
Hari-hari selanjutnya Ivona menjalani kebiasaan sehari-hari dengan bahagia. Kebiasaan hidup di jalanan dan sebagai anak rumahan dia padukan keduanya dengan sangat seimbang. Seperti sore ini, Ivona meluangkan waktunya dengan mengajar anak-anak komplek mengulang pelajaran sekolah.
"Kakak..., untuk rumus yang ini cara mengerjakannya gimana ya kak??" seorang anak SMP klas VIII tampak kesulitan menyelesaikan rumus matematika. Ivona langsung bergeser ke anak yang merasa kesulitan tersebut.
"Ini dipangkat dulu sayang, setelah itu baru kita kalikan dengan semua angka yang ada di luar tanda kurung. Ayo dicoba, ketemu berapa! Nanti kita cocokan bareng-bareng." setelah melihat tipe soal yang sedang dikerjakan anak tersebut, Ivona menyampaikan cara cepat untuk pengerjaannya. Setelah beberapa saat...
"Kak... benar ya ketemunya angka 9?" tanya anak itu lagi dengan mata berbinar. Ivona tersenyum menganggukkan kepala, melihat kebahagiaan anak-anak menjadikan munculnya semangat untuk Ivona.
"Bunga bangkai itu bunga Raflesia ya kak..??" anak laki-laki kelas III SD mengkonfirmasi jawabannya sendiri. Tanda ibu jari diacungkan Ivona untuk mengapresiasi anak-anak itu.
Interaksi Ivona dengan anak-anak, tanpa sadar diamati oleh dua orang laki-laki muda dengan bersandar di pintu mobil. Setelah melihat Ivona sedikit longgar tidak diributi oleh anak-anak, laki-laki muda itu melangkah mendekati gadis muda itu.
"Selamat sore Dokter Ivona..." Ivona terkejut, melihat ada orang yang menyebutkan sisi lain dari identitasnya selama ini. Perlahan gadis muda itu mengangkat wajah dan menoleh ke sumber suara, melihat siapa yang datang dan menyapanya, gadis muda itu sedikit kaget. Ivona segera menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya sendiri, memberi isyarat agar laki-laki muda itu diam untuk sementara.
"Adik-adik.., sepertinya kalian sudah paham semua kan dengan materi yang kalian pelajari. Kalian bisa istirahat dulu dengan bermain-main terlebih dahulu.., atau mau melanjutkan materi yang baru. Tetapi kakak sedang ada tamu, jadi tidak bisa menemani kalian untuk saat ini. Besok sore kita akan lanjutkan lagi." melihat ada tamu yang ingin menemuinya, Ivona mengakhiri sesi lesnya.
"Kita mau main bola saja kak.., istirahat dulu." celetuk salah satu anak laki-laki.
__ADS_1
"Iya kakak.., terima kasih sudah mengajari kamu. Besok sore ya kak, di jam yang sama kita lanjutkan lagi," anak-anak kecil mengajak Ivona berjabat tangan, dan dengan sabar dan telaten Ivona menyalami mereka satu persatu. Richard tersenyum melihat pemandangan itu, di sudut hati kecilnya dia tidak tahu.., tiba-tiba laki-laki muda itu merasa bahagia menyaksikan hal itu.
"Maaf sudah menunggu, apakah Tuan akan bertemu dengan saya..?" setelah anak-anak pergi, Ivona bertanya pada laki-laki muda itu.
"Iya Dokter Ivona.., semoga Dokter memiliki waktu untuk berbincang dengan saya di sore ini." sambil tersenyum, laki-laki muda itu menjawab perkataan Ivona. Melihat laki-laki itu sepertinya tidak berniat buruk padanya, setelah menghela nafas akhirnya Ivona mengijinkan laki-laki itu untuk berbincang padanya. Apalagi dia juga tidak memiliki kepentingan mendesak di sore ini.
"Baik.., tidak sopan jika saya memperlakukan tamu hanya di depan rusun. Jika Tuan berdua berkenan, saya mengundang kalian untuk masuk ke ruang saya di rusun ini." dengan merendah, Ivona menawarkan kedua tamunya untuk masuk ke dalam ruangannya di lantai dua.
"Dengan senang hati Dokter Ivona.., kami akan menerima tawaran itu." sahut laki-laki muda itu cepat.
************
"Hanya satu cangkir kopi panas Tuan.., jika ingin menambahkan milk, ini saya siapkan disini." Ivona meletakkan nampan berisi tiga cangkir kopi hitam panas. Satu kaleng susu beruang, juga disiapkan Ivona.
"Sudah sangat istimewa sekali Dokter.., terima kasih akan jamuannya." dengan ramah laki-laki itu mengambil toples makanan ringan yang sudah ada di atas meja. Dengan cepat tangannya membuka tutup toples dan mengambil beberapa buah kue nastar dan meletakkan di atas cawan kecil. Beberapa saat mereka menikmati kopi dan camilan, terlihat laki-laki muda itu kerasan di ruang kecil milik Ivona.
"Tuan Richard.., tidak mungkin bukan, jika tidak ada kepentingan, Tuan Richard akan berkunjung kesini?" dengan nada sarkasme, Ivona menyapa Richard. Laki-laki muda itu tersenyum, kemudian mengambil tissue basah dan mengelap tangannya.
__ADS_1
"Dokter Ivona.." belum selesai Richard berbicara, sudah dipotong oleh Ivona.
"Tuan Richard.., tolong jangan sebut saya dengan panggilan Dokter. Saya tidak memiliki expertise di bidang itu, dan saya juga tidak memiliki sertifikasi profesi untuk bisa dipanggil sebagai dokter." dahi Richard berkerut mendengar perkataan Ivona, dengan antusias laki-laki itu menatap Ivona tanpa berkedip.
"Saya tidak menyalahkan jika Tuan Richard meragukan saya, saat membantu Dokter Marcus untuk melakukan tindakan operasi pada Tuan Frans. Jadi bukan karena saya Tuan Richard.., keberhasilan tindakan operasi tersebut itu karena kerja tim, dan juga semangat untuk sembuh dari Tuan Frans yang sangat besar." Ivona merendahkan dirinya. Tetapi Richard yang sudah mengirimkan orang-orangnya untuk dapat menembus informasi tentang gadis itu, sedikitpun tidak meragukan Ivona. Laki-laki muda itu malah tersenyum.
"Aku tidak terlalu peduli dengan sertifikat profesi Dokter.., bagiku dan semua anggota keluargaku tetap melihat Dokter Ivona sebagai penolong keluargaku. Kedatangan saya kesini untuk menyampaikan pesan dari papa... Dokter. Pertama aku minta maaf karena pernah meragukan Dokter, kedua kedatanganku untuk mengucapkan terima kasih. Sampaikan padaku, apresiasi apa yang harus aku berikan untuk Dokter.., apakah apartemen, rumah, atau mobil??" Richard menawarkan apresiasi untuk Ivona. Tetapi gadis muda itu malah menanggapinya dengan senyuman kecut.
"Apakah Tuan Richard melihatku saat ini seperti orang kekurangan?" dengan smirk, Ivona bertanya pada Richard.
"Untuk gadis sepertiku Tuan.., tinggal di tempat ini, sudah sangat bersyukur untukku. Lebih dari cukup.., aku dikelilingi banyak orang yang menyayangiku." Ivona melanjutkan kalimatnya.
Richard mengambil tas yang dibawa laki-laki muda yang ikut mendampinginya, kemudian mengambil satu lembar cek. Setelah menulis sebentar, laki-laki itu meletakkan lembaran cek tersebut di depan Ivona.
"Terimalah Dokter..!" ucap Richard sambil menatap Ivona. Tangan Ivona menyingkirkan cek, dan kembali meletakkan di tangan laki-laki muda itu.
"Jika kedatangan Tuan kesini hanya untuk menyerahkan kertas ini padaku, aku harap kalian berdua segera keluar dari ruangan saya. Harga diri saya tidak bisa dihargai hanya dengan satu lembar cek.." dengan nada tinggi, Ivona mengusir Richard dan teman laki-lakinya untuk meninggalkan ruangan.
__ADS_1
*************