
Tanpa menoleh dan berhenti, Ivona tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka di meja makan.
"Mau mencari kesenangan pa, sendiri Ivona juga bisa." dengan malas gadis itu menjawab pertanyaan dari Tuan Iswara.
"Apa mulutmu tidak bisa dikondisikan Ivona, dengan siapa saat ini kamu berbicara? Papa bertanya baik-baik, malah kamu tidak sopan meninggalkan kami begitu saja. Apakah kamu tidak tahu, atau tidak peka bagaimana kami menunggumu untuk makan malam bersama?" ekspresi Tuan Iswara yang tadi merasa tidak enak hati dengan Ivona, langsung berubah menjadi merah padam.
"Bagaimana orang tua yang merawatmu dulu, betul-betul tidak disiplin?" Nyonya Iswara ikut mengomentari Ivona.
Mendengar papa dan mamanya marah, Ivona malah merasa senang. Dia tersenyum dan sedikitpun tidak memiliki rasa gentar pada kedua orang tuanya, gadis itu tetap melangkah keluar dari rumah.
"Sungguh anak tidak tahu diuntung dan tidak mengenal terima kasih." gerutu Nyonya Iswara.
"Papa.., mama.., diselesaikan dulu saja makan malamnya. Mungkin Ivona hanya sedang mencari perhatian saja dari kita semua. Yah.., kita harus maklum pa, ma.., masa lalu seperti apa yang dialami Ivona. Vaya saja mungin tidak akan bisa menghadapinya." Vaya berbicara sambil menundukkan kepala dan beraksen sedih, dia langsung berakting mengambil hati Tuan dan Nyonya Iswara.
"Kamu memang anak yang baik, dan penuh dengan belas kasih Vaya. Sampai kapanpun kamu tetap putri mama." Nyonya Iswara memeluk Vaya, dan hati Vaya tersenyum penuh dengan kemenangan.
Merasa muak dengan pemandangan di depannya, tanpa permisi Thomas langsung berdiri dan meninggalkan ruang makan.
"Mau kemana kamu Thomas? Apakah kamu juga sudah melupakan bagaimana sopan santun dan etika di meja makan?" tanya Tuan Iswara dengan nada tinggi.
"Mau mencari adik Thomas pa, semoga papa dan mama tidak lupa siapa sebenarnya Ivona." jawab Thomas sambil berlalu meninggalkan ruang makan.
"Putra kita sudah berubah pa, dia sepertinya sudah memiliki ikatan batin dengan gadis itu." ucap Nyonya Iswara dengan nada lirih.
__ADS_1
Dari meja makan mereka melihat putra mereka yang sangat tampan berjalan meninggalkan mereka. Sebagai seorang atlit dan selebritis di esports, Thomas memang memiliki penampilan casual yang sangat stylis. Saat ini Thomas mengenakan kemeja slim fit santai lengan pendek, dipadu dengan rompi sweater dan sangat cocok dengan dadanya yang bidang. Penampilan Thomas semakin tampan dengan pakaian seperti itu. Kulitnya yang sangat serasi, dengan dilengkapi dengan jam tangan mahal keluaran luar negeri melengkapi outfitnya malam ini.
"Putra kita memang sudah berubah, kali ini Thomas lebih memperhatikan Ivona." gumam Nyonya Iswara dengan suara yang sangat pelan.
*******************
Bar MUSE.
Di sebuah private room di bar tersebut, beberapa tamu tampak bersantai dengan merangkul para wanita. Para wanita itu ada yang mereka bawa dari luar, tetapi banyak yang disediakan oleh pihak pengelola bar tersebut. Tetapi di sofa yang terletak di sudut ruangan, tampak Alexander hanya duduk bersandar di sofa dengan malas.
"Tuan Alex.., maukah saya temani Tuan? Saya akan memberikan pelayanan yang paling baik malam ini." seorang wanita dengan penampilan yang sangat seksi mencoba mendekati Alexander.
"Pergi dari hadapanku, atau aku lempar kamu ke luar bar!" dengan kasar Alexander mengusir wanita itu tanpa ekspresi apapun.
"Baik Tuan... tapi jangan lupa untuk mencariku, jika Tuan berubah pikiran. Namaku Vanesh." dengan genit dan isyarat mata, ladies club yang bernama Vanesh meninggalkan Alexander sendiri.
"Tuan Alex..., terima kasih sudah mau berkunjung ke Bar saya. Apa yang Tuan Alex inginkan malam ini, sampaikan pada saya. Aku akan menyediakan tidak pakai lama." bisik Rolland.
Alexander dengan muka datar menatap pada Rolland, dan melihat ada ketertarikan di Alexander, Direktur Bar semakin gencar mendekatinya.
"Atau mau yang virgin, akan kami sediakan secepatnya."
"Menyingkir dari hadapanku Rolland, aku hanya butuh istirahat malam ini. Dan aku tidak butuh wanita ja..lang untuk menemaniku." seru Alex dengan nada tinggi.
__ADS_1
Tamu-tamu yang lain langsung diam, dan mereka tidak berani membuat keributan karena adanya Alexander yang sedang duduk sendiri dengan mood yang tidak baik. Malam ini Alexander berada di bar dengan mood yang bad, karena Nyonya Besar berada di rumahnya sepanjang hari. Dia selalu mengundang para wanita untuk dikenalkan pada putranya tersebut, sehingga cara yang paling aman untuk menghindar adalah dengan melarikan diri dari rumah.
Tiba-tiba pintu private room dibuka, dan seorang pria dengan wajah lumayan tampan masuk ke ruangan tersebut.
"Hi.., ayo keluar dari sini! Saat ini ada pertunjukan menarik di stage, ada wanita cantik yang sedang menari dengan menggoda. Yah.. ala-ala timur tengah lah dance yang dia bawakan." dengan semangat, laki-laki itu memprovokasi para tamu yang berada di private room untuk melihat dance di stage.
Beberapa tamu tidak ada yang berani bereaksi, mereka hanya melihat laki-laki itu sambil berbisik-bisik. Mereka khawatir bicara mereka mengganggu ketenangan Alexander. Melihat suasana di private room yang biasanya hingar bingar, malam ini menjadi kaku dan saat melihat muka datar Alexander, laki-laki itu akhirnya meninggalkan ruangan itu sendiri.
Tiba-tiba, terdengar ponsel Alexader bergetar, dengan malas Alexander melirik ponselnya dan terlihat Tommy kakak Ivona mengirim pesan untuknya.
"Alexander..., tolong bantu aku malam ini! Datanglah ke bar, aku sangat mengkhawatirkan adikku malam ini."
"Ada apa?" jawab Alexander singkat, dia langsung merespon karena dia ingat jika adik Tommy adalah wanita yang pernah dibawanya keluar dari rumah sakit jiwa beberapa waktu lalu.
"Adikku marah sama papa dan mama, dan dia melarikan diri ke bar. Tolong aku, karena posisiku sedang di luar kota, aku tidak bisa menjaga adikku malam ini."
Tanpa menjawab pesan Tommy, dengan semangat Alexander berdiri dan segera keluar dari private room. Para tamu bernafas lega, melihat Alexander keluar.
***************************
Di meja bar, terlihat Ivona yang sedang memesan whisky, dan dia duduk di samping meja bar. Matanya yang jernih diedarkan ke seluruh ruangan, dan berakhir di stage kemudian menonton pertunjukkan dance dengan rasa malas.
"Wow... Caroline." gumam Ivona tersenyum melihat seorang penari yang berada di atas stage.
__ADS_1
Wanita di atas stage itu menari dengan eksotis, dan banyak tatapan para tamu terutama para laki-laki sangat antusias menatapnya dengan pandangan penuh naf..su. Ivona mengarahkan pandangannya ke penari wanita itu, dan saat tanpa sadar penari itu bertemu tatap dengannya Ivona menyunggingkan senyum di bibir merahnya.
***************************