
"Silakan duduk Ivona Carmindra..." Guru Bimbingan Konseling meminta Ivona segera duduk di depan mejanya.
"Baik pak.." sahut Ivona.
Ivona segera menuruti kemauan Guru BK tersebut, sedikitpun gadis muda itu tidak merasakan kekhawatiran pada dirinya. Dia sudah menyiapkan alasan jika guru BK akan mengkonfirmasi tentang kebolosan yang dia lakukan. Guru tersebut membuka buku besar dengan sampul batik di luarnya.., tidak lama kemudian, dia kembali memandang Ivona dengan tersenyum.
"Ivona kamu tahu.., untuk apa aku memanggilmu kemari? Hari kemarin kedua kakakmu sudah datang ke sekolah, untuk menyampaikan konfirmasi tentang ketidak hadiranmu secara offline dalam dua minggu lalu. Kamu sudah menyampaikan ijin pada guru jaga untuk join pembelajaran online selama satu minggu, tetapi ternyata beranak menjadi dua minggu." Guru BK menyampaikan informasi kesalahan Ivona.
"Iya pak.., saya mengaku salah. Saat ini saya siap untuk mempertanggungjawabkan kesalahan tersebut." tidak mau berdebat, Ivona langsung menyanggupi untuk diberikan hukuman oleh Guru BK.
"He.., he.., he.., siapa yang akan memberikan kamu hukuman Ivona? Kedua kakakmu sudah melakukan konfirmasi, sama saja dengan masa ijinmu di perpanjang. Ada hal lain yang akan Bapak diskusikan denganmu." pernyataan Guru BK mengejutkan Ivona, dia memandang tidak percaya pada Guru tersebut.
Guru BK tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian menyerahkan selembar selebaran pada Ivona. Gadis itu menerimanya, kemudian membacanya dengan teliti. Selebaran itu berisi tentang informasi adanya Olimpiade bidang komputer dan teknologi, khususnya tentang bahasa pemograman yang merupakan makanan sehari-hari Ivona, tetapi sedikitpun gadis itu tidak memiliki minat untuk mengikutinya.
"Kenapa Bapak menyerahkan selebaran ini pada saya pak, di sekolah ini banyak murid yang jauh lebih pintar dari pada saya." Ivona menolak dengan halus tawaran untuk mengikuti kompetisi di bidang ilmu komputer. Lembaga yang mengadakan kompetisi tersebut adalah pusat komputer nasional. Ivona cukup paham, tujuan apa yang ingin dicapai lembaga tersebut. Sudah dua kali gadis itu membuat kekacauan dengan menjadi hacker di website lembaga tersebut, dia tidak mau orang banyak mengetahui kemampuan yang selalu dia rahasiakan itu.
"Kamu menolaknya Ivona.., apakah kamu tidak tahu. Akan banyak benefit yang dapat kamu peroleh jika berhasil memenangkan kompetisi ini?" Guru BK berusaha meyakinkan Ivona.
Ivona tersenyum. gadis itu tetap menggelengkan kepala.
"Bukan saya bermaksud menolak peluang itu pak. Tapi memang kemampuan saya di bidang komputer tidak begitu bagus, masih banyak murid yang lainnya. Untuk benefit, saya juga belum begitu membutuhkannya pak, siapa tahu ada murid lainnya yang lebih tertarik dan lebih menginginkannya." tiba-tiba Ivona teringat Roy Kumala, laki-laki itu pernah diminta Marcus untuk dihubungi Ivona. Hanya saja Ivona menolaknya saat itu. Sekarang Ivona berpikir, jika Roy Kumala dapat menjadi orang di pusat komputer nasional dan sudah melakukan kontrak. maka Institut Komputer Internasional tidak akan memintanya untuk mencari lagi Roy Kumala.
__ADS_1
"Sangat disayangkan Ivona. Padahal.., guru komputer memberikan rekomendasi padamu. Nilaimu selalu mendapat poin sempurna 100 baik di latihan maupun nilau ujiannya. Padahal Bapak sangat berharap kamu yang akan mewakili SMA Dharma Nusa." kembali Guru BK menyayangkan keputusan yang diambil Ivona.
"Itu hanya kebetulan saja pak Guru," Ivona kembali berdalih.
"Jika begitu., apa kamu bisa merekomendasikan murid dari sekolah ini. Kira-kira yang memiliki kemampuan sedikit di bawahmu." setelah mengambil nafas, Guru BK meminta masukan Ivona.
"Mungkin pak Guru bisa mengusulkan Roy Kumala, coba tawarkan padanya. Saya yakin, murid laki-laki itu akan menerimanya." dengan mantap, Ivona mengusulkan teman dekat Vaya itu.
Guru BK terdiam sebentar..
"Ya sudah.., aku akan mencobanya. Semoga rekomendasimu bisa membawa harus sekolah ini Ivona. Aku rasa cukup.., kembalilah ke kelasmu, dan aku harap kamu akan berubah pikiran suatu hari nanti."
************
"Kenapa kamu terburu-buru Ivona.., apakah ada hal yang penting yang akan kamu selesaikan?" William tiba-tiba sudah menjejeri langkahnya. Rupanya sejak Ivona bersiap-siap, William sudah mengamati gerakannya,. Laki-laki yang jarang membawa tas sekolah itu, langsung mengikuti Ivona keluar setelah gadis itu meninggalkan kelas.
Ivona menengok ke arah William, yang terkenal mendekati Vaya dengan gencar. Tapi sejak Ivona sekarang masuk ke kelas itu, William sudah berkurang upayanya dalam mendekati Vaya.
"Kakek menungguku.., aku harus segera sampai di rumah." jawab Ivona datar. Dia tetap berjalan tanpa berhenti dan tertarik menjalin kedekatan dengan laki-laki itu.
"Sebenarnya apa hubunganmu dengan Vaya?? Apakah kamu saudara jauh yang tidak dekat dengan gadis itu. Kenapa jika aku mengamati, kalian tidak pernah ada upaya kedekatan?" tiba-tiba William menanyakan hubungannya dengan Vaya.
__ADS_1
Ivona tersenyum masam...,
"Apa yang menjadi opini semua orang tentangku saat ini, jika kamu yakin, yakinilah. Tapi jika kamu tidak yakin.., berarti kamu berpikir cerdas. Opini terbentuk karena asap, dari mana asap itu bukan urusanku." ucap Ivona sambil berjalan cepat meninggalkan William.
William berhenti, laki-laki itu mengamati punggung Ivona yang berjalan meninggalkannya. Dia tidak pernah berpikir ada seorang gadis muda yang sangat cuek terhadap citra dirinya sendiri. Murid-murid lain di sekolah ini, selalu waktunya habis untuk mempedulikan penampilannya, tetapi tidak dengan gadis itu.
"Melihat yang antar jemput gadis itu selalu menggunakan mobil mewah limited edition, dia juga over protective pada Ivona. Siapa sebenarnya Ivona.., dan siapa Vaya?" William berpikir tentang Ivona.
"Gadis itu bukannya tidak mampu untuk mengikuti penampilan generasi masa kini, dia hanya enggan saja," kembali pikir William tentang penampilan murid pindahan itu.
Tiba-tiba terlihat Thomas masuk ke gerbang sekolah, dan laki-laki itu langsung berjalan menghampiri Ivona.
"Na.., kakak menjemputmu, ayo kita segera pulang! Pasti kakek sudah menunggumu." Thomas langsung mengambil tas yang dibawa Ivona, dan segera mengajak gadis itu menuju mobil.
"Sebenarnya aku bisa pulang sendiri, tidak perlu kak Thomas repot untuk menjemputku." sahut Ivona.
"Tidak apa-apa, lagian kan masak kakak tidak boleh kangen ketemu dengan adik kandungnya. Ayo kita segera pulang!" Thomas cukup berbesar hati untuk menerima kejudesan adiknya.
Ivona yang sudah berpesan pada Alexander untuk tidak menjemputnya, langsung mengikuti Thomas untuk masuk ke mobil.
"Pakai seat belt biar aman..!" dengan suara pelan Thomas meminta Ivona mengenakan seat belt, dan setelah terpakai baru laki-laki itu menjalankan mobilnya.
__ADS_1
**************