
Melihat bagaimana Thomas dan kakek membola Ivona, Nyonya Iswara memberi isyarat pada Vaya untuk mengambil hati kakek dengan memberikan kotak hadiah. Gadis itu segera berpindah tempat duduk, kemudian duduk di samping Nyonya Iswara yang ada di depan kakek. Tetapi dari anak tangga, terlihat dengan jelas jika Ivona sedang berjalan turun. Dia sudah selesai membersihkan dirinya.
"Kek..," belum selesai Vaya berbicara, kakek sudah tersenyum melihat cucu kandungnya. Nyonya Iswara memegang bahu Vaya untuk menahan diri terlebih dahulu.
"Cucu kakek tambah semakin cantik kalau sudah mandi." ucap kakek saat melihat Ivona di depannya. Semua orang yang ada disitu melihat Ivona, dan mereka terkejut karena wajahnya yang terlihat lebih cerah dan bersinar.
Ivona menghampiri kakeknya, kemudian karena dia merasa lapar, dia tanpa malu langsung menanyakan pada kakeknya.
"Kek.., kita jadi makan tidak, kebetulan Ivona sudah merasa lapar?" ucap Ivona sambil tersenyum.
"Ha.., ha..., ha.., ini baru cucuku. Tahu kakeknya pulang dari rumah sakit, langsung mengajaknya untuk segera makan. Ayo kita segera berkumpul di meja makan." kata kakek sambil memegang Ivona.
Thomas dan Ivona segera memegangi balik kakeknya, kemudian secara perlahan memapahnya menuju ruang makan. Di kursi yang paling tengah, Thomas dan Ivona mendudukkan kakeknya di kursi utama. Nyonya dan Tuan Iswara serta Vaya hanya memandangnya dari belakang kemudian mengikuti kakek duduk di meja makan.
Setelah kakek duduk, Ivona dan Thomas berjalan meninggalkan kakek untuk memberi kesempatan pada Tuan Iswara untuk duduk disitu. Tetapi saat Ivona baru melangkahkan kakinya, tangan kakek memegang tangan Ivona dan melarangnya untuk pergi.
"Kamu mau kemana Ivona?? Sini duduk dekat dengan kakek!" kakek menarik dan menepuk kursi yang ada di sampingnya. Semua orang terkejut, karena selama ini kursi yang ada disamping tempat duduk utama selalu dibiarkan kosong.
"Ivona duduk disini kek?" tanya Ivona merasa kurang yakin.
"Iya Ivona.., hanya cucu kesayangan kakek yang bisa duduk di kursi ini. Ayolah.., sekarang kamu yang akan mendudukinya, tidak boleh untuk orang lain." sahut kakek sambil tersenyum
Ivona sambil tersenyum kemudian menduduki kursi di samping kursi utama, dan dengan tatapan meremehkan dia melihat ke arah Vaya Terlihat wajah Vaya menjadi muram, karena sebelumnya dia yang selalu menjadi cucu kesayangan kakeknya. Itupun tidak bisa membuat dia, dapat menduduki kursi di samping kursi utama. Mendadak dia menjadi semakin benci dan merasa iri dengan Ivona.
__ADS_1
"Kakek makannya pakai nasi sedikit saja ya, dibanyakin sayur sama lauknya. Kan kakek harus mengurangi karbohidrat dan menjaga pola makan." Ivona mengambil piring kakeknya dan mulai mengambilkan nasi beserta lauk pauknya.
Kakek tersenyum dan merasa senang dengan perlakuan Ivona yang diberikan kepadanya. Semuanya tercengang melihat keberanian gadis itu memberikan pelayanan untuk kakek.
"Ini untuk kamu saja.., biar kamu makan banyak protein. Kakek juga harus mengurangi daging Ivona." kakek mengambil daging dari piringnya, kemudian menaruhnya di atas piring Ivona.
"Kakak tidak sekalian diambilkan Ivona?" tanya Thomas menggoda adiknya.
"Maaf kak Thomas.., terlalu jauh kalau Ivona harus mengambilkan kakak juga. Maaf ya.., pelayanan Ivona hari ini hanya untuk kakek." jawab Ivona langsung.
"Iya..iya..., kakak juga tahu diri kok. He..he..he.." Thomas menimpali perkataan adiknya.
"Sudah.., ayo semua mulai makan dengan tenang." ucap kakek.
***************
Selesai makan, kakek belum mau beristirahat. Dia masih mau mengganti waktunya yang hilang saat harus dirawat di rumah sakit, dengan berkumpul dengan keluarga. Apalagi saat ini, kakek sudah mendapatkan kembali Ivona cucunya yang pernah hilang dan tertukar dengan Vaya.
Melihat suasana hati kakek yang tampak bahagia, Nyonya Iswara kembali memberi isyarat pada Vaya untuk memberikan hadiah pada kakek. Vaya segera mengambil dan menyiapkan hadiah yang dibelikan Nyonya Iswara untuknya.
"Permisi kek.., Vaya mau bicara dengan kakek. Bisakah kakek meluangkan waktunya barang sejenak untuk Vaya?" dengan lembut Vaya mengajak kakek untuk berbicara. Dengan penuh senyuman, Nyonya Iswara melihat Vaya dengan penuh perhatian.
"Ya.., ada apa Vaya?" tanya kakek sambil menatap Vaya dengan tajam.
__ADS_1
"Ini kek.., ada hadiah kecil dari Vaya untuk menyambut kedatangan kakek kembali ke rumah ini. Hanya ini yang bisa Vaya berikan, semoga bisa menghibur hati kakek." Vaya mengulurkan hadiah yang dibungkus dengan kertas yang indah pada kakek.
"Ini buat kakek?" kakek terkejut dengan perlakuan Vaya.
Vaya dengan malu menganggukkan kepala. Kakek segera membuka kotak hadiah itu, dan matanya langsung berbinar melihat ornamen perak yang berasal dari luar negeri. Kakek memang sangat menyukai semua barang yang terbuat dari perak.
"Kamu memang sangat memperhatikan kakek Vaya. Hadiah ini sangat mahal harganya, darimana kamu mendapatkan uang untuk membeli ini Vaya?" tanya kakek sambil menatap Vaya.
"Vaya mengumpulkan uang saku yang mama berikan untuk Vaya kek. Itu semua Vaya lakukan hanya untuk kakek." Vaya mengarang cerita untuk mengambil hati kakeknya.
Dalam hati sebenarnya kakek menyadari jika Vaya adalah anak yang berbakti. Tetapi karena dia melihat jika Tuan dan Nyonya Iswara lebih menyayangi Vaya daripada putri kandungnya sendiri, hal itu yang menjadikan titik awal kemarahannya.
"Oh ya Ivona..., kamu memberi hadiah apa untuk kedatangan kakekmu?" tanya Nyonya Iswara untuk lebih merendahkan Ivona di depan kakek. Karena dia yakin, jika Ivona tidak memiliki uang untuk sekedar membelikan hadiah untuk kakeknya.
"Ivona tidak membelikan apapun untuk kakek. Karena kakek memiliki uang yang sangat banyak, jadi jika kakek menginginkan sesuatu, pasti kakek akan bisa membelinya sendiri." jawaban yang diberikan Ivona sangat mengejutkan mereka yang berada di ruang ini.
"Tidak begitu Ivona. Hadiah adalah tanda mata sebagai bentuk ungkapan rasa kasih sayang kita pada seseorang. Vaya sudah menunjukkan pada kita, bagaimana dia mengungkapkan rasa kasih sayangnya pada kakek. Ke depan, kamupun juga harus melakukan hal itu." Nyonya Iswara merendahkan Ivona, tetapi gadis itu malah mengacuhkannya.
"Bagaimana Ivona bisa membelikan hadiah mahal ma..?? Mama sendiri merasa tidak, berapa uang saku yang mama berikan pada Ivona setiap harinya?? Untuk beli es teh saja, pasti sudah habis uangnya, karena mama memberinya terlalu sedikit." sahut Thomas menyindir Nyonya Iswara.
"Iswara..., apa benar yang disampaikan Thomas barusan?? Kamu hanya memberikan uang jajan sedikit pada cucuku, cucu kandungku?" mendengar perkataan Thomas, kakek langsung marah. Dia langsung berbicara dengan nada tinggi.
Wajah Nyonya dan Tuan Iswara menjadi muram, karena kesengajaan Nyonya Iswara yang bermaksud merendahkan Ivona, malah saat ini berbalik padanya.
__ADS_1
********************