
Berhari-hari tidak bertemu dengan Ivona.., Dokter Marcus langsung menuju ke rusun Cempaka. Beberapa hari laki-laki muda itu habiskan untuk menjadi keynote speaker pada sebuah international conference di Dubai. Sebenarnya sebelum berangkat, Marcus menawarkan pada Ivona untuk membersamainya dalam conference tersebut. Tetapi beralasan jika gadis muda itu belum lama siuman dari kejadian vegetatif yang dialaminya satu tahun lebih, membuatnya untuk membatalkan rencananya itu.
Sebuah tas dari kain kanvas ditenteng Marcus memasuki halaman rusun. Merasa tidak ada oleh-oleh yang tepat untuk dideskripsikan mewakili Ivona, Marcus sengaja hanya membelikan pernik-pernik lucu khas Dubai, dan beberapa makanan khas negara itu yang tahan untuk beberapa hari. Tanpa memperhatikan kanan kiri, Marcus langsung naik ke tangga menuju lantai dua.
"Selamat pagi Bibi Sonya..," dengan sapaan ramah, Marcus menyapa perempuan tua yang sedang membersihkan meja makan. Bibi Sonya menoleh, dan senyuman dengan mulut terbuka menyambut kedatangan laki-laki muda itu.
"Dokter Marcus.., ayo duduk dulu! Bibi Sonya akan membuatkan satu cangkir kopi panas untuk Dokter. Sudah sangat lama kan, Dokter tidak menikmati kopi buatan Bibi." perempuan yang sudah lama mengenal Dokter Marcus itu, memaksa laki-laki muda itu untuk duduk di atas sofa.
"Baik Bi.., Marcus akan menunggu satu cangkir kopi panas buatan Bibi." ucap Marcus untuk melegakan hati perempuan tua itu. Marcus mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, dan pintu kamar Ivona. Tetapi laki-laki muda itu tidak merasakan ada keberadaan gadis muda itu di dalam rusun. Karena menghargai tawaran baik dari Bibi Sonya, Marcus merelakan waktunya untuk sekedar menyesap dan mencicipi kopi panas buatan perempuan tua itu.
Tidak lama kemudian, Bibi Sonya sudah membawakan satu cangkir kopi panas, dan dua potong sandwich di atas cawan lengkap disertai garpu dan pisau kecil. Perempuan tua itu meletakkan di atas meja.
"Sangat kebetulan sekali ini Bibi Sonya..., ada sandwich buatan bibi. Pasti dengan tuna kan..." Marcus langsung mengambil sandwich itu, kemudian menggigitnya perlahan dan hati-hati adar saos tidak mengotori pakaiannya. Perempuan itu terlihat bahagia, karena makanan buatannya pagi ini ada yang menikmatinya. Sudah dari kemarin, perempuan tua itu harus membagi-bagikan makanan yang sudah dimasaknya pada tetangga rusun. Ivona sedikitpun belum menikmati, karena gadis muda itu belum muncul sampai sekarang.
"Oh ya Bi.., ngomong-ngomong aku kok tidak melihat keberadaan Nana ya..?? Kemana gadis muda itu, masak sepagi ini sudah tidak terlihat ada di rumah?" setelah selesai menikmati sandwich dan menyesap kopi buatan Bi Sonya, Marcus menanyakan keberadaan Ivona pada perempuan tua itu.
__ADS_1
"Bibi juga tidak tahu Dokter.., karena Bibi datang kesini, Nona Ivona sudah tidak ada di kamarnya. Tadi barusan juga ada laki-laki muda yang sangat tampan yang juga mencari Nona Ivona. Tetapi yah.., anak laki-laki muda jaman sekarang memang tidak bisa dibandingkan dengan laki-laki pada jaman dulu. Masak keluar dari ruangan ini tanpa berpamitan dengan Bibi." perempuan tua itu menjawab pertanyaan Dokter Marcus, sambil melakukan curcol pada laki-laki muda itu. Mendengar jawaban itu, kening Marcus langsung berkerut.
"Siapa yang mencari gadis muda itu pagi-pagi begini?" Marcus bertanya pada dirinya sendiri. Laki-laki muda itu dengan cepat menghabiskan kopinya, dia akan segera mencari tahu dimana keberadaan Ivona.
***********
Ivona dengan muka cerah menerima pizza dan ware berisi salad dari Helen. Gadis muda itu tidak sabar untuk membuka makanan kesukaanya itu, fasf food tanpa ribet, tinggal menikmatinya. Biasanya Marcus akan cerewet jika Ivona memintanya untuk menemani Ivona makan makanan itu. Saat ini, Helen masih berdiri di situ belum meninggalkan gadis muda itu.
"Ada apa kak.., apakah kakak ingin ikut menikmati pizza ini?" tanya Ivona sambil menatap perempuan muda yang masih berdiri di depannya.
"Ups.., sorry kak. Jika kakak mau.., boleh kok ambil satu slice saja. Tapi jangan saladnya ya..., terus jika kak Helen tidak keberatan, boleh dong jika Ivona disiapkan satu cangkir hot cappucino." tidak bermaksud mengerjai Helen, Ivona menanggapi tawaran layanan yang diberikan Helen.
"Siap Nona Muda.., bentar lagi Helen siapkan." perempuan muda itu segera menuju pantry. Suara blended machine terdengar di telinga Ivona, ternyata peralatan untuk mengolah kopi tersedia lengkap di pantry itu. Tidak menunggu lama, Helen sudah keluar dari dalam pantry membawa satu cangkit hot cappucino dan satu tumbler di tangannya.
"Ini Nona.., dan dalam tumbler ini jika nanti Nona masih kurang. Atau siapa tahu Tuan Muda Richard ingin menikmatinya juga." ucap Helen sambil tersenyum, kemudian meletakkan cangkir dan tumbler diatas meja.
__ADS_1
"Terima kasih kak.., semuanya sudah cukup istimewa. Kakak bisa meninggalkan saya sendiri disini." setelah semuanya siap di atas meja, Ivona meminta Helen untuk meninggalkannya sendiri. Ivona terbiasa bekerja sendiri, dia tidak akan konsentrasi jika ada orang lain yang belum dia kenal dengan akrab berada di sampingnya.
"Iya Nona.., ijin Helen kembali ke ruangan." Helen segera membalikkan badan, dan segera meninggalkan Ivona sendiri disitu.
*********
"Tuan Richard...," melihat Richard keluar dari meeting room, Aldo bergegas mendatangi dan memanggil laki-laki muda itu. Richard menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke belakang untuk melihat laki-laki yang sudah memanggil namanya. Melihat keberadaan Aldo disitu, Richard mengerenyitkan dahinya. Dia langsung menatap tajam ke mata laki-laki itu.
"Bagaimana aku harus menyambut kedatangan CEO muda yang sangat tampan ini? Tanpa janji tiba-tiba sudah berada di ruangan kantorku." dengan ucapan sarkasme, Richard menanyakan pada Aldo bagaimana dia harus menyambutnya.
Dengan tersenyum smirk, Aldo membalas tatapan Richard padanya. Di sekitar laki-laki CEO Globally Group dia tidak menemukan keberadaan Ivona disitu.
"Aku ingin berbicara denganmu, aku harap CEO Globally Group bisa meluangkan waktu untuk menemuiku disini." tanpa memiliki rasa malu, Aldo meminta untuk berbicara dengan Richard. Merasa tidak memiliki permasalahan pribadi dengan laki-laki muda itu, dan mengingat laki-laki itu pernah dia datangi saat menanyakan tentang Ivona, Richard akhirnya bersedia meluangkan waktu untuk menemuinya.
"Masuklah ke ruang kerjaku dulu!! Aku tidak biasa berbicara dengan tamu terhormat sambil berdiri di lorong seperti ini." Richard langsung berjalan meninggalkan Aldo. Laki-laki muda itu menuju ruang kerjanya, dan Aldo mengikuti di belakangnya. Sesampainya di dalam ruang kerja, Richard duduk di sofa, demikian pula dengan Aldo. Mereka duduk diam saling berpandangan untuk waktu yang agak lama.
__ADS_1
************