
"Apakah kamu sudah tidak bisa menundukkan hati kedua orang itu Vaya..?" Direktur atau Kepala Rumah Sakit Jiwa saat ini menemui Vaya di hotel yang dia tempati. Sampai hari ini Nyonya dan Tuan Iswara masih menyewakan kamar hotel untuk menginap Vaya. Hanya interaksi dan komunikasi antara mereka sudah mulai berkurang.
"Belum ayah..., maafkan Vaya! Mama dan papa akhir-akhir ini sudah mulai kurang menghubungi Vaya, tetapi jatah uang jajan masih selalu dikirim mereka." ucap Vaya sambil menunduk.
"Tidak bisakah kamu berusaha untuk memancing keprihatinan mereka terhadapmu, ayah khawatir posisi kita akan terancam. Jika kamu dapat memiliki bagian asset dari keluarga itu, kita bisa menjualnya. Kemudian kita akan meninggalkan kota ini, untuk pindah ke kota yang lain." dengan tekanan keras, Kepala Rumah Sakit Jiwa berharap pada Vaya.
"Apalagi sekarang, ada orang yang ikut campur dengan urusanku. Ayah dan anak buahku belum bisa menemukan siapa di balik ini. Apakah ketiga kakakmu dari keluarga Iswara itu, ataukah siapa? Tetapi berdasarkan laporan beberapa anak buahku yang sempat melarikan diri, orang ini betul-betul arogan." lanjut Kepala Rumah Skait jiwa.
Mendengar perkataan ayahnya, dahi Vaya menjadi berkerut. Dia ingat jika saat ini, dia sudah dicoret dari pembagian kepemilikan asset di keluarga Iswara. Tetapi gadis itu tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan pada pria paruh baya itu. Tiba-tiba gadis itu menjadi merasa sangat ketakutan, dia membayangkan wajah ketiga kakak laki-lakinya di keluarga Iswara. Wajah-wajah yang dulunya selalu manis menerima dan memanjakannya, akhir-akhir ini ketiga wajah itu memiliki aroma permusuhan dengannya. Hanya ketiga kakaknya itu tidak berani membantah pada Nyonya dan Tuan Iswara.
"Tapi ayah.., ketiga kakak laki-laki Vaya tidak memiliki keberanian untuk berdebat dengan papa dan mama. Atau jangan-jangan bukan mereka?" Vaya mengucap kata lirih. Gadis itu mengingat wajah Alexander yang penuh intimidasi, tetapi dia tidak memiliki keberanian untuk menyebut laki-laki muda itu. Dia masih memiliki tekad untuk mendekati pria yang merupakan CEO Kavindra Group itu.
"Baiklah.., ayah hanya mau menegaskan kepadamu Vaya. Jika kamu tidak berhasil mendapatkan pembagian asset dari keluarga Iswara.., kita akan kembali menjadi gelandangan di jalan. Ayah tidak dapat hanya mengandalkan gaji dari rumah sakit jiwa itu, karena kakakmu sudah menghabiskan semua uang yang kita miliki. Apalagi tinggal beberapa bulan lagi, ayah harus purna tugas dari situ." kata laki-laki paruh baya itu dengan cepat.
"Ya ayah.." Vaya tidak berani membantah keinginan ayahnya, dia hanya selalu menjawab iya.
__ADS_1
"Ayah akan pergi dulu.., jaga dirimu! Jangan lupa kamu ambil hati Nyonya dan Tuan Iswara!" Kepala Rumah Sakit Jiwa itu kemudian keluar dari kamar hotel sambil menutup pintu kamar.
Sepeninggal ayahnya, Vaya kembali terduduk di atas tempat tidur di kamar tersebut. Pikirannya menerawang jauh kemana-mana, sejak belum terbongkarnya kasus jika dia bukan putri keluarga Iswara. Limpahan kasih sayang, harta dari orang tua dan ketiga kakak laki-lakinya selalu diberikan hanya untuknya. Kekayaan dan materi yang dia miliki, menjadikan dirinya menjadi seorang gadis muda yang banyak didekati oleh murid-murid maupun teman-teman sebayanya. Tetapi setelah munculnya Ivona ke keluarga itu, kakak-kakaknya semula masih mengistimewakannya dan gadis itu tetap mendapatkan prioritas pelayanan di keluarga itu. Akhir-akhir ini semuanya mengalami perubahan drastis, meskipun transferan uang masih dikirimkan oleh Nyonya Iswara padanya, tetapi limpahan kasih sayang sudah banyak berkurang.
"Aku harus melarikan diri dari kota ini. Aku akan meminta transferan uang dari mama, setelah mendapatkan ijazah kelulusan, aku akan pindah dan mencoba hidup di kota lain. Aku juga harus menutup komunikasi dengan keluargaku sebenarnya." akhirnya Vaya bertekad untuk mengakhiri semuanya.
"Ivona Carminda..., lihat saja nanti!!"
**************
Tuan Iswara mengajak istrinya Nyonya Iswara untuk berbicara di balkon kamar mereka. Tuan Iswara membawa print out laporan keuangan bank, yang menunjukkan catatan transaksi debet dan credit dari traksaksi keuangan mereka.
"Ma.., dalam bulan ini saja hampir satu milyar mama mengirimkan uang pada Vaya. Belum lagi jika kita jumlahkan dengan bulan-bulan sebelumnya." Tuan Iswara mengawali pembicaraan. Laki-laki paruh baya itu menyerahkan print out itu pada istrinya, dan Nyonya Iswara hanya melihatnya sekilas.
"Bukannya dari dulu sudah seperti itu kan pa?? Dari sebelum Vaya harus meninggalkan rumah ini, mama selalu memanjakan Vaya dengan uang yang banyak." Nyonya Iswara membuat pembelaan diri.
__ADS_1
"Tapi ingat kondisi kita sekarang ma.. Kakek saat ini kembali mencermati laporan keuangan, dan semenjak Tuan muda Alexander ikut masuk membuat bisnis kemitraan dengan kakek, audit internal dan eksternal sangat jeli mengamati cash flow keuangan. Papa tidak bisa terang-terangan seperti ini lagi ma. Hentikan.., atau jika tidak bisa, kurangilah uang yang kamu kirimkan untuk Vaya. Mulai sekarang.., sudah saatnya kita harus mencoba untuk memperhatikan putri kandung kita." Tuan Iswara bersuara dengan sedikit keras pada Nyonya Iswara.
Nyonya Iswara terdiam, wanita paruh baya itu mencoba mengingat hal-hal baik tentang Ivona akhir-akhir ini. Tidak pernah sekalipun gadis itu meminta sesuatu darinya, dan juga tidak pernah berkeluh kesah sedikitpun tentang masalahnya. Banyak prestasi hebat berkaliber nasional yang diperoleh Ivona, tanpa sedikitpun dukungan sumberdaya darinya. Sangat beda dengan yang dilakukan Vaya.., untuk menyelenggarakan konser tur piano.. Nyonya Iswara mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk membayar iklan dan media massa. Tiba-tiba perempuan paruh baya itu merasa malu dengan perlakuannya terhadap Ivona.
"Iya pa.., mama akan mencobanya. Semoga mama bisa memperlakukan Ivona dengan baik." dengan kata lirih, Nyonya Iswara berbicara pada Tuan Iswara.
"Mulai sekarang.., hak akses mama atas kartu debit akan papa batasi. Mama hanya bisa mengoperasionalkan uang untuk kebutuhan rumah tangga saja, atau sekedar untuk membayar arisan. Sesuaikan dan rubah gaya hidup mama, terutama batasi uang untuk Vaya mulai saat ini!" tegas Tuan Iswara.
"Tapi pa..., apakah itu namanya papa tidak terlalu keras pada mama." Nyonya Iswara memprotes keputusan akhir yang diberikan suaminya.
"Tidak ma.., papa sendiri juga sudah dipisahkan antara rekening pribadi dan rekening perusahaan. Pengeluaran rekening perusahaan, harus mendapatkan otorisasi dari putra sulung kita Rio." kembali Tuan Iswara menegaskan.
Nyonya Iswara kembali terdiam, dia merasa kecewa dengan perkataan yang disampaikan oleh suaminya terakhir ini. Dia membayangkan bagaimana harus mengurangi atau menekan gaya hidupnya. Bagaimana dia harus mencoba mengerem kebiasaan buruk dari ajakan teman-teman sosialitanya, yang selalu mengiming-imingi akan barang-barang mahal dan branded. Tetapi saat suaminya sudah mengambil keputusan, ditambah dengan kehadiran kakek, keputusan suaminya itu tidak akan biisa dia rubah lagi.
*****************
__ADS_1