
Tommy langsung berdiri mendengar perkataan Alexander. Sebagai kakak kandung Ivona, dia masih bisa mentolerir keluarnya Ivona sendiri ke restaurant itu. Apalagi masih di jam sore hari, sehingga dia memiliki kewajiban untuk membela adiknya itu. Tetapi baru saja Tommy akan berbicara...,
"Apa yang akan kak Alex lakukan pada Ivona..? Hak apa yang dimiliki kakak untuk mengendalikan apa yang Ivona mau?" tanpa ada yang menduga, Ivona berani menjawab perkataan Alexander. Gadis muda itu menatap balik tatapan CEO Kavindra Group itu.
Alexander kaget mendengar jawaban yang keluar dari mulut gadis itu.., tiba-tiba laki-laki itu menarik tubuh Ivona, kemudian memeluk gadis itu di depan Tommy dan Caroline. Alexander menundukkan wajahnya, dan tanpa permisi Alexander menempelkan bibirnya di bibir Ivona. Mata Caroline dan Tommy terbelalak melihat kenekatan laki-laki itu. Tanpa tahu malu, di depan orang laki-laki itu berani mencium bibir seorang gadis.
"Plakk.. kak Alex jahat.." terdengar suara tamparan di pipi Alexander yang dilayangkan oleh Ivona. Caroline menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut.., sedangkan Tommy langsung berdiri untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada Ivona.
"Kamu memang perempuanku Nana.." di luar dugaan, Alexander tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan. Laki-laki itu malah semakin memeluk erat tubuh Ivona sambil tersenyum. Ivona berusaha melepaskan diri dari pelukan Alexander, kedua tangannya mendorong dada Alexander.. tetapi tenaga seorang perempuan memang tidak sekuat tenaga seorang Alexander.
"Hentikan marahmu Na.., duduklah bersamaku!" dengan suara lembut, Alexander mendudukkan Ivona di kursi kosong sebelahnya. Masih dengan tatapan kemarahan, akhirnya Ivona menuruti kemauan Alexander. Melihat adiknya sudah mulai tenang, Tommy mengambil nafas lega. Sambil melotot.., Tommy menatap Alexander.
"Tuan Muda Alex.., sepertinya ada kesalah pahaman disini. Ivona ini adalah pencipta lagu yang akan Carol kenalkan pada Tuan Muda. Kenapa semuanya malah menjadi masalah seperti ini." Caroline akhirnya menginformasikan pada Alexander dan Tommy. Ivona diam tidak menanggapi perkataan Caroline.
Tommy kembali terkejut mendengar ucapan Caroline.., kembali laki-laki itu menatap dengan tatapan menyalahkan pada Alexander. Sedangkan laki-laki yang ditatap itu hanya senyum cengar-cengir seperti merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
"Jika kamu hanya membawaku untuk menemui dua orang preman ini Carol.., lebih baik kamu tidak mengajakku kesini. Kamu bisa menawarkan laguku pada produser di luar negeri jika kamu berniat untuk menfilmkannya, bukan ditawarkan pada orang yang tidak memiliki rasa malu." dengan nada sarkasme, Ivona akhirnya mengeluarkan suara. Mendengar Ivona menyebut kedua orang penting di industri film itu dengan sebutan preman, Caroline tidak berani memberikan komentar.
__ADS_1
"Maaf Iv.., aku sama sekali tidak tahu, dan sedikitpun aku juga tidak mengira jika kamu ternyata memiliki hubungan kedekatan dengan Tuan Tommy dan Tuan Muda Alexander." Caroline membela diri, dia menjelaskan alasan kenapa mempertemukan Ivona dengan dua laki-laki ini.
"Ampuni dan maafkan kakak Na.., jangan salahkan kakak karena terlalu over protective padamu!" akhirnya terdengar permintaan maaf Alexander untuk Ivona. Tanpa ada yang menduga, tiba-tiba Alexander menjatuhkan dirinya di lantai. Laki-laki itu menekuk satu kakinya di atas lantai, dan satu kakinya dengan posisi diangkat. Perlahan tangan Alexander meraih tangan Ivona.., kemudian mencium punggung tangan Ivona.
Tommy dan Caroline menahan nafas melihat sikap gentle Alexander. Tetapi mereka berdua tidak berani menyela. Ivona hanya diam, sama sekali gadis itu tidak mengeluarkan suara.
**************
Agar tidak mengecewakan Caroline.., akhirnya Ivona menyetujui untuk menjalin kerjasama dengan kakaknya dan Alexander. Meskipun hubungan mereka sangat dekat, tetapi Ivona tetap ngotot untuk ada acara penanda tanganan memorandum of understanding (MOU) antara mereka. Kedua laki-laki itu menyetujui usulan Ivona..., dan dalam waktu dekat mereka akan segera merealisasikannya.
"Panggil saja namaku langsung.., tidak perlu menyematkan kata Tuan." Tommy ingin mengakrabkan diri dengan Caroline. Melihat upaya dilakukan Tommy, Alexander seperti tahu diri. Laki-laki muda itu kemudian berdiri..., kemudian mengulurkan tangan pada Ivona. Gadis itu mendiamkan Alexander, dia malas bertegur sapa dengan laki-laki itu.
"Nana.., apakah kamu mau mengganggu upaya kakakmu untuk mendekati temanmu?" Alexander menundukkan kepala, dan berbisik ke telinga Ivona. Mendengar bisikan itu, Ivona memandang Alexander dan laki-laki itu menganggukkan kepala.
"Carol.., temani kakakku Tommy ya! Aku ada urusan yang lebih penting di tempat lain." tiba-tiba Ivona seperti termakan bujukan Alexander. Gadis itu langsung mengikuti Alexander, dia berdiri dan berbicara dengan Caroline.
Muka Caroline bersemburat merah.., tetapi gadis itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Demikian juga Tommy, sambil tersenyum smirk, laki-laki itu mengacungkan jempol pada Alexander.
__ADS_1
Alexander langsung merangkul bahu Ivona.., kemudian mengajak gadis itu untuk keluar dari restaurant. Di luar restaurant.., Ivona menolak untuk diajak Alexander masuk ke mobilnya.
"Kenapa lagi Nana.., bukannya kita sudah berbaikan? Apa lagi yang membuatmu kesal padaku?" Alexander bertanya pada Ivona. Dengan sabar.., laki-laki itu menunggui Ivona.
"Kakak pulang sendiri saja dulu. Ivona masih ingin berjalan-jalan menikmati angin malam sendiri." tiba-tiba dengan muka datar, Ivona meminta Alexander untuk meninggalkannya. Laki-laki itu terkejut, dia langsung menatap Ivona dan memegang kedua bahunya.
"Apa yang kamu katakan Nana..? Jika kamu masih ingin pergi malam ini.., ayo kita pergi berdua. Aku akan menemanimu, tidak baik seorang gadis keluar sendiri di malam hari." Alexander bermaksud untuk menemani Ivona, tetapi gadis itu menggelengkan kepala. Mengingat jika gadis itu bisa melarikan dirinya ke bar.., Alexander tidak mau gambling. Tanpa peringatan, laki-laki itu langsung mengangkat tubuh Ivona dan mebawanya pergi.
"Turunkan Ivona kak.., turunkan..!" Ivona berteriak sambil memukuli punggung Alexander. Melihat siapa yang membawa gadis itu pergi, security restaurant Madam Lie tidak berani memberikan pertolongan. Mereka hanya saling memandang, dan membiarkan Alexander membawa pergi gadis itu.
Sesampainya disamping mobil, Alexander membuka mobil dengan menggunakan remote control. Kemudian laki-laki itu mendudukkan Ivona di kursi samping kemudi, kemudian laki-laki itu segera duduk di samping Ivona. Untuk beberapa saat, Alexander hanya duduk diam sambil memandang ke arah Ivona.
"Nana mau pergi kemana? Kakak akan menemanimu.." ucap Alexander perlahan. Tapi gadis itu malah diam tidak menjawab.
"Baiklah.., aku akan mengajakmu ke suatu tempat Nana. Aku harap kamu akan menyukai tempat itu.., sebenarnya belum saatnya kamu aku ajak kesana. Tetapi aku ingin membuat kenangan bersamamu disana malam ini.." Alexander kembali berbicara.., kemudian kakinya segera menginjak pedal gas. Mobil itu langsung melaju membelah jalan raya.
***************
__ADS_1