
Baru saja Ivona meletakkan perlengkapan di atas meja, kening gadis itu berkerenyit. Ada selembar note diletakkan di atas mejanya, dengan ditindih mouse. Ivona segera menarik kursi kerjanya, perlahan gadis itu mulai duduk di atasnya. Tangan kanan Naura menyingkirkan mouse, kemudian mengambil lembar kertas itu dan membaca isinya.
"Miss Ivona..., nanti siang aku akan mempertemukanmu dengan seseorang. Tolong kuasai dan kendalikan emosimu, aku tidak mau main laboratory menjadi heboh karenanya." Dua kalimat tertulis rapi di atas lembaran kertas itu, dan saat membaca tulisan kecil dari pengirimnya, Ivona tersenyum.
"Dokter Rafi."
Ivona melipat kertas itu dan memasukkan ke dalam tas, Ivona kemudian mengenakan ware pack. Masker dan kaca mata pelindung sinar melengkapi penampilannya kali ini. Hari ini, gadis itu masih memiliki agenda untuk menyelesaikan pembuatan prothotype dari peralatan medis yang sedang dikembangkan oleh timnya. Setelah selesai mengenakan perlengkapannya, Ivona segera menuju ruang laboratorium. Gadis itu menyalakan perangkat komputer di sudut ruangan, kemudian memasang kamera pengintai untuk menyambungkan dengan peralatan yang sedang dirancang.
"Are you ready.. Miss?" Joseph tiba-tiba saja sudah berada di belakang Ivona. Gadis itu menoleh dan menganggukkan kepalanya. Kedua orang itu segera terlarut dalam kesibukan masing-masing.
"Help me please...! Coba campurkan larutan ini ke gelas yang ada di sudut, jika sudah kita uji coba untuk ditempakan pada fiber glass. Aku akan melihat bagaimana reaksinya, apakah akah menguatkan material atau sebaliknya akan menghancurkannya." ucap Joseph meminta bantuan pada gadis itu. Tanpa menjawab, Ivona bergeser dan melakukan apa yang diperintahkan oleh rekan satu timnya itu. Beberapa waktu, Ivona menunggu reaksi dari uji cobanya itu.
Menggunakan mikroskop, Ivona melakukan pengecekan pada media uji cobanya. Terlihat gelembung-gelembung halus pada kulit luar fiberglass, tetapi beberapa saat gelembung itu kembali mengempis. Ternyata larutan yang disemprotkan Ivona pada lempengan fiberglass itu memiliki daya memperkuat medan yang di bawahnya. Ivona melihat ke arah Joseph, dan laki-laki itu mengangkat wajahnya untuk mengkonfirmasi hasil. Ivona mengacungkan ibu jari pada laki-laki itu, dan terlihat Joseph menganggukkan kepala sambil ikut mengacungkan ibu jarinya.
Tanpa terasa, saking asyiknya mereka melakukan uji coba, jarum jam sudah bergerak ke angka dua belas. Bunyi bel tanda waktu istirahat sedikit mengagetkan gadis itu, setelah melihat jam di atas dinding, Ivona langsung berangkat keluar untuk kembali menuju meja kerjanya.
"Bro.., aku duluan ya. Mau ada urusan dengan Dokter Rafi.." sambil menepuk punggung Joseph, Ivona segera meninggalkan laki-laki itu.
__ADS_1
"Yupz.., aku sebentar lagi." sahut Joseph sambil tetap fokus mengarahkan pandanganya pada gelas ukur yang ada di depannya.
Ivona segera melepas ware pack dan menggantungkan kembali ke lemari di belakang meja kerjanya. Setelah melepaskan masker serta kaca mata, gadis itu mencuci tangannya sampai bersih.
"Drtt.., drtt..." baru saja Ivona selesai mencuci tangan, telpon selulernya bergetar. Segera gadis itu kembali ke meja kerjanya, dan terlihat Dokter Rafi sedang melakukan panggilan padanya.
"Ya Dokter..., Ivona baru selesai mencuci tangan." ucap Ivona memberi sapaan pada laki-laki paruh baya itu.
"Aku tunggu di koridor saja ya, kamu menuju kesini sendirian!" Dokter Rafi menanggapi sapaan Ivona.
"Baik Dokter.., Ivona segera menuju ke koridor. Ini lagi selesai uji coba dengan Joseph dari tadi pagi." setelah menjawab perkataan Dokter Rafi, Ivona segera mengakhiri panggilan telpon.
********
Sesampainya di koridor, Ivona sudah melihat Dokter Rafi menunggunya. Laki-laki itu tersenyum menyambut kedatangan Ivona, kemudian mereka berdua berjalan menuju paviliun tempat Dokter Rafi mengatur janji dengan seseorang. Hati Ivona tiba-tiba berdebar, tetapi dia tidak berani bertanya pada laki-laki itu. Tetapi di sudut hati kecilnya, gadis itu memiliki keyakinan jika dia akan dipertemukan dengan mamanya Nyonya Carminda.
"Kita tidak ke food court dulu Dokter?" untuk menghilangkan rasa was-was dan deg-degan, Ivona mengambil inisiatif mengajukan pertanyaan pada Dokter Rafi.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah lapar Miss...? Jika sudah, tidak perlu khawatir. Aku sudah minta ijin dengan Madam Theodora untuk melakukan makan siang di paviliun. Yang perlu kamu tahu Miss..., meskipun orang yang tidak tahu akan melihat kita berada dalam kondisi yang mengenaskan. Tetapi jika pekerjaan kita sudah berakhir, akan banyak manfaat finansial dan fasilitas yang dapat kita manfaatkan. Kita bebas meminta layanan apapun, sepanjang permintaan kita dapat dipenuhi di dalam lingkungan main laboratory." Dokter Rafi menjelaskan hal yang belum diketahui oleh gadis itu.
"Iya juga ya Dokt..., buktinya sampai steak salmon saja juga disediakan di food court standar. Menu itu tidak ada di food court divisi sebelum saya ditempatkan disini." Ivona membandingkan fasilitas yang dia terima di main laboratory dengan divisi sebelum dia ditempatkan disini. Bahkan Ivona juga membandingkan dengan fasilitas kamar istirahat yang dia dapatkan. Meskipun mereka diisolasi di dalam lingkungan khusus, dan tidak diperbolehkan menerima tamu dari luar, tetapi kamar yang dia dapatkan standar dengan kamar-kamar di hotel mewah.
"Hanya sayangnya Miss..., orang-orang yang bersedia ditempatkan disini, adalah orang-orang yang memiliki hati nurani yang sangat peduli untuk orang lain. Mereka tidak pernah memikirkan masalah kesenangan duniawi, sehingga jika kamu amati, hampir semua orang yang ada di main laboratory ini adalah orang-orang yang mendekati usia senja saja. Kamu merupakan salah satu pengecualiannya Miss.." Dokter Rafi menambahkan.
Tidak terasa, mereka berdua berjalan sambil berbincang, tanpa sadar mereka sudah sampai di depan pintu paviliun. Ruangan ini sering digunakan untuk menerima kunjungan tamu-tamu penting terkait dengan proses monitoring atas penyelidikan yang dilakukan oleh para laboran. Dan dengan posisinya, Dokter Rafi menggunakannya kali ini untuk mempertemukan Ivona dengan orang yang sangta ingin ditemuinya. Hanya saja, sudah sampai di depan pintu paviliun, laki-laki ini belum membocorkan seseorang yang ingin mereka jumpai pada gadis itu.
Di depan pintu, Ivona menghentikan langkahnya. Dia berusaha mengendalikan perasaannya, karena semakin mendekat ke pintu, hatinya terasa semakin berdebar.
"Ada apa Miss..?" Dokter Rafi turut menghentikan langkahnya, laki-laki itu menunggu sampai Ivona siap.
"Jujur Dokter.., dari tadi hati Ivona terasa berdebar-debar. Jika boleh tahu, siapa yang siang ini ingin Dokter pertemukan dengan Ivona?" gadis itu memberanikan diri bertanya dengan Dokter Rafi.
"Sabarlah Ivona..., sebentar lagi kamu akan bertemu sendiri dengan orang itu. Aku khawatir jika aku keliru, maka kamu sendiri yang harus melihatnya. Apakah benar orang ini kenal denganmu." ucap Dokter Rafi dengan masih penuh misteri.
Dengan senyum kecut, Ivona segera mengikuti Dokter Rafi masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
************