
Setelah satu malam beristirahat di dalam kamar tanpa keluar kemanapun, Richard dan Aldo serta Marcus menyepakati untuk menambah satu hari di negara kecil Guam. Sebuah negara yang sangat indah dengan pemandangan laut dan terumbu karang itu, membuat negara itu semakin eksotik. Tetapi mengingat mereka bukan dalam rangka berlibur di negara itu, mereka hanya berniat untuk jalan-jalan dan melihat-lihat pemandangan saja.
"Apakah kita akan melakukan diving..?" tanya Marcus pada Ivona.
"Badanku masih capai Marc.., aku mau lihat-lihat ikan lumba-lumba saja. Sepertinya lucu mengusap tubuh licin binatang itu." Ivoana menolak wisata yang membutuhkan energi banyak. Karena gadis itu ingin mengusap lumba-lumba, Alessandro langsung memborong tiket perjalanan Guam Dolphin Cruise yang ditawarkan Scuba Company.
"Hati-hati Na..!" Aldo langsung memegang tangan gadis itu menaiki cruise, dan tidak memberi kesempatan Marcus untuk berdekatan dengannya. Tanpa berpikir panjang, Ivona mengulurkan tangannya, dan tanpa diduga tangan Aldo memeluk pinggang Ivona dan mengangkat tubuh gadis muda itu. Melihat keberanian dan kenekadan Aldo, mata Richard melotot pada laki-laki itu. Tetapi sedikitpun, Aldo tidak mempedulikannya.
Sebuah kapal cepat segera membawa mereka menuju ke tengah laut yang terdapat banyak lumba-lumba berenang. Angin kencang yang menerpa wajah mereka, menghalau sinar matahari panas yang mengenai kulit rombongan itu. Untungnya Aldo menyiapkan sumblock untuk melindungi kulit Ivona terkena sinar matahari yang panas itu.
"Minumlah Na..,, biar tidak dehidrasi!" Aldo mengulurkan air mineral pada gadis itu, dan Ivona menerimanya dan langsung menenggaknya sampai habis. Richard melirik dan tersenyum melihat interaksi kedekatan adiknya dan Tuan Muda Aldo. Sedangkan Marcus, dengan tatapan kosong mengalihkan pandangannya melihat hamparan laut di depannya.
"Wow..., lihatlah di arah sana, banyak lumba-lumba menampakkan diri!" teriak Ivona sambil jarinya menunjuk arah di sampingnya, Terlihat lebih dari lima ekor ikan lumba-lumba melompatkan tubuh di atas air.
"Nana.., arahkan pandanganmu ke lumba-lumba itu, aku akan mengambil gambarnya!" tiba-tiba Aldo mengambil ponsel dan mengambil beberapa gambar dengan menggunakan kamera dari ponselnya.
__ADS_1
Mereka bergantian mengambil foto di atas cruise, dan mereka seperti sejenak terlupakan dengan keadaan yang melatar belakangi mereka hingga sampai di tempat ini, Awak kapal membantu mereka mengambil gambar berempat secara bersamaan. Sekitar dua jam mereka menghabiskan waktu di tengah laut, kemudian karena sudah merasa capai, akhirnya cruise yang membawa mereka kembali ke pelabuhan.
"By the way kita akan makan di hotel atau mencari makanan di kota ini?" Marcus tiba-tiba mengingatkan mereka untuk mencari makan siang. Sebenarnya Scuba Company menawarkan paket lunch bersama dengan paket wisata yang barusan mereka nikmati, tetapi Aldo menolaknya.
" Kita makan makanan khas Chicken Kelaguen atau Chamorros, merupakan makanan asli andalan suku Chamaroo saja. Katanya ayamnya betul-betul yummy.." merasa pernah membaca buku tentang negara kecil itu, Ivona mengusulkan.
"Kita akan makan di Meskla Chamorru Bistro yang ada di kota Hagatna. Kalian akan mendapatkan banyak makanan khas kuliner negara ini di bistro tersebut. Salah satu bistro terkenal di seluruh Kepulauan Mariana." Alessandro menentukan pilihan untuk mereka menikmati makan siang.
Sesampainya di daratan, mereka segera berganti pakaian yang basah terkena cipratan air laut. Tidak lama kemudian, mereka kembali memasuki mobil dan Alessandro membawa mereka menuju kota Hagatna untuk mencari Meskla Chamorru Bistro.
**************
Hari berikutnya, setelah mereka seharian puas mengelilingi negara kecil Guam, private jet segera membawa mereka kembali ke Jakarta. Setelah mereka transit di kota Manila, Philipina tanpa menikmati negara tersebut, pesawat langsung melanjutkan perjalanan menuju bandara Halim Perdana Kusuma. Tepat tengah malam, private jet mendarat di bandara tersebut. Tidak mau membangunkan Ivona yang tertidur, Richard meminta driver yang menjemputnya untuk langsung membawa mobil masuk ke dekat mereka keluar dari dalam pesawat.
"Tidak ada perdebatan, dan tidak boleh ditawar lagi. Ivona adalah adikku, dan saat ini dia tidak memiliki tempat tinggal. Maka pulang bersamaku dan tinggal di tempatku merupakan hal yang paling tepat untuknya." Richard langsung membuat pernyataan yang menghalangi Marcus dan Aldo yang akan membawa pulang Ivona.
__ADS_1
Marcus langsung memundurkan langkahnya, dia bisa menerima perkataan Richard, karena meskipun belum dilakukan test DNA apakah benar gadis itu adalah putri dari Tuan Frans, tetapi Nyonya Carminda sudah menitipkan gadis itu pada Richard.
"Aku juga memiliki hak atas gadis itu, dan bahkan akulah yang paling berhak. Karena Ivona adalah istriku." tanpa sadar, Aldo berkata pada Richard jika dia adalah suami dari perempuan muda itu. Tatapan kemarahan langsung muncul di mata Richard mendengar perkataan itu.
"Jaga bicaramu Aldo.., aku sudah cukup diam membiarkanmu memperlakukan adikku seenak jidatmu. Hari ini aku masih capai, jangan kamu bangunkan emosiku." dengan nada tinggi, Richard membentak Aldo. Merasa jika dia keliru bicara tanpa adanya bukti, Aldo terdiam tidak membantah perkataan Richard. Laki-laki itu hanya terdiam, melihat Richard mengangkat tubuh Ivona yang masih tertidur masuk ke dalam mobil yang sudah dikendarai driver keluarga Richard.
Tanpa memberi kesempatan pada Marcus dan Aldo untuk memastikan gadis itu, Richard langsung menutup pintu mobil, dan meminta driver untuk segera meninggalkan bandara. Setelah mobil yang membawa Richard dan Ivona menghilang, tanpa mengajak bicara Aldo, Dokter Marcus langsung menuju mobil yang sudah datang untuk menjemput dirinya.
Begitu sampai di dalam mobil, Marcus terkejut melihat sekretaris Ivona yang bernama Ester sudah berada di dalam mobil.
"Bagaimana kamu bisa berada di mobil ini Ester..?" tanya Marcus heran. Gadis muda yang sudah cukup lama memendam perasaan pada dokter itu hanya tersenyum.
"Tadi mau menjemput dan membawa pulang Miss Ivona ke apartemenku Dokter. Tetapi rupanya sudah bersama dengan Tuan Richard. Tidak mau mengganggunya, maka Ester tidak mau keluar dari dalam mobil." ucap Ester. Mendengar jawaban yang wajar dari gadis itu, Marcus segera masuk ke dalam mobil.
Merasa menahan kekesalan dengan sikap Aldo, Marcus langsung memejamkan matanya di dalam mobil. Tanpa sadar karena merasa mengantuk dan kecapaian, kepala Marcus tersandar di pundak gadis itu. Sambil tersenyum, tangan Ester terulur kemudian menempatkan kepala Marcus dengan hati-hati di pangkuannya. Gadis itu menelusuri muka Marcus menggunakan jari tangannya, dan gadis itu merasa sangat bahagia. Perlahan Ester menundukkan wajahnya ke bawah, dan tanpa sepengetahuan Marcus, Ester menempelkan bibirnya di bibir Marcus. Beberapa saat Ester mendiamkan bibirnya, kemudian gadis itu menjilati lingkaran bibir laki-laki itu menggunakan lidahnya.
__ADS_1
*************