Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 99 Persiapan Pulang


__ADS_3

Selepas kelas mata pelajaran Kimia, Ivona mengirim chat pada Marcus. Dia mengucapkan terima kasih atas semua perawatan yang diberikan Marcus padanya. Tanpa bantuan laki-laki itu, tidak mungkin Dokter Tantowi bersedia dengan sukarela meluangkan waktunya untuk melakukan tindakan operasi terhadap kakeknya.


"Santai saja Iv.., kita kan sudah menjadi mitra kerjasama, tidak ada salahnya jika kita saling membantu. Hanya komitmen darimu saja sebagai imbalan terima kasihmu." kata Marcus dalam chatnya.


"Iya juga sih, tapi aku belum merasa lega jika belum mengucapkan terima kasih padamu. Terima kasih juga atas perawatan yang kamu berikan untuk Dokter Tantowi, dari tiket, sampai akomodasi semua kamu fasilitasi." Ivona bukan orang yang tidak mengenal balas budi, dia tetap secara khusus menyampaikan ucapan terima kasih pada rekan bisnisnya itu.


"By the way..., kapan kira-kira kamu bisa segera pindah ke negaraku!" tanya Marcus tiba-tiba, karena atas tindakan hacker yang terakhir dilakukan gadis itu, banyak perusahaan swasta yang sudah mentargetkan untuk merekrutnya menjadi human resource. Mereka sudah ramai-ramai mengirimkan detektif untuk menyelidiki siapa Ivona dan tempat tinggalnya. Jika Marcus tidak hati-hati, akan ada perusahaan yang akan menarik gadis itu untuk bergabung di perusahaannya.


"Jangan bicarakan tentang kepindahanku. Masih banyak urusan yang harus aku bereskan di negara ini, jadi aku tidak bisa tergesa-gesa untuk lari ke negaramu." sahut Ivona, meskipun dalam hati dia juga ingin segera meninggalkan negara ini, tetapi masih banyak hal yang harus dia kontribusikan untuk mengembalikan nama baik gadis yang bernama Ivona sebelumnya.


"Okay deh.., bereskan dulu urusanmu! Aku dan timku disini selalu menunggu kedatanganmu." akhirnya Marcus mengalah.


"Sudah dulu ya Marcus, aku banyak agenda bersamaan ini. Sekali lagi terima kasih atas atensimu ya." tanpa memberi kesempatan Marcus untuk membalas pamitnya, Ivona sudah mengakhiri chat secara sepihak. Dia langsung mematikan saluran internetnya.


"Mau makan ga Iv..?" tiba-tiba Beni menghampirinya, sejak tadi dia menunggu Ivona menyelesaikan urusan melalui ipad nya.


"Lagi malas aku Ben.., mau tidur saja. Ngantuk semalam mengerjakan PR Kimia." Ivona menolak ajakan Beni, dia ingin mengganti waktunya tadi malam yang dia gunakan untuk mengerjakan PR.


"Baiklah.., aku tinggal dulu ya. Aku lapar soalnya." Beni minta ijin untuk ke kantin.


Ivona langsung meletakkan kepalanya di atas meja, dia memanfaatkan waktu istirahat saat teman-temannya keluar kelas.


 


 


***********


 

__ADS_1


Begitu bel tanda pelajaran habis, Ivona langsung menuju pintu keluar. Tadi pagi dia sudah janji dengan Alexander, jika dia akan mengunjungi kakek di rumah keluarga Iswara. Dia juga harus memberi tahu pada kakeknya, jika besok siang harus sudah menjalani serangkaian observasi di rumah sakit, untuk dilakukan pengetesan atau screening awal pra tindakan operasi.


"Ivona.." terdengar suara memanggil namanya, saat dia baru saja keluar dari pintu kelasnya.


Ivona menengok ke arah suara, dan dia melihat kakaknya Thomas sudah berdiri di halaman sekolahnya. Thomas berjalan menghampirinya..


"Sudah keluar, kakak menjemputmu sekarang." ucap Thomas tersenyum ramah pada Ivona.


"Ivona juga mau pulang ke rumah kak, tapi sudah terlanjur janji pada Kak Alex. Dia akan menjemputku dan mengantarkan ke rumah. Dia ada perlu dengan kakek." Ivona menolak halus jemputan dari Thomas, dengan alasan sudah janjian dengan Alexander.


"Apakah kamu tidak takut atau khawatir Ivona..? Kamu memilih jalan dengan Alexander daripada denganku kakak kandungmu sendiri." sahut Thomas dengan pandangan kurang suka.


Ivona tersenyum sinis.


"Aku tidak hanya jalan dengan Kak Alex, tetapi juga tinggal bersama dengannya dalam satu villa. Saat ini aku hanya berpikir, orang yang dengan tulus menolongku, dia independent sehingga kapan saja dia akan bisa membelaku. Tetapi ada dimana keluarga kandungku, dimana saat aku membutuhkan bantuan, mereka hanya diam tidak mampu berbicara apapun." mendengar perkataan Ivona, Thomas merasa tersindir. Dia memang terkadang masih mengalah pada kedua orang tuanya, saat mereka membully adiknya itu.


"Bukan begitu maksud sebenarnya dari tindakanku. Aku terkadang hanya berpikir untuk sedikit mengalah pada kedua orang tua kita. Baiklah.., kamu boleh pulang dengan Alexander, tapi aku akan menemanimu sampai dia sampai di sekolah ini." kata Thomas.


"Kak Thomas..," Roy berjalan mendekati Thomas, kemudian mengulurkan tangan mengajak jabat tangan. Thomas melirik laki-laki muda itu, kemudian menerima jabat tangan darinya.


"Lagi jemput siapa kak, Vaya ya? Terus kebetulan ketemu dengan Ivona?" tanya Roy sambil mencibir Ivona.


"Pasti dong Roy.., kak Thomas kan sayang dengan Vaya. Iya kan kak?" Vaya mendekat ke arah Thomas, saat gadis itu mengulurkan tangan untuk memegang tangannya, Thomas memundurkan badannya ke belakang.


"Kakak kesini untuk menjemput Ivona, ingin mengajak adikku pulang ke rumah keluarga Iswara." ucap Thomas tegas. Mendengar perkataan Thomas, wajah Vaya langsung pias pucat. Roy yang belum tahu bagaimana hubungan mereka sebenarnya, hanya mengira jika baru terjadi pertengkaran kecil antara Thomas dengan Vaya.


Thomas langsung menggandeng tangan Ivona, kemudian mengajaknya keluar meninggalkan Vaya dan Roy disitu. Roy hanya bingung memandang interaksi kaku antara Vaya dengan Thomas.


"Kamu baru ribut dengan kak Thomas ya Vay..?" tanya Roy kemudian.

__ADS_1


"Iya Roy.., tapi ga pa pa. Biar Ivona juga merasakan sedikit kedekatan dengan kak Thomas, saat ini Vaya harus mengalah dulu." Vaya tidak mau mengakui bagaimana hubungannya dengan kakaknya saat ini. Dia masih menutupinya, karena ada ketakutan jika teman-temannya akan meninggalkannya sendiri.


 


***************


 


Sesampainya di gerbang sekolah, Ivona melihat mobil Alexander sedang berhenti di belakang gerbang. Tidak lama kemudian, laki-laki tinggi besar itu segera keluar dari dalam mobil dan segera menghampiri Ivona yang sedang berjalan bersama dengan Thomas.


"Ada Tuan Muda dari keluarga Iswara rupanya. Mau menjemput Vaya..?" Alexander menyapa Thomas dengan sarkasme.


"Tidak Tuan Alexander.., sebenarnya hari ini aku berniat untuk menjemput Ivona. Tetapi.., rupanya adik kandungku sudah terlanjur ada janji dengan CEO Kavindra Group." sahut Thomas sambil tersenyum.


"Kami tidak ada janji Thomas. Sudah sewajarnya, sebagai seseorang yang sudah diijinkan dan dititip seorang Nona Muda dari keluarga Iswara.., aku harus memiliki tanggung jawab untuk semua urusannya. Termasuk dalam hal antar jemput sekolahnya." Alexander merespon perkataan Thomas dengan sebuah sindiran.


"Maaf kak Thomas..., Ivona ikut kak Alex ya. Kakak naik mobil sendiri." melihat perdebatan kecil antara Thomas dan Alexander, Ivona menyela mereka. Dia tidak ingin orang-orang yang ada disitu melihat mereka sedang terlibat adu pendapat.


"Ya Iv.., hati-hati ya! Nanti kita ketemu lagi di rumah." Thomas langsung menanggapi Ivona.


Alexander langsung menggandeng Ivona, kemudian membuka pintu mobil dan memegangi tangan gadis itu sampai duduk di kursi samping kemudi. Setelah gadis itu duduk, dia kemudian duduk di belakang kemudi.


"Harusnya Ivona pulang denganku, bukan dengan laki-laki itu." pikir Thomas.


 


 


******************

__ADS_1


 


 


__ADS_2