
Tuan Frans yang tidak sempat melihat dengan jelas wajah Ivona pada saat akan dilakukan tindakan operasi, saat ini bisa dengan jelas mengamati Ivona. Tingkah laku dan wajah Ivona sangat mirip dengan seseorang di masa lalu, yang membuatnya sangat menyesal. Hingga orang itu tidak terdengar lagi keberadaannya sampai sekarang.
"Kamu sangat luar biasa gadis muda.., kepiawaianmu memimpin tindakan operasi atas penyakitku, aku akui jika itu sangat mengagumkan. Berbagai rumah sakit di negara ini, sudah menyerah untuk menangani penyakitku, ternyata bagimu hanya butuh waktu beberapa jam untuk menyembuhkanku." Tuan Frans memuji Ivona.
"Tuan terlalu apresiatif dalam memuji saya. Tindakan operasi itu bisa berhasil, karena kerja keras dengan semua tim Tuan.., saya hanya mengarahkan bagaimana mereka harus bekerja keras. Tuhan yang menentukan semuanya Tuan." dengan sikap merendah, Ivona menanggapi apresiasi dari Frans. Richard hanya bertindak sebagai pendengar atas komunikasi antara papanya dengan gadis itu.
"Terus ada dimana kamu Dokter.., setelah aku siuman, aku menanyakanmu dan Dokter Marcus pada pihak rumah sakit. Untuk Dokter Marcus.., meskipun aku tidak bisa menemuinya, tetapi aku mendapatkan kabar akan kesibukannya sebagai peneliti senior. Tetapi tentangmu.., rumah sakit sangat menjaga dengan keran privacymu. Bahkan dengan kekuatanku, aku tetap bisa menembusnya." kembali Frans menceritakan betapa sulitnya untuk mendapatkan informasi tentang Ivona. Gadis muda itu tersenyum mendengar keluhan dari laki-laki tua itu.
"Nanti Tuan Frans bisa menanyakan pada Tuan Richard.., beliau akan dapat menjelaskannya. Untuk saat ini, saya melihat keadaan Tuan sudah sangat sehat. Tinggal konsumsi vitamin saja, dan mengurangi makanan berlemak Tuan. Tapi jika hanya sekali-sekali saja, juga boleh." tidak mau membuat kaget laki-laki tua itu, Ivona tidak menceritakan jati diri yang sebenarnya. Tiba-tiba mata Ivona melihat ada sebuah foto, dalam bingkai yang ada di almari kaca dalam ruangan itu. Dahinya sedikit berkerut, karena foto itu sama persis dengan foto yang ada di dalam kamarnya. Melihat gadis muda itu tertegun saat melihat almari kaca, Tuan Frans dan Richard ikut melihat ke arah gadis muda itu memandang.
"Ada apa Nana.., apa yang kamu perhatikan di almari kaca papa?" Richard merasa penasaran, dan memberanikan diri bertanya langsung pada Ivona.
"Apakah saya bisa diijinkan untuk melihat foto gadis muda yang ada di almari kaca itu Tuan?" ucap Ivona yang mengejutkan Richard, yang mengingatkannya pada suatu kejadian di waktu lalu. Pernah pada suatu hari, maid tanpa sengaja menjatuhkan pigura foto itu dan pecah kacanya. Tanpa bertanya apapun, Tuan Frans langsung memecat maid tersebut. Untuk menjaga agar tidak terulang kejadian yang sama ke depannya, maka pigura itu mulai saat itu disimpan dalam almari kaca.
Richard memandang ke wajah papanya, dan laki-laki muda itu melihat ada keterkejutan di wajah laki-laki tua itu.
__ADS_1
"Bagaimana pa..., Nona Nana ingin melihat foto dalam pigura itu?? Apakah papa mengijinkannya?" dengan hati-hati, Richard bertanya pada Tuan Frans.
Laki-laki tua itu terdiam untuk beberapa saat, terlihat Tuan Frans mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya lagi. Tuan Frans melihat ke wajah Ivona.., tidak tahu kenapa tiba-tiba laki-laki tua itu merasakan suatu kedekatan dengan gadis muda itu.
"Ambilkan..!" ucap Tuan Frans dengan suara lirih. Tanpa menunggu lagi, Richard langsung berdiri dan melangkah ke almari kaca. Pigura foto lama dikeluarkan dari almari kaca itu, dan dengan hati-hati diberikannya pada Ivona.
Ivona menerima pigura foto itu, dengan pelan mengusap foto wajah mamanya waktu masih muda. Tiba-tiba hati kecilnya terasa pedih, gadis muda itu merindukan mamanya. Perlahan Ivona mendekap pigura itu di depan dadanya, dan beberapa saat sudut mata Ivona tergenang air mata. Tingkah laku gadis muda itu diamati oleh Richard dan Tuan Frans.
"Jangan-jangan.." gumam Tuan Frans lirih, matanya tidak berpindah pandangannya dari gadis itu. Richard menoleh, dan laki-laki muda itu bingung dengan yang terjadi di depannya saat ini.
*********
"Nana.., apakah kamu kenal dengan foto dalam pigura itu?" tanya Richard dengan suara pelan. Perlahan Ivona menghapus air mata yang tergenang di sudut mata menggunakan jari tangannya, kemudian tanpa diduga sama sekali, gadis muda itu menganggukkan kepala. Tuan Frans terkejut dengan jawaban Ivona.
"Jangan-jangan kamu.." ucap Tuan Frans. Richard dan Ivona segera menoleh ke wajah laki-laki tua itu. Tampak seperti ada harapan baru yang muncul di wajah laki-laki tua itu.
__ADS_1
"Siapa orang yang ada dalam foto itu..? Jawab Ivona..!" tanpa sama sekali mereka duga, Tuan Frans tiba-tiba bertanya dengan suara sedikit keras. Richard terkejut dan bergeser mendekati papanya, kemudian merangkul Tuan Frans untuk menenangkannya.
"Dia foto mama saya, dan saya juga memiliki foto ini persis, dan ada di atas meja kamar saya. Nama mama saya adalah Carminda Fabiola, dan nama depannya diabadikan untuk nama belakang saya." ucap Ivona lirih, gadis itu bertanya-tanya, ada hubungan apa antara mamanya dengan laki-laki tua di depannya itu. Gadis muda itu melirik Richard, tetapi laki-laki muda itu hanya mengangkat kedua bahunya ke atas.
Melihat jawaban yang ditunjukkan oleh Ivona, Tuan Frans menjadi terkejut. Dengan mata yang tiba-tiba berlinang, laki-laki tua itu tidak berkedip melihat gadis muda itu. Keheningan kembali meliputi di dalam ruangan. Richard kebingungan melihat perubahan emosi papanya.
"Apakah Tuan Frans mengenal mama saya?? Jika tidak, untuk apa Tuan menyimpan foto saya disini." dengan penuh tanda tanya, Ivona bertanya pada laki-laki tua itu. Mendengar pertanyaan gadis muda itu, Tuan Frans menganggukkan kepala, dan air mata yang tergenang di kelopak matanya perlahan mengalir di pipinya yang sudah keriput. Melihat reaksi laki-laki tua itu, Ivona dan Richard tersentak. Keduanya saling berpandangan.
"Ada dimana Carminda saat ini berada?? Ada hal yang sangat perlu untuk aku konfirmasi kepadanya." tiba-tiba Tuan Frans bertanya tentang keberadaan mama Ivona. Gadis itu tersentak mendengar pertanyaan Tuan Frans.
"Ivona sudah sekian lama belum berjumpa dengan mama Tuan.. Kata Bibi Sonya.., orang yang suka membantu di rumah, mama pergi ke laboratorium. Ivona juga tahu.., tidak semudah pikiran kita, jika ingin bertemu dengan mama." sambil tersenyum kecut, Ivona menjawab pertanyaan Tuan Frans.
"Untuk papamu.., apakah masih hidup?" Tuan Frans terus mengejar pertanyaan pada gadis muda itu. Ivona terdiam, dalam hatinya dia merasa heran. Untuk apa Tuan Frans ingin mengetahui papanya, dia saja dari lahir sampai sekarang belum pernah melihat keberadaan papanya.
"Saya belum pernah melihat papa Tuan.., kata mama papa sudah meninggal sejak saya belum terlahir ke dunia ini." ucap Ivona lirih.
__ADS_1
*************