Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 278 Make Up Artist


__ADS_3

Pagi Harinya..


Pukul lima pagi, Carminda membangunkan Ivona yang masih tertidur dan terbungkus selimut. Dia dan Dokter Rafi sudah terbangun dan bersiap dari tadi. Mereka tadi malam memang akhirnya memutuskan untuk tidur bertiga. Laki-laki itu mengalah dengan tidur di atas sofa, sedangkan Ivona dan Carminda tidur di atas bed. Presidential Suites memang dibooking beberapa hari selama mereka berada di Indonesia. Ternyata mereka baru tahu, hotel yang dia tempati ini milik keluarga besar Mahendra.


"Nana sayang..., bangunlah nak. Sudah menjelang siang, dan ada make up artist yang sudah menunggu untuk mendandanimu sayang." dengan suara pelan, Carminda membangunkan putrinya. Perlahan Ivona mengerjapkan matanya, dan akhirnya terbuka lebar. Gadis itu melihat mamanya yang sudah cantik berada di depannya.


"Kok mama sudah cantik.., memangnya ada acara apa mam..?" Ivona bergegas mengangkat tubuhnya, dan segera duduk di pinggir tempat duduk. Di depannya terlihat papa Rafi yang sudah gagah dengan tubuh atasnya terbalut kain batik tulis motif sogan. Begitu juga saat Ivona melirik Carminda, perempuan itu juga terlihat mengenakan kain batik sebagai rok yang couple dan serasi dengan baju batik atasan papa Rafi.


"Papa Rafi dan mama couple-an.., memang ada acara apa mam..?" dengan perasaan bingung, Ivona kembali mengulang pertanyaannya.


"Putri mama yang cantik sebaiknya mandi dulu saja. Ada make up artist yang sudah menunggu sayang, ayo jangan kecewakan mereka! Kasihan mereka masih harus merias yang lainnya.." dengan senyum cantik, Carminda membangunkan Ivona dan menariknya ke kamar mandi. Dokter Rafi tersenyum melihat kedekatan ibu dan anak itu di depannya.


Merasa bingung tidak mendapatkan penjelasan dari mama dan papa Rafi, akhirnya Ivona menuruti perintah Carminda. Gadis itu segera masuk ke kamar mandi, dan mulai berendam di bath-up mengawali ritual pagi harinya.


*************

__ADS_1


Aldo merasa malas dipaksa Tuan besar Girindra untuk berangkat menuju hotel. Kemalasannya bertambah ketika Nyonya Girindra memaksanya untuk mengenakan kemeja berdasi, dan dilengkapi dengan jas berwarna outih tulang. Mengenakan pakaian tersebut, wajah Aldo tambah menyinarkan ketampanannya. Dengan sepatu pantofel, akhirnya laki-laki sudah bersiap di ruang tengah menunggu kedua orang tuanya. Dari arah luar, terlihat Donny asisten pribadinya masuk mengenakan atasan kemeja batik, seperti orang yang akan berangkat kondangan menghadiri acara pernikahan. Terlihat di belakang laki-laki itu, Evan adik Aldo mengikuti di belakangnya. Adik kecilnya juga mengenakan setelan jas seperti dirinya, hanya berbeda warnanya.


"Donn..., kita itu diminta ke hotel pagi-pagi ada acara apa? Kamu juga malah mengenakan pakaian batik seperti orang yang akan menghadiri pernikahan saja." Aldo bertanya pada Donny, dan mengomentari penampilan laki-laki itu.


"Tidak tahu Tuan Muda. Saya mah hanya mengikuti perintah dari Tuan besar Girindra.., bahkan batik inipun yang membelikan Nyonya Besar. Saya tinggal mengenakan saja," Donny menjawab pertanyaan Aldo dengan senyum-senyum. Sebenarnya dia sudah diberi tahu acara pagi ini, tetapi diminta oleh Tuan dan Nyonya Girindra untuk merahasiakannya. Bahkan persiapan dari pihak laki-laki, dia membantu mempersiapkannya.


"Van.., kamu tahu tidak. Untuk acara apa kita berdua diminta mengenakan pakaian lengkap seperti ini?" Aldo yang biasanya selalu mengajak ribut Evan, akhirnya dia terpaksa bertanya pada Tuan Muda kecil itu. Evan tidak menjawab, dia hanya mengangkat kedua bahunya ke atas.


Aldo terdiam, dan tidak lama terlihat Tuan dan Nyonya Besar Girindra keluar dari dalam kamar mengenakan pakaian sama dengan yang dikenakan Nyonya Carminda dan Dokter Rafi. Tidak mau repot menghabiskan energi untuk memikirkannya, Aldo diam tidak berkomentar.


************


Aldo mengerenyitkan keningnya, matanya menatap tulisan kecil yang ada di papan informasi. Wedding ceremony Aldo Girindra and Ivona Carminda..., tulisan itu terbaca jelas di mata laki-laki itu. Melihat hal itu, mata Aldo berbinar, dengan cepat dia bisa menebak apa yang akan terjadi di depannya hari ini. Tanpa memberi komentar apapun, laki-laki itu pura-pura tidak peduli dan tidak mengetahui apa yang akan terjadi pagi hari ini. Donny mengerenyitkan dahinya melihat perubahan sikap Aldo yang tiba-tiba terlihat cerah.


"Donny..., ada di lantai berapa acaranya?" Tuan Besar Girindra bertanya pada asisten pribadi putra pertamanya.

__ADS_1


"Sepertinya di roof top Tuan Besar. Karena dari pihak keluarga mereka saat ini sudah berada di Presidential Suites dari kemarin. Kita langsung ke roof top, atau bertemu dengan pihak keluarga terlebih dulu Tuan Besar?" Donny menjawab pertanyaan Tuan Girindra.


Melihat pintu lift terbuka, mereka segera masuk ke dalamnya. Donny langsung menekan tombol Presidential Suites, dan juga roof top secara bergantian.


"Kenapa kamu menekan tombol menuju Presidential Suites juga Donny. Kita langsung menuju ke roof top, Tuan Besar Mahendra sudah menunggu kita disana. Aku tidak mau, kita dipikir datang terlambat ke hotel ini, nantinya mereka mengira kita tidak serius." kembali Tuan Girindra mengajukan pertanyaan pada Donny.


"Maafkan saya Tuan Besar..! Tadi Tuan Besar tidak segera menjawab, maka saya menyimpulkannya sendiri. Nanti jika lift berhenti di Presidential Suites, kita tidak usah keluar saja. Kita langsung menuju roof top." Donny menjawab pertanyaan Tuan Girindra.


Mereka akhirnya terdiam, dengan mata masih mengantuk Evan menyandarkan badannya. Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka, tetapi dengan segera Donny menekan kembali tombol tutup karena masih di lantai tempat Presidential Suites. Akhirnya tidak lama, di roof top pintu lift kembali terbuka.


Nyonya Girindra berhenti sejenak, matanya diedarkan ke sekeliling roof top. Tempat itu telah disulap menjadi tempat yang indah dengan konsep out door. Bunga mawar berwarna pink tampak mengelilingi tempat itu, dan bau harum bunga melati menggantikan aroma theraphy dan menambah sakral pemandangan di pagi hari itu. Helen sekretaris Richard berjalan menghampiri rombongan keluarga Girindra.


"Selamat pagi.., jika boleh saya akan mengantarkan keluarga Tuan Girindra untuk berada di private room sebentar, sambil menunggu kedatangan keluarga Tuan Besar Frans Mahendra." dengan sopan, Helen mengarahkan rombongan keluarga Girindra untuk mengikutinya. Tanpa banyak tanya, mereka berjalan di belakang Helen menuju ke sebuah private room. Sesampainya di dalam, tampak petugas dari wedding organizer tampak sudah menunggu keluarga itu.


***********

__ADS_1


__ADS_2