
Semua yang berada di ruangan tengah, terkejut mendengar pertanyaan Alexander yang ditujukan untuk Ivona. Mereka merasa pertanyaan itu menimbulkan kesan, jika keduanya memiliki hubungan yang akrab dan sudah saling mengenal sebelumnya. Apalagi pria muda itu bahkan mengetahui panggilan Ivona saat dia masih kecil, bahkan kedua orang tuanyapun tidak pernah memanggilnya seperti itu.
"Jadi Tuan Alex ini sudah mengenal Ivona adikku, sepertinya kalian berdua memiliki kedekatan secara emosional?" melihat sikap Alexander terhadap Ivona, Thomas langsung bertanya langsung pada pria muda itu.
"Menurut anda bagaimana.., aku tidak akan bilang jika aku mengenal Nana, kecuali Nana sendiri yang mengakui aku jika kita sudah mengenal cukup lama." sambil tersenyum tanpa melihat Thomas, Alexander menjawab pertanyaan Thomas. Dia senyum-senyum sambil melirik pada Ivona, tetapi gadis itu malah memalingkan muka darinya.
"Oh begitu ya.., biarlah semua menjadi urusan adik saya. Apakah akan mengakui atau tidak jika dia mengenalmu." ucap Thomas akhirnya sambil tersenyum masam.
Alexander diam tidak menanggapi perkataan yang disampaikan Thomas.
"Begitukah??? Ayolah cucuku..., apakah kamu sudah mengenal Tuan Alexander ini sebelumnya?" tanya kakek dengan senyum bahagia pada Ivona.
Ivona memandang kakeknya, dan terlihat kilatan di matanya, gadis itu hanya sedikit menganggukkan kepalanya. Karena tidak mungkin jika dia akan memberi tahu keluarga ini, jika dia tidak hanya mengenalnya bahkan mereka pernah berada dalam satu hotel bersama, dan tinggal dalam satu rumah bersama. Ivona yakin, jika anggota keluarganya tahu apa yang sudah dia lakukan di rumah Alexander, maka ke depan dia tidak akan mendapatkan tempat yang baru untuk melarikan diri.
"Jujur kakek.., saya lebih menyukai cucu anda yang ini, Ivona atau Nana kecil. Dia terlihat menggemaskan dan menantang untuk saya dekati." ucap Alexander tiba-tiba sambil memberi kedipan kecil pada Ivona.
Merasa jengkel terhadap sikap Alexander yang tampak memojokkan dan menggodanya, kaki Ivona dengan keras dia tendangkan ke kakinya. Dengan memandang pada wajah kakeknya yang selalu tersenyum, muncul senyuman di mulut gadis itu.
"Kebetulan kakek..., Ivona mengenal Tuan Alex ini tidak dengan sengaja. Malah Ivona tidak tahu, jika ternyata dia begitu mengejutkan." Ivona menjawab pertanyaan kakeknya sambil memelototi pria muda itu.
"Ha..ha..ha.., kakek sama sekali tidak menyangka. Beberapa bulan kakek tidur di rumah sakit, ternyata cucu kakek bisa mengenal CEO Kavindra Group lebih dulu, daripada aku kakeknya yang sudah tua ini." kakek langsung tertawa senang.
__ADS_1
*******************
Tiba-tiba dari arah dapur, terlihat pelayan mengantarkan minuman beserta kue untuk Jack dan Alexander. Vaya berusaha mengalihkan perhatian Alexander dari Ivona padanya, dia langsung menerima nampan itu kemudian meletakkannya di atas meja. Pelayan memberikan minuman untuk Jack di depannya, sedangkan minuman untuk Alexander langsung diambil Vaya dan diletakkannya di depannya.
"Ini minumnya Tuan Alex.., mumpung masih panas silakan dinikmati terlebih dahulu!" Vaya dengan muka dan sikap manis memberikan cangkir teh beserta piring kecil pada Alexander. Tetapi sedikitpun, pria muda itu tidak memperhatikannya, tatapan Alexander tidak terlepas dari Ivona.
"Nana.., tadi kamu bilang kita bisa kenal karena tidak sengaja ya?? Tapi sudah berapa kali ya kita pergi berdua, dan dengan sengaja kita berjumpa, kenapa tidak sekalian disampaikan pada kakek dan anggota keluarga yang lain?" tanya Alexander sambil tersenyum.
"Dug.." dengan sengaja, Ivona menendang betis Alexander sedikit keras, memberi isyarat agar dia menutup mulutnya.
"Aduh..., kenapa ada kaki nyasar sih di bawah meja, apa yang punya tidak mengkondisikannya ya?" celetuk Alexander yang pura-pura kesakitan, sambil memegang kakinya yang barusan terkena tendangan cantik dari Ivona.
"Iya Ivona.., tamu itu untuk disambut dan dihormati. Perlakukan dengan sopan dan baik, jangan bertindak kurang ajar padanya!" Tuan Iswara ikut menegur Ivona.
"Papa.., mama..., dengan berani memperlakukan Tuan Alex seperti itu, berarti menjadi bukti kan jika Ivona memiliki kedekatan dan keakraban dengan Tuan Alexander." tiba-tiba terdengar suara Thomas membela Ivona.
Ivona mengabaikan teguran dariTuan dan Nyonya Iswara, dia malah memelototi Alexander yang tidak berhenti menggodanya dari tadi.
"Kakek.., Nana ini cucu kakek juga ya? Terlihat kebih menggemaskan kalau dia sedang marah. Aku jadi lebih tertarik untuk mengenalnya lebih dekat." Alexander tiba-tiba bertanya pada kakek untuk mengerjai Ivona.
__ADS_1
"Iya nak Alex..., Ivona ini cucu kandung Kakek. Maafkan semua sikapnya ya, maklumlah karena dia memang masih terlalu kecil dan anak-anak!" kakek tersenyum dan minta maaf atas nama Ivona.
"Kakek tidak perlu sungkan terhadap saya kek. Saya suka kok dengan semua yang ada di Ivona.. semuanya lucu dan menggemaskan. he..he..he..., iya ga Nana?" Alexander tidak berhenti terus berusaha menggoda gadis itu.
Semua yang duduk di ruangan itu menjadi terbengong dan hanya menjadi penonton komunikasi tiga arah antara Alexander, kakek, dan Ivona. Thomas merasa tersingkir dengan hadirnya Alexander, dalam hati kecilnya terselip perasaan kurang suka dengan kedatangan pria muda itu. Tetapi selagi kedatangannya tidak membuat Ivona tidak tersudutkan di keluarga, Thomas masih bisa menerimanya. Terlebih Vaya dan Nyonya Iswara, dari tadi merasa jengkel karena tidak ada sedikitpun celah agar Vaya bisa masuk dan bergabung dalam pembicaraan.
"Tuan Alexander.., kenalkan nama saya Vaya, yang tadi baru saja disebut oleh mama. Saya juga cucu dari kakek." merasa tidak tahan akan obrolen panjang Alexander dengan kakek dan Ivona, Vaya memotong pembicaraan, dan mulai mengenalkan dirinya.
"Ehem.." Alexander mengacuhkan perkataan Vaya, dan dia hanya berdehem dengan tetap menatap pada Ivona.
"Alex.., ini lho ada putri Tuan dan Nyonya Iswara." merasa kasihan dengan Vaya, Jack mencoba mengingatkan Alexander.
"Iya Tuan Alex..., ini putri kami Vaya namanya. Anaknya sangat famous di sekolahnya, banyak prestasi akademik maupun non akademik yang sudah berhasil dia raih. Dia juga seorang pianis, bahkan barusan.., Vaya baru selesai melakukan tur main piano." melihat Vaya diacuhkan oleh Alexander, Nyonya Iswara memuji putri kesayangannya itu.
Tetapi sama sekali Alexander tidak merespon perkataan Nyonya Iswara.
"Saya rasa putri saya Vaya sangat cocok dan sebanding, jika CEO Kavindra Group mau berjodoh dengan putri kami Vaya. Bagaimana Tuan Alex?" lanjut Nyonya Iswara.
"Bisa tidak kamu disini tidak memaksakan kehendakmu pada tamu kehormatan keluarga kita?? Putrimu ada dua, kenapa kamu hanya memilih Vaya untuk kamu tawarkan pada Nak Alex. Kenapa Ivona tidak ikut kamu perkenalkan dan kamu puji juga. Jadi seorang ibu itu biasakan adil, jangan pilih kasih." di depan tamu, terdengar suara kakek menegur Nyonya Iswara. Dari nadanya yang tinggi, terlihat jika kakek sedang marah.
__ADS_1
*******************