
Malam ini William dan teman-temannya akan bersenang-senang, dan mereka datang memasuki Bar MUSE. Dengan tertawa-tawa William santai berdiri di pintu masuk, dan tiba-tiba tidak mempercayai pandangan matanya. Di bawah temaram lampu di bar, musik menghentak yang hingar bingar, William merasa tahu seorang gadis yang duduk sambil tangannya memegang gelas alkohol. William mengucek-ucek matanya, kemudian memastikan lagi melihat gadis yang duduk dengan tatapan ke stage.
"Bukankah itu Ivona murid pindahan yang duduk di sebelahku." William berpikir sendiri.
"Bro... kita ambil meja agak ke depan, biar tambah jelas melihat penari itu. Gila sekali, seksi banget tubuh penari di stage itu." teman William tampak bersinar matanya melihat penari, dia segera menarik William lebih masuk ke dalam bar.
Banyak para tamu yang berdiri lebih mendekat ke pinggir stage, untuk melihat lebih dekat wanita yang menari dengan sangat seksi. Teman-teman William ikut bergerak maju ke depan, dan mereka memaksa Wiilliam untuk mengikutinya, tetapi laki-laki itu hanya diam mematung memandang Ivona.
"Katanya kerja paruh waktu, kerja inikah yang dia maksud? Betul-betul aku telah tertipu dengan casing nya.., ternyata dia sama saja Ja..lang nya dengan wanita yang lain." gumam William yang tampak riak emosi kemarahan berkilat di matanya.
"Hey..broo, kemana pikiranmu? Ayo kita nikmati malam ini, tujuan kita kesini kan untuk bersenang-senang!" teman-teman William sudah mulai menghentak-hentakkan kakinya mengikuti irama lagu dan tarian wanita di stage itu. Seorang wanita dengan tubuh yang aduhay.., meskipun saat ini dia mengenakan topeng, tapi dari mulut dan matanya dapat terlihat jika wanita itu pasti sangat cantik.
William tidak mengacuhkan perkataan temannya, dia masih menatap Ivona dari tempatnya berdiri. Ivona tampak ceria, dan senyum manisnya keluar saat dia mengangkat gelas alkoholnya dengan pelan. William melihat Ivona mengarahkan gelas ke wanita yang sedang menari di panggung dengan mata yang terus menatap wanita itu. Kilatan cahaya lampu bar yang berganti-ganti menambah cantik dan siluet di wajah Ivona.
"****..., apa Ivona itu lesbian, atau dia juga menjadi penari di bar ini? Itukah kerja paruh waktu yang dia maksudkan?" banyak pertanyaan negatif berputar di pikiran William.
Teman-teman William yang dari tadi diacuhkan dan tidak ada respon dari laki-laki itu, menelusur arah pandangan William yang mengarah pada Ivona. Mereka seperti terkejut, kemudian...
"Aa..h, bukankan wanita yang duduk di kursi itu, sangat mirip dengan murid pindahan yang ada di kelas kita Will?" Kenapa dia berada disini, dan melihat style nya, sepertinya dia sangat akrab dengan lingkungan dan dunia malam." teman William ikut mengamati Ivona, dan terlihat mengambil nafas panjang.
"Oh iya... aku sangat familiar dengan wanita itu, aku yakin itu pasti si murid pindahan itu yang bernama Iv...." belum selesai dia mengucapkan nama Ivona, laki-laki itu menyadari jika William telah berjalan keluar meninggalkan bar.
__ADS_1
"Sial**an ada apa ini? Ayo kita keluar, kita kejar William, jangan sampai dia mengamuk!"
***************
Wanita yang menari di atas panggung, merasa ada chemistry dengan Ivona yang mengangkat gelas alkoholnya dan mengarahkan padanya. Setelah dia selesai menari, dia segera turun dari panggung dan berjalan menghampiri Ivona yang tampak duduk sendiri sambil menikmati alkohol.
"Hey cewek.., menari sekali lagi dong, senangkan kami!" teriak salah satu pengunjung laki-laki di bar itu.
"Iya.., ayo naik ke stage lagi! Tarianmu sangat membangkitkan gai..rah kami." teriak pengunjung lainnya.
Tetapi wanita itu mengacuhkan mereka, dia hanya fokus menatap Ivona yang duduk di atas kursi. Saat melihat samping Ivona masih kosong, segera dia menduduki kursi itu. Wanita itu sangat tertarik ingin mengenal Ivona, karena melihat wanita cantik yang memegang alkohol di tangannya sedang sendirian duduk.
"Hai.., apakah kursi ini kosong? Bolehkan aku duduk disini?" tanya wanita itu pada Ivona, sambil memperlihatkan senyumnya yang cantik.
"Caroline Hermansyah namaku, call me cukup dengan Caroline!" wanita itu mengulurkan tangan mengajak berkenalan dengan Ivona.
"Cepat ganti pakaianmu segera, jika kamu tidak ingin pakaianmu yang terbuka menghiasi media massa besok!" Ivona langsung meminta wanita penari itu untuk berganti pakaian.
Caroline menatap Ivona tidak percaya, tetapi dia tidak tahu kenapa dia menuruti perintah gadis yang bearu di kenalnya. Padahal saat ini dia sedang mengenakan topeng, dan dia berpikir bahwa tidak ada orang yang akan mengenalinya.
"Okay.., aku ke ruang ganti dulu! Jaga kursiku!" Caroline meninggalkan Ivona sendiri, dan segera dia berganti baju, dan tetap menyamarkan wajah dan penampilannya. Karena Caroline Hermansyah memang bekerja di industri hiburan, dan jika tidak menyamarkan wajah dan penampilannya, orang-orang akan dengan cepat mengenalinya di tempat ini.
__ADS_1
"Siapa namamu?" tanya Caroline setelah dia kembali duduk di samping Ivona.
"Ivona.., ada apa kamu disini?" tanya Ivona tiba-tiba, dan Caroline tampak mengerenyitkan keningnya karena dia merasa gadis di sampingnya itu sudah pernah mengenalnya. Padahal di bar ini, hanya ada dua orang yang tahu identitas aslinya. Tetapi kemudian dia mengabaikan rasa penasarannya itu.
"Aku mencari kerja paruh waktu, yah...untuk dapat feel sih dalam menari." jawab Caroline dengan tersenyum.
"Benarkah begitu?" tanya Ivona sarkasme.
Caroline sedikit gugup dengan respon yang ditunjukkan Ivona, kemudian dia mengambil rokok dari dalam tasnya. Saat dia akan meletakkan rokok, di bibirnya.., tiba-tiba rokok itu sudah berpindah di tangan Ivona.
"Jangan asal merokok sembarangan! Tetap dalam posisi menghadap depan, jangan sekalipun kamu menoleh, kalau kamu tidak mau mendapatkan hujatan dan akhirnya kamu di black list oleh netizen."
Caroline kaget dengan reaksi cepat Ivona, tetapi dia tidak berani menoleh persis seperti pesan gadis yang ada di sampingnya itu.
"Apa yang kamu lihat, dan sebenarnya siapa kamu sebenarnya?" tanya Caroline penasaran.
"Tidak penting siapa aku, tetapi banyak paparazzi yang mencari sudut kelemahanmu, kamu harus pandai-pandai menjaga dirimu. Tetap dalam posisi sekarang ini, maka paparazzi tidak akan dapat memotretmu yang sedang merokok!"
Selesai berbicara, Ivona segera bangkit dari duduknya dan berniat langsung keluar dari bar.
"Tolong jangan tinggalkan aku disini sendiri! Aku merasa kamu yang akan dapat menolongku!" tiba-tiba tangan Caroline sudah memegang pergelangan tangan Ivona, dan melarang gadis itu pergi meninggalkannya disini sendiri.
__ADS_1
Ivona menghentikan langkahnya, dan saat dia memandang Caroline, tersirat wanita penari itu memandanganya dengan tatapan melihat puppy eyes.
*******************************