Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 42 Ruang Kepala Sekolah


__ADS_3

Vaya yang sedang beristirahat duduk-duduk santai di depan kelasnya, sambil minum orange juice dari botol kemasan. Beberapa murid perempuan mendatanginya, untuk bergosip dengannya.


"Vaya.., ke kantin yok! Daripada cuma bengong duduk-duduk disini." ajak salah satu murid perempuannya.


"Iya juga ya.., ayo! Beres aku nanti yang bayarin kalian semua." Vaya segera mengikuti teman-teman perempuannya menuju kantin.


"Suit..suit..suit.., Vaya. Kok semakin hari semakin tambah cantik ya." beberapa murid laki-laki yang berpapasan dengannya menggoda Vaya.


"Iya.., tapi tambah sombong juga. Mana mau ya Vaya menyapa kita. He.., he.., he..." teman laki-laki yang lain ikut menambahkan komentar.


"Hush.., diam tidak kalian!" seru murid perempuan teman Vaya.


"Ngaca dulu napa? Bisanya cuma petentang-petenteng seperti itu mau disapa sama kami-kami yang cantik." sahut murid perempuan yang lain.


"Huuuu.., kami kan tidak menyapa kamu. Kami menyapa Vaya.. iya kan teman-teman?" murid laki-laki tidak mau kalah.


"Sudah.., biarkan saja mereka. Ingat anjing menggonggong..., kafilah tetap berlalu." Vaya dengan arogan lagi malas bersilat lidah, langsung mengajak mereka segera menuju kantin.


***************


Di Kantin


Suasana terlihat ramai karena pas jam istirahat. Hampir semua tempat duduk terisi penuh dengan murid-murid yang sedang makan sambil mengobrol.


"Tahu tidak kamu si Yoshua putra dari Direktur Hendra Jonathan?" terdengar beberapa murid mengobrolkan Yoshua.


"Siapa sih yang tidak tahu laki-laki itu? Kenapa...?" tanya murid lainnya yang kepo dengan pertanyaan temannya itu.


"Tadi pagi dia dilarikan ke rumah sakit. Dengar-dengar sih dia dipukul kemudian didorong oleh Ivona, murid pindahan yang ada di Kelas 7 G. Kakinya terkena pecahan kaca."


"Apa benar??? Masa murid pindahan itu berani dengan Yoshua.., dia kan putra dari Direktur Hendra Jonathan?"


"Benar.., tadi pas pelajaran, guru piket menjemput gadis itu dan langsung membawanya ke ruang kepala sekolah."

__ADS_1


Mendengar nama Ivona disebut, muncul kilatan di tatapan Ivona. Kemudian dia duduk dan bergabung dengan teman-temannya yang sedang bergunjing membicarakan Yoshua dan Ivona.


"Lagi ngobrolin apa nih? Sepertinya seru, boleh dong kita bergabung disini?" dengan ramah Vaya menyapa mereka.


"Boleh dong..., eh.. Vaya. Itu murid pindahan yang katanya saudaramu dari jauh itu hari ini bikin ulah. Korbannya Yoshua putra dari Direktur Hendra Jonathan." murid perempuan memberi tahukan tentang kejadian tadi pagi yang melibatkan Ivona.


"Iyakah? Gimana ceritanya?" tanya Vaya penasaran.


Beberapa murid perempuan menceritakan dengan hiperbola kejadian tadi pagi. Tentu saja mereka tidak mengetahui penyebabnya, sehingga hanya ditekankan jika Ivona memukuli Yoshua dan mendorongnya ke pecahan kaca. Setelahnya, Vaya langsung melakukan panggilan telpon pada Nyonya Iswara.., berpura-pura dengan tulus melaporkan kejadian yang membawa nama Ivona.


"Ada apa Vaya sayang? Ini kan jam sekolah, kenapa menghubungi mama?" dengan ramah Nyonya Iswara langsung menjawab panggilan telpon dari anak angkatnya itu.


"Mama.., sesuatu terjadi dengan Ivona. Vaya kasihan melihatnya ma...., sekarang dia dipanggil di ruang Kepala Sekolah. Mama harus segera datang ke sekolah, bantu Ivona ma!" dengan suara panik, Vaya memberi tahu kejadian yang menimpa Ivona.


"Apalagi yang diperbuat oleh anak itu? Bisa-bisanya dia hanya membuat masalah saja." seru Nyonya Iswara dengan nada tinggi.


"Mama tidak boleh seperti itu. Bagaimanapun ma, Ivona adalah anak kandung dari mama. Berikan perhatian pada Ivona ma..., dengan datang ke sekolah ini!" Vaya berpura-pura menjadi seorang gadis yang bijak.


"Kamu tetap putri mama Vaya.., kamu anak yang sangat baik dan juga berbakti sama mama. Jangan pernah bilang jika Ivona anak kandung mama, dan kamu hanya anak angkat. Mama akan selalu lebih menyayangimu daripada anak itu, yang selalu membuat ulah."


"Iya ma... Vaya mengerti. Cepat ke sekolah. Kasihan Ivona tidak ada yang bisa membelanya."


"Baik sayang..., mama akan memberi tahu ayahmu dulu."


Setelah mengakhiri panggilan, Vaya tersenyum sinis, tujuan dia memberitahu Nyonya Iswara adalah agar mamanya bisa melihat perbedaan yang ada antara dirinya dengan Ivona, sehingga Nyonya Iswara akan semakin membenci Ivona.


**********


Di rumah keluarga Iswara.


Nyonya Iswara marah-marah mencari kakak-kakak Ivona. Para pelayan mendekat padanya.


"Ada apa Nyonya? Sepertinya tadi Tuan Thomas dan Tuan Tommy sedang keluar rumah." seorang pelayan memberanikan diri bertanya pada Nyonya Iswara.

__ADS_1


"Jika mereka pulang, beritahu pada mereka ulah apa yang dibuat oleh Ivona di sekolah. Membuat malu nama keluarga Iswara saja." dengan nada tinggi Nyonya Iswara berbicara pada pelayannya. Kemudian dia menyalakan telponnya, dan bermaksud memberi tahu pada Tuan Iswara untuk menyelesaikan masalah putrinya.


"Ada apa ma, jam kerja begini menelpon ayah?" dengan nada kurang senang, Tuan Iswara menjawab panggilan istrinya.


"Ivona yah..., dia membuat ulah di sekolah. Vaya baru saja menghubungi mama, meminta kita untuk datang ke sekolahnya." tanpa basa-basi Nyonya Iswara langsung memberitahu permasalahan Ivona di sekolah.


"Kenapa mama malah menelponku? Tidak bisakah kamu sebagai mamanya langsung datang ke sekolah untuk menyelesaikan urusannya. Mengganggu orang bekerja saja."


"Maksud mama, ayah bersama mama datang ke SMK Dharma Nusa. Kita cari tahu, ada masalah apa dengan gadis itu."


"Aku tidak bisa, sudah terlanjur janji dengan client. Sekarang, segera mama pergi ke sekolah, cari tahu apa yang sebenarnya terjadi." setelah berbicara, Tuan Iswara langsung menutup panggilan telpon.


Merasa tambah jengkel dengan perkataan suaminya, Nyonya Iswara dengan muka merah padam segera datang ke SMK Dharma Nusa.


*********


Di ruang kepala sekolah.


"Bagaimana Ivona??? Apa yang kamu pilih, jawab sekarang! Kamu dikeluarkan dari sekolah ini, atau kamu melakukan hal yang sama, aku tendang dan jatuh di atas pecahan kaca.


"Begitu ya pak Direktur. Terus nanti jika saya sakit, akan ada yang meminta pak Direktur untuk melakukan hal yang sama ya? Memilih salah satu dari dua opsi yang ditawarkan." dengan tersenyum Ivona menjawab perkataan dari Direktur Hendra Jonathan. Sama sekali tidak terlihat rasa takut dalam tatapan matanya, dengan ancaman tersebut.


Mendengar jawaban yang diucapkan gadis itu, semua yang berada di ruangan kepala sekolah terkejut.


"Kamu..." belum selesai Direktur Hendra Jonathan berbicara, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu ruangan. Setelah dipersilakan masuk, ternyata mereka melihat kedatangan Nyonya Iswara.


Ivona mengangkat wajahnya dan memandang ke arah mamanya. Nyonya Iswara terkejut melihat keadaan Ivona, putrinya terlihat cuek dan tidak ada sedikitpun rasa takut.


"Ivona..., apa lagi yang kamu lakukan di sekolah?" tanpa basa-basi, Nyonya Iswara bertanya pada putrinya dengan murka.


Ivona hanya menatapnya dengan dingin, dan tidak menjawab pertanyaan dari Nyonya Iswara.


"Sebentar.., sebentar. Nyonya Iswara..., untuk apa Nyonya datang kesini? Dan apakah anda juga  mengenal gadis liar ini?" karena belum tahu jika Ivona adalah putri dari Nyonya Iswara, Direktur Hendra Jonathan menanyakan hal tersebut.

__ADS_1


***********************


__ADS_2