
Keesokan Paginya
Alexander menunggu Ivona di meja makan untuk sarapan pagi sambil membuka Ipad untuk mengecek kerjaan dan schedul hari ini. Tetapi dahi laki-laki muda itu tiba-tiba berkerut, dia menemukan bug dalam website perusahaan. Merasa jengah dengan apa yang dilihatnya pagi-pagi, Alexander tersenyum sinis. Tidak lama kemudian, jari tangannya menekan beberapa huruf di tombol Ipad, dan setelah beberapa detik website perusahaan kembali beroperasi dengan lancar.
"Good morning Mr. Quick Hand, you are really lucky this morning." running text berbunyi kalimat yang menyebutnya sebagai Tuan Quick Hand melintas di layar Ipad.
"F**uck.., siapa ini yang mengajakku bermain-main pagi ini?" gumam Alexander tersenyum masam.
Baru saja laki-laki muda itu akan mengejar pelaku peneroboson cyber pada Ipad, terdengar Ivona bicara di belakangnya.
"Ivona langsung berangkat saja ya kak, lagi malas sarapan. Waktunya sudah mepet." suara Ivona di belakangnya mengagetkan Alexander yang masih fokus dengan perangkat gawainya. Mata gadis itu terpaku melihat tulisan running text yang masih melintas cepat di gawai Alexander. Tetapi merasa bukan urusannya, Ivona kembali menatap laki-laki muda itu.
"Bibi..., Bi Mina..." tidak menjawab perkataan Ivona, Alexander malah memanggil pelayan rumah keluarga ini.
"Iya Tuan Muda..., apa yang bisa Bibi bantu?" tergopoh-gopoh dari pintu belakang, Bi Mina menemui Alexander di meja makan.
"Siapkan sarapan dan minuman di food container untuk Nona Ivona!" ucap Alexander sambil berdiri, kemudian menggandeng Ivona dan membawanya masuk ke mobil.
"Siap Tuan." sahut Bi Mina.
Tidak berapa lama mereka menunggu, Bi Mina mengantarkan food container dan botol berisi minuman pada Ivona. Sebelum menjalankan mobil, Alexander menengok pada gadis yang duduk di sampingnya.
"Makanlah di mobil, daripada kamu repot membawanya ke sekolah. Jangan membiasakan diri dengan perut kosong." setelah berbicara, Alexander langsung menjalankan mobilnya menyusuri jalan.
__ADS_1
Perlahan Ivona membuka tutup tempat makannya, bibirnya langsung tersenyum melihat nasi goreng lengkap dengan omelet dan sosis kesukaannya tersusun manis di tempat makan tersebut.
"Wuiiih lezatnya.." ucap Ivona dengan mata berbinar, Alexander tersenyum melihat gadis itu senang dengan bekal paginya.
Ivona dengan tidak sabar langsung menyuapkan sendok makan ke mulutnya, sampai tidak sadar ada nasi yang menempel di sudut bibirnya. Alexander menghentikan mobil di pinggir jalan, tangannya mengambil tissue dan tanpa diduga laki-laki muda itu mengusap sudut bibir Ivona dengan menggunakan lipatan tissue.
"Makan lahap boleh, tapi ingat harus rapi dan bersih." setelah membersihkan nasi, dia langsung kembali menjalankan mobilnya. Ivona tersenyum malu, kemudian gadis itu menyendok nasi beserta potongan telur dan sosis.
Tanpa melihat, tiba-tiba sendok itu sudah berada di depan mulut Alexander. Tanpa banyak bertanya, laki-laki muda itu membuka mulutnya dan Ivona langsung memasukkan suapan sendok ke mulut Alexander. Mereka berdua menikmati sarapan pagi dengan menggunakan sendok yang sama, yang tanpa sadar mereka sudah beradu bibir di pagi hari itu. Suapan demi suapan nasi bergantian masuk ke mulut Ivona dan Alexander, dan sebelum mobil berhenti di depan gerbang sekolah food container sudah bersih tanpa sisa sedikitpun.
"Nana.., besok pagi kita tidak perlu sarapan di meja makan saja. Lebih simple dan praktis kita sarapan dengan gaya seperti ini saja." tanpa tahu malu, Alexander berpesan pada Ivona, saat mobil berhenti di jalan depan sekolah. Ivona memandang laki-laki muda itu dengan heran, biasanya dia sangat perfeksionis dan sangat alergi kebersihan tiba-tiba punya ide aneh seperti ini.
"Suka-suka kakak saja deh. Bye.." malas berdebat, Ivona segera turun dari mobil.
Ketiga putra Iswara terlihat mendampingi kakek memasuki halaman sekolah, dengan Rio mendorong kursi roda untuk tempat duduk kakek mereka. Wajah kakek sangat cerah, dia mengedarkan pandangannya ke sekitar lingkungan sekolah yang tampak asri dan bersih.
"Ternyata masih seperti dulu, tempat sekolah ini memiliki lingkungan yang selalu hijau dan segar. Tidak sayang, perusahaan kita memberikan donasi ke sekolah ini." ucap kakek sambil tersenyum.
"Iya kek.., lihat gedung 3 lantai di pojok sekolah itu! Gedung itu hasil donasi keluarga kita, dan tertulis di papan informasi hasil Hibah Keluarga Iswara." Thomas menjelaskan kontribusi keluarga Iswara pada pihak sekolah. Semua putra-putri keluarga Iswara dan bahkan keturunan orang terpandang di kota ini, memang semua disekolahkan pada SMA Dharma Nusa.
"Dimana kelas cucuku Ivona, apakah dia sudah datang pagi ini?" tanya kakek.
"Ini waktunya jam-jam pembelajaran kek. Tommy yakin, saat ini Ivona sudah duduk di dalam kelas, karena teman Tommy yang namanya Alexander tidak mungkin akan membiarkan gadis itu terlambat masuk kelas." sahut Tommy yakin.
__ADS_1
"Begitu yakinnya kamu dengan laki-laki CEO Kavindra Group itu Tomm." Thomas menanggapi kakaknya.
"Aku sudah lama mengenal laki-laki muda itu. Selain itu, kami juga bermitra bersama di industri perfilman yang baru dia masuki. Aku yakin dengan perkataanku barusan, laki-laki itu memiliki tingkat tanggung kawab yang tinggi." Tommy menambahkan.
Keempat orang itu terdiam, mereka berhenti di depan ruang guru. Seorang guru yang melihat mereka, berjalan menghampiri mereka.
"Selamat pagi keluarga Iswara.., apakah ada yang bisa saya bantu?" dengan ramah guru tersebut menanyakan maksud kedatangan mereka ke sekolah.
"Begini Bu..., tadi malam Tuan Iswara mendapatkan telpon dari pak Haryo. Beliau menyampaikan jika keluarga Iswara harus datang ke sekolah ini sekarang. Dimana kami bisa ketemu dengan beliau?" Rio menyampaikan tujuan mereka.
"Pak Haryo.., paling untuk menyampaikan hasil kompetisi olimpiade. Jika untuk urusan itu, Bapak sudah ditunggu di meeting room yang ada di samping ruang Kepala Sekolah. Mari saya antar."
Guru itu berjalan di depan keempat anggota keluarga Iswara, dan mereka mengikuti guru tersebut.
"Kakek.., kakak.." baru saja mereka sampai di depan meeting room, terdengar teriakan Vaya berlari mendatangi mereka.
"Ada apa Vay..?" tanya Rio singkat. Mereka menghentikan langkahnya.
"Kakek dan kakak-kakak kangen dengan Vaya ya.., sampai harus datang ke sekolah untuk ketemu Vaya?" dengan rasa percaya diri, gadis itu bertanya dengan muka cerah. Entah dari mana gadis itu memiliki keyakinan diri yang kuat.
Mendengar perkataan itu, wajah Kakek langsung terlihat muram. Tetapi menyadari ada guru yang bersama dengan mereka, kakek menahan perasaanya. Dia hanya terdiam.
"Sejak kapan kamu menjadi tidak memiliki rasa malu Vaya? Kami berempat kesini karena mau menghadiri undangan dari pak Haryo dan Kepala Sekolah untuk datang ke sekolah ini. Ada informasi yang akan disampaikan kepada keluarga Iswara, memangnya siapa kamu?" tanpa menahan diri, Thomas langsung berbicara yang terdengar mengintimidasi gadis itu.
__ADS_1
****************