Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 142 Bosan


__ADS_3

Suara alat medis untuk kanker otak tanpa suara tampak sedang beroperasi dengan halus. Sebuah mesin dengan banyak kabel-kabel halus di dalamnya, sukses diuji cobakan untuk melakukan operasi pada orang hutan. Binatang itu digunakan sebagai target untuk operasi, karena memiliki susunan konstruksi saraf yang mirip dengan manusia. Michael dengan serius memegang peralatan kecil untuk melakukan deteksi keakuratan alat, jika nanti digunakan untuk manusia. Ivona tiba-tiba memerah pipinya saat melihat Michael dengan keseriusannya, ternyata mirip seorang profesional yang sangat tampan. Tiba-tiba dia melihat bayangan Alexander dalam angannya, tapi dengan segera Ivona kembali fokus ke acara.


"Plok.., plok.., plokk..., excellent." tiba-tiba Michael bertepuk tangan dan memuji alat medis tersebut.


"Wow.., akhirnya kita memiliki hak patent pertama kali untuk alat medis ini. Selamat Miss Ivona..., anda betul-betul smart." seorang pakar kedokteran memuji Ivona dengan tulus.


"Prok.., prok.., prok..., selamat.., selamat.." para tamu yang hadir dalam trial error mendatangi Ivona dan mengulurkan tangan untuk mengajak berjabat tangan.


Michael tersenyum melihat Ivona yang sangat jengkel padanya. Setelah para tamu kembali fokus mengamati cara kerja alat medis tersebut, Ivona kembali duduk di kursi. Michael mendatangi gadis itu, dan Marcus menatapnya dengan perasaan jengkel.


"Aku betul-betul under estimated padamu Iv.., maafkan aku! Bolehkan kita berdamai.." ucap Michael dengan tatapan serius.


"Berdamai??? Aku merasa tidak ada urusan apapun denganmu, kenapa kita harus berdamai." Ivona malas merespon Michael. Gadis itu tetap memnadang iPad yang masih menyala di tangannya, tidak ada yang mengira jika gadis pencipta peralatan medis itu sedang bergabung MABAR dalam permainan game.


"Aku  akan mengajakmu malam ini untuk makan malam. Mau ya..!" bisik Michael ke telinga Ivona. Matanya melirik screen iPad di tangan Ivona, dan tanpa sadar laki-laki itu tersenyum melihat permainan game yang masih berlangsung.


Ivona menengok ke arah Michael, yang dengan senyum manis laki-laki keturunan bule itu masih menatapnya. Hati Ivona sedikit berdesir melihat senyuman itu, tetapi dengan cepat Ivona kembali menampakkan kejudesan pada Michael.


"Lihat situasinya Mr..., ini suasana formal. Tidak malukah kamu merayu seorang gadis?" tanya Ivona judes.


"Lihat screen iPadmu miss.., apakah saat ini juga memperlakukan pertemuan ini menjadi sesuatu yang formal?" Michael balik bertanya sambil tangannya menunjuk ke screen iPad.


Ivona memerah mukanya, kemudian dia menyimpan iPad ke dalam tasnya tanpa mematikan. Dia kembali fokus melihat diskusi yang ada di depan. Marcus mendatangi Ivona.., saat dia melihat gadis itu kesulitan menghindari Michael.


"Iv.., kita pulang sekarang atau kamu masih ingin berada di tempat ini?" tanya Marcus pada Ivona. Dia sama sekali tidak sekedar berbasa-basi pada Michael.

__ADS_1


"Okay.., pulang saja yukk. Aku juga sudah merasa bosan di tempat ini." Ivona langsung mengiyakan ajakan Marcus. Marcus langsung menarik tangan Ivona.., dia kemudian tanpa permisi membawa Ivona pergi keluar dari tempat itu.


Melihat Marcus dan Ivona meninggalkan meeting room, Michael mengikuti keduanya keluar. Merasa satu hotel dengan Ivona, Michael segera menuju ke tempat Marcus memarkir mobilnya.


"Marcus.., Ivona..., wait for me!" Michael berlari menghampiri mereka berdua.


"Yapz.., ada apa Tuan Michael?" dengan sopan, Marcus bertanya padalaki-laki itu.


"Aku dan Ivona kebetulan menginap di tempat yang sama. Aku bareng kalian juga ya pulangnya?" tanpa tahu malu, Michael minta ijin untuk pulang ke hotel bareng.


***********


Ivona betul-betul sudah merasa bosan dengan apa yang dia lakukan di Hong Kong. Dia merasa tidak mendapatkan tantangan sama sekali. Keinginannya untuk berada  di negara ini, ternyata perlahan memudar melihat hari-harinya yang hanya berada di pusat komputer, meneliti, membuat konsep, laboratorium. Gadis itu merasakan ada yang hilang dari dalam dirinya, tetapi dia tidak tahu apa yang telah hilang.


"Dari mana kamu tahu jika aku sedang menginginkan pancake?" tanya Ivona tanpa melihat pada laki-laki itu, dia langsung memotong pancake dengan garpu kecil dan memasukkan ke mulutnya. Pagi itu seperti biasa, Michael menunggu Ivona untuk melakukan breakfast bersama. Saat Ivona meminta waiters untuk mengambilkan pancake dan satu cangkir kopi panas, Michael dengan sigap mengambilkannya untuk gadis itu.


"Sepertinya hari ini kita agak luang Iv.., gimana jika kita berjalan-jalan bersama." Michael mengajak Ivona.


Ivona menengadahkan wajahnya, dia melihat pada Michael.


"Aku ingin segera kembali ke negaraku Mike.., ternyata waktu satu minggu yang aku perkirakan, sudah bergeser terlalu jauh. Aku berada di negara ini sudah mendekati wakti 2 minggu." tanpa menjawab pertanyaan Michael, Ivona tanpa sadar melakukan curcol pada laki-laki itu.


"Apa yang kamu rindukan disana?? Teman sekolah, ataukah keluargamu?" tanya Michael sambil tersenyum.


Ivona terdiam, dia sendiri juga bingung akan menjawab pertanyaan Michael. Dia yang terbiasa memikirkan urusan sendiri di Indonesa, saat ini bagaikan seorang putri dia diurusi oleh Marcus dan tim untuk urusannya sehari-hari.

__ADS_1


"Aku sendiri tidak tahu apa yang aku rindukan Mike.., mungkin teman sekolah, keluarga atau apa. Aku sendiri tidak dapat mendeskripsikannya." ucap Ivona sambil menyesap kopi panas dari cangkirnya.


Michael melihat pada Ivona yang sedang melamun. Hari-hari dia lalui bersama dengan Ivona, menjadikan gadis itu akhirnya mau berteman dengannya. Tetapi laki-laki itu merasa kesulitan untuk melangkah lebih jauh pada Ivona.


"Hey Iv..., aku ketuk-ketuk pintu kamarmu ternyata kamunya sudah ada disini." tiba-tiba Marcus sudah berdiri di sampingnya.


Ivona dan Michael menoleh ke arah pemuda itu, kemudian..


"Iya Marc.., aku kebiasaan lapar jika bangun tidur. Agenda rutin harian.." jawab Ivona sambil tersenyum.


"Ganggu ga nih aku.., kalo ga aku join duduk disini ya.." Marcus berbasa basi ingin join. Di tangannya sudah membawa satu piring berisi potongan toast isi tuna, dan satu cangkir kopi panas.


"Duduk aja kali.., kayak dengan siapa saja. By the way.., hari ini kita masih ada acara apa Marc..? Aku ingin pulang ke Indonesia secepatnya." tanya Ivona pada Marcus.


Marcus yang sedang mengunyah toast, meletakkan garpu kemudian menyesap kopinya.


"Kamu berani mau pulang sekarang.., kamu ingat gak?? Sepertinya ada jejak kamu tinggalkan deh, sebelum kamu datang kemari?" tanya Marcus, dan karena alasan untuk melindungi gadis itu, dia memberi banyak tugas tambahan pada gadis itu.


Michael menoleh ke arah Marcus.. Sedangkan senyuman muncul di mulut Ivona.


"Halahh, masalah kecil itu.. he.., he.., he.. Biasanya kamu yang bersihin namaku Marc.." setelah teringat hal kecil yang dia lakukan dengan tindakan usil ke pusat komputer nasional.


"Makanya besok lagi, berpikirlah sebelum melakukan sesuatu. Belum semua negara bisa menghargai kemampuan warga negaranya.., bisa-bisa masuk penjara kamu." tukas Marcus.


**************

__ADS_1


__ADS_2