
Aldo langsung memasukkan Ivona ke dalam kursi mobil di bagian tengah. Melihat Tuan Mudanya masuk, dan menutup pintu mobil, Donny langsung menginjak pedal gas dan membawa mobil keluar dari situ. Untuk menenangkan Ivona, tanpa bicara Aldo mencium bibir Ivona dengan paksa, dan Donny langsung merasa tanggap darurat. Laki-laki itu tersenyum malu, kemudian menekan tombol di samping tombol AC. Tidak lama kemudian tabir penutup kursi bagian tengah dan bagian depan turun menghalangi pandangannya ke belakang.
Ivona terdiam, dan saat merasakan kelembutan bibir Alexander meraup manis dan hangat bibirnya, Ivona membuka sedikit mulutnya. Rupanya gadis itu juga merindukan ciuman bibir Alexander yang sudah lama tidak dija**mahnya. Seperti mendapatkan kesempatan, Alexander merangsek masuk lebih ke dalam mulut gadis muda itu. Dengan cepat, lidah laki-laki itu mengeksplorasi masuk, dan ciuman panjang dan memabukkan terjadi di kursi bagian tengah mobil itu. Tiba-tiba...,
"Ciiitttt.." suara rem beradu dengan aspal mengejutkan pasangan muda yang saling berciuman di kursi tengah. Tubuh Ivona bahkan terpental membentur kursi mobil. Seketika ciuman keduanya terlepas, dan dengan pipi bersemburat pink karena malu, Ivona langsung bergeser tempat duduknya sedikit menjauh dari laki-laki itu.
"Gila kamu Donn..., apa yang kamu lakukan?? Tidak bisakah kamu menyetir dengan benar?" merasa terganggu aktivitasnya, Aldo membentak Donny dari kursi belakang. Matanya menyipit melihat Ivona yang sudah duduk menjauh darinya.
"Maaf Tuan Muda..., ada kecelakaan di depan. Jika tadi saya tidak mengerem mendadak, maka kita akan menyebabkan terjadinya kecelakaan paralel." terdengar Donny membela dirinya.
"Ya sudah.., lanjutkan mengemudi dengan hati-hati. Antarkan aku langsung ke villa di atas bukit!" Aldo langsung memerintahkan Donny untuk mengantarkannya ke villa di atas bukit. Laki-laki itu berharap, jika gadis itu akan mengingat jika melihat bangunan dengan view dan bentuk yang sama persis dengan villa yang dihadiahkan untuk istrinya di dunia sebelumnya. Dengan melihat semuanya, Aldo juga akan mengharapkan ingatan Ivona segera pulih, dan mengingatnya jika dia adalah Alexander.
__ADS_1
"Baik Tuan Muda.., saya akan belok pada perempatan di depan. Saya akan mengemudi dengan hati-hati." sahut Donny. Tidak lama kemudian, Donny sudah kembali menjalankan mobil dengan kencang.
Tidak mau mengganggu Ivona, Aldo hanya melirik Ivona yang melihat pemandangan di luar dari kaca yang ada di sampingnya. Laki-laki itu memejamkan matanya, mencoba memikirkan hal apa yang akan mereka lakukan, jika mereka sudah berada di atas villa itu. Selama dia berada di Hong Kong, rupanya Donny sudah berusaha keras mewujudkan mimpinya itu. Tadi dia sudah mengecek sendiri di lokasi, memang arsitektur suruhan Donny sudah bekerja sama dengan kontraktor dan sudah membangun villa sama persis dengan keinginannya. Bahkan untuk pilihan furniture dan tata letaknya, semua sama persis dengan yang ada di dunia sebelumnya.
Tidak lama, mobil yang dibawa Donny sudah memasuki jalanan Cempaka tempat rusun dimana Ivona tinggal sebelumnya. Dengan perasaan sakit, Ivona menatap bekas bangunan rusun yang sudah diratakan dengan tanah dari kaca mobil. Perlahan kemudian, mobil mulai menanjak di atas bukit. Nafas kasar terdengar terhembus dari hidung Aldo, laki-laki itu sepertinya tidak bisa menahan perasaannya. Ivona menoleh ke arah Aldo, dan laki-laki itu melakukan hal yang sama. Tatapan keduanya bertemu, dan perlahan laki-laki itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tidak lama kemudian, Donny sudah menghentikan mobil di parkiran..
*********
Marcus kalang kabut mencoba menghubungi Ester, tetapi nomor ponsel perempuan muda itu tidak bisa dihubungi. Laki-laki itu kemudian mencoba menghubungi Ivona, rupanya gadis itu belum mengaktifkan kembali nomor ponselnya setibanya dia di Indonesia. Merasa bingung, dan semalam dia melihat jika Ivona pergi bersama Richard, Marcus memberanikan diri untuk menghubungi laki-laki itu. Beberapa kali sambungan dia lakukan ke nomor ponsel Richard, Marcus tidak mendengarkan ada panggilan diterima. Setelah beberapa saat, baru Richard menerima panggilan masuk tersebut.
"Aku ada perlu dengan Ivona, tetapi aku tidak dapat menghubunginya. Bisakah kamu pinjamkan sebentar ponselmu ini untuk digunakan gadis itu?" Marcus ingin berbicara dengan Ivona secara langsung.
__ADS_1
"Hadeh..., kamu terlambat Marcus. Baru saja.., Ivona dibawa pergi oleh Aldo laki-laki nekad itu. Aku saja tidak bisa melarangnya.." kata-kata Richard terasa mengecewakan Marcus.
"Apakah kamu tahu mereka akan pergi kemana Richard?? Aku akan menyusulnya, karena tidak mungki jika aku menghubungi Ivona lewat laki-laki itu. Yang ada, malah aku bisa ribut dengan laki-laki posesif itu." Marcus kembali bertanya. Saat ini hanya Ivona yang bisa menolongnya, karena dia juga tahu bagaimana posisi Ester di hati gadis itu. Di luar pekerjaan, mereka berdua seperti menempatkan diri sebagai hubungan kakak dan adik.
"Maaf Dokter Marcus..., kamu juga seharusnya tahu bagaimana posisiku terhadap Aldo. Laki-laki itu tidak akan pernah memberi tahu kemana tujuannya. Maaf ya.., aku tidak bisa memberi tahumu." karena memang dia juga benar-benar tidak tahu, kemana Aldo membawa pergi adiknya, Richard tidak bisa memberi laki-laki itu jawaban.
Dengan muka kusut dan rambut acak-acakan, Marcus membanting ponsel ke atas sofa. laki-laki itu kemudian duduk berdiam di atas sofa. Dia membayangkan bagaimana kejadian percintaannya dengan Ester semalam, mereka merasa saling memiliki, dan menjadi satu. Laki-laki itu tersenyum masam, dan kembali menjambak-jambak rambutnya sendiri.
"Ester..., apakah aku harus bertanggung jawab padamu, dan melupakan mimpiku untuk memiliki Ivona??" Marcus mengutarakan pertanyaan pada Ester, meskipun gadis itu saat ini tidak ada di sisinya. Kembali tatapan Marcus melihat ke atas ranjang yang dia gunakan untuk bergumul semalam dengan Ester. Laki-laki itu kembali tersenyum masam, ketika tatapannya melihat noda merah samar-samar yang sudah kering di atas sprei bed yang berwarna putih.
"Virgin..., ternyata gadis itu memang masih virgin. Dia merelakan virgin itu untuk diberikan hanya padaku.." gumam Marcus kembali. Dengan lesu dan kusut, laki-laki itu berdiri dan menarik sprei kemudian melemparnya ke lantai. Kemudian tangannya menekan tombol panggilan room service untuk membersihkan dan menata kembali kamarnya.
__ADS_1
Setelah memastikan room service akan membersihkan kamarnya, perlahan Marcus berdiri dan mengambil kunci mobil. Laki-laki itu bergegas menuju pintu.., dan keluar dari apartemennya dengan pandangan sendu. Apa yang sudah dia lakukan dengan Ester tadi malam, meskipun di luar kesadarannya membuat laki-laki itu menyesal. Dalam keadaan apapun, laki-laki itu merasa jika dia harus bertanggung jawab pada Ester, entah apapun caranya.
***********