Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 89 Perdebatan


__ADS_3

Tommy langsung marah melihat Vaya yang akan mengambil hadiah yang ada di kedua tangannya. Padahal dia memilih dan membeli hadiah itu di luar negeri khusus untuk Ivona. Harusnya dia bertanya dulu, hadiah yang dia bawa itu untuk siapa, tidak asal mencoba untuk mengambilnya.


"Kamu tahu etika dan tata krama tidak Vaya? harusnya kamu bertanya terlebih dahulu, hadiah yang kakak bawa hari ini untuk siapa. Jangan main serobot saja!" tiba-tiba terdengar suara Tommy yang memberikan teguran padanya.


Vaya kaget, dengan mata berkaca-kaca gadis itu memundurkan langkahnya. Dia terdiam dan hanya memandang kakaknya itu dengan pandangan sendu. Dia betul-betul tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Baru kali ini dia mendengar kakaknya Tommy berbicara keras padanya. Biasanya Tommy akan bersikap lemah lembut dan sangat memperhatikannya.


"Maaf kak, memangnya untuk siapa hadiah ini?? Biasanya kan kak Tommy selalu membawakan hadiah untuk Vaya, apalagi jika kakak habis bepergian dari luar negeri." Vaya bertanya dengan lirih, dia berusaha membela diri. Tetapi dia tidak berani memandang kakaknya.


"Vaya..., ingat posisi kita sekarang sudah berubah. Hadiah ini kakak bawa ke sekolah, bukan untuk Vaya. Tapi kakak akan memberikannya pada orang lain." dengan nada datar, Tommy memberi tahu Vaya, dan menegaskan bagaimana posisi mereka berdua saat ini.


"Apa maksud kak Tommy?" tanya Vaya tidak percaya, sambil menatap mata kakaknya dengan berkaca-kaca.


"Huh..., apakah kamu ini pura-pura lupa, atau memang benar-benar lupa Vaya?" ucap Tommy dengan tersenyum sinis.


"Kamu sudah tahu semuanya kan, jika adik kandungku yang sebenarnya adalah bukan kamu tetapi Ivona. Kalian berdua tertukar saat mama melahirkan Ivona di rumah sakit. Kamu juga harus membiasakan diri dengan keluarga kandungmu, jangan terus berada di keluarga kami, keluarga Iswara. Kasihan Ivona.., sudah saatnya kasih sayang kami diberikan untuk gadis itu." tiba-tiba Tommy meminta Vaya untuk kembali ke keluarganya. Dia memandang lekat pada Vaya yang selama ini sudah dia perlakukan dengan baik dan penuh perhatian.


Mendengar perkataan Tommy, Vaya kembali menangis dan terisak. Dadanya terasa sesak, baru saja dia diusir dari keluarga Iswara, dan kakaknya Tommy saat ini, juga ikut memintanya untuk kembali pada orang tua kandungnya. Dia bingung bagaimana harus bersikap, karena dia sudah terbiasa hidup dengan bergelimang kemewahan. Jika dia kembali pada keluarga kandungnya, tidak mungkin mereka akan dapat memenuhi segala permintaannya.


"Maksud kakak.., kak Tommy mengusir Vaya juga..?" tanya Vaya terbata-bata dan bahkan suaranya nyaris tidak terdengar.


"Apakah aku harus mengulangi kalimatku Vaya??? Kamu bukan adik kandungku, adik kandungku adalah Ivona. Pergilah ke keluarga yang sudah melahirkanmu, mulai biasakan dirimu untuk menyesuaikan diri! Sudah saatnya, posisimu di keluarga Iswara digantikan oleh Ivona, dia sudah terlalu lama menanggung kesedihan sendiri." dengan tegas Tommy berbicara pada Vaya. Dia sama sekali tidak memiliki rasa kasihan pada Vaya, dia kemudian berjalan meninggalkan Vaya sendiri di tempat itu.

__ADS_1


Vaya terdiam dan hanya bisa menangis tergugu sendiri di tempat itu, sambil melihat punggung kakaknya yang berjalan meninggalkannya.


 


************


 


Pada waktu yang bersamaan, sebuah mobil mewah berhenti di depan pintu gerbang. Orang yang membawanya kemudian memarkirkan mobilnya, dan turun dari  mobil dengan gagahnya. Putra Keluarga Iswara Thomas, atlet esports yang sangat terkenal tampak berhenti di samping mobilnya, dan melihat pada sebuah mobil mewah yang diparkir di depannya. Beberapa murid perempuan sangat senang, baru saja dia melihat Tommy si raja film memasuki gerbang SMA Dharma Nusa, saat ini melihat Thomas si atlet esports juga berada di gerbang sekolah. Mereka mengira kedua  saudara kakak beradik itu datang ke sekolah untuk menemui Vaya.


"Itu mobilnya Tommy, kapan dia datang dan kembali dari luar negeri." Thomas menggumam saat melihat Lambhorgini Aventador terparkir di depan mobilnya. Saat ini dia membawa Porcshe Cayman ke sekolah, dia berniat untuk menjemput Ivona sepulang dari base camp esports, dan sengaja tidak membawa sopir.


"Mungkin Tommy akan menemui Vaya. Dia kan sangat dekat dengan gadis itu." lanjut Thomas sambil menutup pintu mobilnya. Setelah mengunci mobilnya, dia kemudian melangkahkan kaki dan masuk ke pintu gerbang.


"Hi Tomm..., tunggu!" Thomas memanggil Tommy untuk menunggunya.


Tommy menghentikan langkahnya kemudian menoleh dan melihat pada Thomas.


"Ada apa Tomm kamu kesini?? Tuh Vaya, kalau kamu mau menjemput gadis itu." Thomas mengarahkan jari telunjuknya pada Vaya yang terdiam sambil menangis dan melihat pada mereka berdua.


"Siapa yang akan menjemput Vaya? Aku kesini mau menjemput adik kandungku Ivona, dan mau menyerahkan oleh-olehku untuknya." jawab Tommy sambil menunjukkan kedua tangannya. Thomas melihat pada kedua tangan Tommy yang tampak dua paper bag dalam genggamannya.

__ADS_1


"Harusnya kamu itu ke rumah dulu. Temui kakek, kenapa malah berada di sekolah ini. Ivona aku saja yang menjemputnya, kamu segera pulang saja!" sahut Thomas meminta Tommy untuk segera pulang.


"Enak saja.., kamu saja yang pulang duluan. Urusan Ivona biar menjadi urusanku, aku sudah kangen dua minggu meninggalkan gadis itu sendiri." Tommy tetap bersikukuh akan menjemput Ivona.


Dua laki-laki  muda kakak beradik itu berdebat untuk menjemput Ivona. Mereka sama sekali tidak menghiraukan perasaan Vaya, yang berdiri di belakang mereka sambil meneteskan air mata. Vaya terus memandang mereka dengan perasaan geram dan semakin membenci Ivona, karena merasa semua ini terjadi karena munculnya gadis itu.


Beberapa murid melihat Thomas dan Tommy yang berdiri di dekat Vaya. Penampilan dan wajah tampan keduanya terlalu menarik perhatian murid-murid perempuan yang ada di SMA Dharma Nusa. Melihat Vaya yang tampak bersedih, sedangkan kedua kakaknya sedang  berdebat menjadikan murid-murid salah paham. Mereka iri dengan Vaya, karena mereka mengira kedua kakak Vaya berdebat untuk memperebutkan siapa yang akan membawa Vaya pulang.


"Beruntung sekali si Vaya.., lihat banyak sekali hadiah yang dibawakan kak Tommy untuknya. Aku jadi iri..., mauuu jadi Vaya." celetuk salah satu murid perempuan.


"Iya.., si atlet esports kak Thomas juga ikut menjemput gadis itu. Memang anugerah hanya dimiliki Vaya di sekolah ini." sahut murid yang lain.


"Berarti kita harus dekat-dekat dengan Vaya nih, terutama agar kita bisa lebih dekat dengan kedua kakaknya."


"Aku mau..., soalnya aku ngefans banget sama mereka. Terutama sama atlet esports itu kak Thomas. Uwuu.. banget deh jika sudah ikut kompetisi."


 


*****************


 

__ADS_1


 


__ADS_2