Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 256 Aku Akan melindungimu


__ADS_3

"Prang.." tiba-tiba tanpa sengaja, gelas ukur yang ada di atas meja laboratorium tiba-tiba terjatuh.


Ivona dan Joseph langsung berlari mendekat ke arat gelas ukur yang sudah tergeletak di lantai dalam kondisi pecah. Kedua orang itu saling bertatapan, tetapi mereka segera mengambil nafas lega. Karena untungnya gelas ukur itu kosong, tidak berisi apa-apa, sehingga tidak membahayakan semua.


"Kenapa bisa jatuh ya.., perasaan tadi gelas ukur ini ada di tengah." gumam Ivona bingung. Gadis itu langsung berjongkok membersihkan pecahan kaca itu. Joseph segera berlari mengambil sapu dan serok sampah serta membawa kanebo untuk membersihkan dan mengambil serpihan-serpihan kaca yang kecil.


"Seperti ini saja kenapa jadi beban pikiranmu Na..? Sudah hal yang biasa, bisa juga karena letaknya agak miring, atau ada angin yang menggeser gelas ukur itu." dengan santai Joseph menanggapi perkataan Ivona. Mereka segera membersihkan tempat itu, dan membuang pecahan kaca ke tempat sampah non medis.


Beberapa saat setelah mereka bersih-bersih, dan melihat hasil analisa mereka yang sudah selesai, Joseph mengajak Ivona untuk beristirahat dulu. Keberuntungan bagi Joseph, dia bisa mendapatkan partner kerja yang cekatan, dan memiliki inisiatif untuk melakukan sesuatu. Kejeniusan Ivona dengan cepat bisa berpadu dengan otak dan tangan-tangan mereka.


"Na.., ke ruang sebelah dulu yuk! Kita ngopi-ngopi dulu, lagian sudah selesai kan pekerjaan dan tugas kita hari ini." Joseph mengajak Ivona istirahat.


"Okay.., silakan kamu duluan kesana Jo. Aku akan mencuci tanganku dulu di wastafel." gadis itu langsung menyetujui ajakan Joseph untuk istirahat. Ivona langsung melangkah menuju wastafel, dan mencuci tangannya menggunakan hand wash. Tidak lama kemudian, Ivona menyusul Joseph pergi ke ruang sebelah.


Bau kopi menyeruak masuk ke hidung Ivona.., membangkitkan semangat dan mata gadis itu. Perlahan Ivona memasuki rest room, dan terlihat Joseph sedang menggiling kopi panggang. Mereka di laboratorium, sengaja konsumsi kopi original yang langsung mereka blend sendiri untuk memastikan asupan nutrisinya dapat bermanfaat untuk kesehatan. Mereka tidak terbiasa untuk mengkonsumsi kopi siap saji, karena banyak tambahan bahan lain dalam kopi tersebut.

__ADS_1


"Buat untuk berapa cangkir Jo.." dengan muka pingin, Ivona berjalan mendekat ke arah Joseph. Laki-laki itu tersenyum melihat kedatangan gadis itu, dia sangat tahu kegemaran Ivona dari makanan sampai minuman yang menjadi favoritnya.


"Tidak usah ditebak, ya pasti dualah. Kamu mau juga kan..?" ucap Joseph, dengan kedua tangannya sibuk mengatur posisi cangkir dan menyiapkan air panas.


"Okay.., aku akan bakar roti saja ya. Sepertinya di refrigerator masih ada saus tuna deh, aku akan gunakan untuk isian sandwich saja. Yah.., lumayan untuk pengganjal perut menemani kita minum kopi." sahut Ivona yang langsung meninggalkan Joseph. Gadis itu menuju refrigerator di pojok ruangan, dan segera mengeluarkan saos tuna untuk olesan roti tawar untuk dia bakar.


Tidak lama bau harum sandwich panggang berpadu dengan wangi aroma kopi asli memenuhi rest room. Kedua orang itu duduk santai sambil menyelonjorkan kakinya di sofa. Betul-betul sebuah kenikmatan setelah otaknya diperas untuk membuat hasil analisis, sekaligus mengintepretasikan hasil. Ivona menghirup wangi kopi sebelum perlahan menyesapnya.


"Lumayan enak roti panggangnya Na.." Joseph memuji roti panggang buatan gadis itu.


"Pasti dong Jo.., apalagi kita padukan dengan nikmatnya aroma kopi. Lihat saja.., tidak lama lagi pasti orang-orang akan segera berkumpul kesini." Ivona menanggapi perkataan Joseph.


"Ada apa Dokter.., apakah ada yang salah dengan hasil analisis dan intepretasi hasil kami?" tanya Joseph dengan muka cemas juga. Ivona hanya diam, karena tiba-tiba dia seperti memiliki firasat jika kedatangan laki-laki itu tidak terkait dengan hasil kerja mereka. Gadis itu meyakini, jika hasil analisis dan intepretasi yang mereka buat sudah pas dan bagus. Ditambah dengan jatuhnya gelas ukur tanpa sebab, membuat Ivona tiba-tiba turut merasa cemas.


**********

__ADS_1


Dalam diam Dokter Rafi berjalan cepat disamping Ivona. Mereka tergesa-gesa segera menuju meeting room, karena berdasarkan informasi yang barusan dia dapat dari Madam Theodora, gadis itu diminta segera menuju ke ruangan itu. Terlihat tidak jauh dari mereka, Nyonya Carminda seperti sengaja menunggu kedatangan mereka. Memang sebelum menyusul dan menjemput Ivona, Dokter Rafi terlebih dulu memberi tahu Carminda jika putrinya diminta datang segera ke meeting room.


"Nana putriku..., mama akan selalu berada disampingmu. Jangan takut.., mama akan selalu melindungi dan menjagamu." dengan cemas, Carminda memeluk gadis itu. Dokter Rafi tidak berkomentar melihat interaksi itu.


"Mama tidak perlu panik seperti ini, Ivona bukan anak kecil momm.., Ivona sudah bisa menjaga diri. Mama kembali ke laboratorium saja, tidak perlu menemani Ivona. Kan sudah ada Dokter Rafi yang akan menemani, iya kan Dokter?" untuk menenangkan Carminda, Ivona meminta mamanya kembali.


"Hush.. apa yang kamu bicarakan. Sampai kapanpun kamu adalah putri mama. Melihatmu kembali sadar dan dalam kondisi sehat seperti ini, akan mama lakukan apapun untuk melindungimu putriku. Ayo.., mama akan bersamamu, kita bertiga akan menuju meeting room." tidak mendengarkan omongan putrinya, Carminda memimpin dengan berjalan di depan sambil tangannya menggandeng pergelangan tangan Ivona. Dokter Rafi mengambil nafas, kemudian laki-laki itu segera mengikuti dua perempuan itu di depannya.


Dalam perjalanan menuju meeting room, ketiga orang itu tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Ivona dengan santai tanpa pikiran apapun, berjalan mengikuti langkah Carminda. Di depan pintu meeting room, Carminda menghentikan langkahnya. Perempuan paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu, membalikkan badannya dan menatap mata putrinya.


"Nana..., mama yang akan menjawab semua pertanyaan yang akan diajukan padamu. Mama yang akan menanggungnya." dengan perasaan melindungi, Carminda berbicara pada Ivona.


"Momm.., tenanglah momm. Tidak akan terjadi apa-apa, karena Nana juga merasa tidak melakukan kesalahan apapun. Nana akan mampu menghadapi semuanya sendiri, tanpa bantuan mama. Percayalah mom..!" dengan tersenyum, Ivona berusaha meyakinkan Carminda.


"Iya Carmind.., kamu harus tenang dulu. Kita juga belum tahu, ada apakah Ivona sampai diminta datang ke meeting room ini. Aku akan ikut berbicara dan membela kalian jika memang ada sebuah kesalahan yang ditimpakan pada Ivona." Dokter Rafi menambahkan.

__ADS_1


Carminda menganggukkan kepala dan tersenyum kecut, kemudian perempuan itu kembali menggandeng tangan Ivona, dan membawanya masuk ke dalam. Begitu mereka sampai di dalam ruangan, tatapan tajam beberapa orang di dalam sangat mengejutkan Ivona. Apalagi saat matanya beradu pandang dengan Aldo, gadis itu sudah bisa membuat kesimpulan apa yang terjadi.


*************


__ADS_2