., bagaimana kabarmu?" tanya Ivona dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Baik Iv.., ayo duduklah dulu. Aku akan tunjukkan tugas-tugas yang harus dikumpul hari ini. Kebetulan aku sudah mengerjakannya tadi malam." Beni meminta Ivona segera duduk, kemudian mengantarkan tugasnya yang sudah dikerjakan ke merja Ivona.
Ivona tersenyum, dia sedikit terharu dengan perhatian yang diberikan laki-laki gemuk itu.
"Simpan kembali hasil kerjamu Ben.., aku sudah mengerjakannya tadi dini hari." Ivona meminta Beni menyimpan kembali hasil kerjaannya.
"Guru pelajaran juga mengirim tugas di Google Classroom, jadi aku tinggal download saja. Aku bisa mengerjakannya dengan tepat waktu." Ivona menjelaskannya pada Beni.
Dari arah depan, Ivona melihat William yang sudah berjalan memasuki kelas. Merasa tidak memiliki urusan dengan teman sebangkunya itu, Ivona mengabaikan dan tidak mempedulikan kedatangannya. William melirik dengan perasaan kurang suka melihat Beni yang masih ada di bangkunya. Tetapi sejak dekat dengan Ivona, dan gadis itu berkali-kali menasehatinya, laki-laki gemuk itu menjadi lebih berani.
"Kembali ke bangkumu sendiri.., jangan mengganggu murid di meja lainnya!" terdengar William memberi peringatan pada Beni.
"Beni.., kembalilah ke mejamu! Nanti saat istirahat, kita bisa pergi bersama cari makanan di kantin." tidak mau memancing keributan, karena terlalu lelah, Ivona meminta Beni kembali ke mejanya.
"Okay Iv.., nanti ketemu saat istirahat ya." dengan senyum lebar, Beni kembali ke bangkunya dengan membawa buku yang berisi pekerjaan rumahnya.
**************
Dengan langkah malas, Ivona melangkah menuju ruang Guru Bimbingan Konseling. Karena dia dikategorikan melakukan BOLOS sekolah, karena melewati satu minggu dari ijinnya, siang ini dia diharuskan menemui guru BK. Meskipun kakak-kakaknya sudah melakukan konfirmasi kemana adiknya selama satu minggu, tetapi dalam daftar kehadiran sekolah, dia tetap dicatat Tidak hadir Tanpa Keterangan. Di tengah jalan menuju ruang guru BK, Ivona melihat Vaya sedang berbincang dengan teman-temannya. Malas untuk terpancing dengan gadis itu, Ivona sengaja akan mengambil jalan lain. Tapi naas, Vaya sudah terlanjur melihatnya, gadis itu dengan ditemani teman-temannya bergegas mendatangi Ivona.
"Mau kemana gadis manja.., pasti akan mendapatkan strap dari guru BK ya? Aduh kasihannya.., cucu kakek tersayang lagi-lagi mempermalukan keluarga Iswara." Vaya menyapa dengan sikap sinis terhadap Ivona.
Ivona hanya melirik dengan tatapan menindas pada Vaya.., dan gadis itu merasa merinding melihat tatapan itu. Vaya sampai memundurkan tubuhnya ke belakang.
"Kami murid lama saja tidak berani seharipun bolos tanpa keterangan, eh.., dengar-dengar kamu sudah dua minggu tidak datang ke sekolah. Ck.., ck.., ck.. kamu memang bad girl." celetuk salah satu teman Vaya.
__ADS_1
"Apakah kamu pikir, baru saja sekali menorehkan prestasi sebagai juara 1 di Olimpiade Fisika, kamu sudah merasa menjadi ratu di SMA Dharma Nusa?? Dalam mimpimu saja gadis kampung.." sahut murid lainnya.
Ivona tidak tertarik menanggapi ocehan murid-murid itu, karena dia merasa hanya akan membuang waktu dan energinya saja.
Dari kejauhan.., Roy Kumala yang sedang bersama temannya, melihat Vaya dan beberapa murid melakukan perundungan pada Ivona. Laki-laki itu tidak tahu, dia mengarahkan kakinya menuju dimana Ivona berada.
"Vay.., apa yang sedang terjadi disini? Maukah kamu menemaniku makan siang di kantin Vay..?" tanpa melihat Ivona, Roy Kumala mengalihkan perhatian Vaya.
"Iyain aja Vay.., sang arjuna sudah menjemput tuh. Ga kaya gadis kampung itu.., arjunanya laki-laki gemuk." celetuk teman Vaya.
"Ha.., ha.., ha.., iya benar." murid lainnya ikut mentertawakan Ivona.
Jengkel melihat pongah kesombongan teman-teman Vaya.., kaki Ivona mengambil batu kerikil kecil dengan menggunakan sepatunya, dan tidak lama kemudian..
"Dukk..." batu kerikil itu tiba-tiba sudah terlempar di kepala teman Vaya.
"Aduh.., sakit. Siapa yang melemparku.." teriak murid itu sambil memegangi kepalanya yang benjol.
"Kenapa bisa begitu ya.., ayuk kita cari salep untuk mengobati memar di kepalamu." teriak murid lainnya berusaha membantu.
"Memangnya di halaman ini ada hantu ya, yang bisa melempar batu?" ucap Roy Kumala.
"Hiii..., takut." beberapa teman Vaya langsung berkumpul jadi satu, mereka mengerumuni murid yang terkena lemparan batu tadi.
Melihat Vaya dan teman-temannya sibuk mengerumuni murid yang kena lemparan batu, Ivona langsung menyelinap meninggalkan mereka. Roy Kumala yang melihat Ivona pergi, hanya tersenyum kecil melihatnya, tanpa sedikitpun berniat untuk menegurnya.
__ADS_1
Vaya bengong melihat Ivona yang tiba-tiba sudah berada jauh darinya, tapi dia tidak bisa melakukan apapun.
*****************