
Marcus dan Ivona sedang menikmati makan malam di Scarlett Café & Wine Bar, mereka sengaja menghabiskan malam ini dengan berbincang berdua. Besok Ivona sudah masuk ke laboratorium utama, dengan konsekuensi untuk tetap berada di dalam sampai proses penelitian selesai. Marcus tidak bisa memaksa Marshall untuk mengkhianati perusahaan dengan membiarkan Ivona untuk keluar masuk. Resiko berat akan bisa diterima Marshall, jika ada orang yang mengetahui rencananya itu.
Menggunakan sumpit, Marcus mengambilkan pakcoy saus tiram dan meletakkan di piring gadis itu. Laki-laki itu memang sangat mengenal dan mengetahui kegemaran sampai apa yang tidak disukai oleh gadis itu. Mereka sudah sejak kecil saling mengenal, dan Ivona termasuk tipe gadis yang kurang memiliki banyak teman. Sehingga begitu ada teman yang tulus memperlakukannya, maka Ivona juga akan berperilaku sama terhadapnya.
"Kamu sudah mempersiapkan dirimu untuk masuk ke laboratorium inti Na..?" Marcus dengan tatapan khawatir bertanya pada gadis itu. Ivona meletakkan sendoknya sebentar, kemudian menatap laki-laki yang duduk di depannya itu.
"Dari dulu kamu sudah mengenali karakterku bukan..?? Kamu juga tahu, aku selalu sendiri, bahkan ketika mama bersamaku dengan berkali-kali mengajakku pindah-pindah tempat seperti nomaden, Aku sendiri tidak pernah tahu, ada alasan apa sampai mama mengajakku berkali-kali pindah. Terkadang aku berpikir, apakah aku adalah seorang anak yang dibuang??" ucap Ivona lirih.
"Aku selalu berusaha menutupi setiap kelemahanku dengan berprestasi, belajar dari dulu.. Tetapi keinginanku untuk mengetahui siapa diriku yang sebenarnya.., terkadang muncul dan menguasai egoku. Marcus.., aku ingin seorang papa.., paling tidak untuk mengenalnya, bukan untuk memilikinya secara utuh." Ivona melanjutkan lagi, tampak air mata mulai tergenang di kelopak matanya.
Marcus segera mengambil tissue, kemudian menghapus air mata yang akan mengalir dari kelopak mata gadis itu. Ivona terdiam.., setelah kembali bisa menguasai keadaanya, Ivona mengambil air mineral kemudian meminumnya beberapa teguk.
"Okay.., okay Ivona.., berarti aku tidak perlu bertanya lagi. Selama masa cuti, meskipun kamu tidak bisa keluar dari laboratorium utama, aku tetap berada di negara ini. Aku akan selalu menanyakan kabarmu pada Marshall, jangan segan-segan untuk minta pertolonganku, jika kamu membutuhkan sesuatu." akhirnya setelah mendengar dan melihat sendiri reaksi gadis itu, Marcus melepaskan Ivona.
"Iya Marc.., yang penting aku sudah berusaha. Misalkan nanti aku tidak dapat mengetahui identitasku yang sesungguhnya, aku akan menepis kekecewaanku dan berusaha melepaskannya. Toh aku memiliki seorang sahabat yang sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Terima kasih Marcus.., kamu memang sahabat dan saudaraku yang sebenarnya," ucap Ivona lirih, dan menggenggam tangan laki-laki itu. Mendengar perkataan gadis di depannya itu, Marcus hanya tersenyum kecut. Dia mengharapkan tersimpan perasaan lebih dari sekedar seorang sahabat dan saudara, tetapi dia sendiri tidak bisa memaksakan perasaannya pada gadis itu.
"Sekarang habiskan makanmu.., aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kita akan menghabiskan malam ini, dan besok pagi sebelum berangkat ke laboratorium, kamu bisa minum satu cangkir hot coffee untuk menghilangkan rasa kantuk." Marcus kembali menghabiskan nasi di piringnya. Setelah merasa kenyang, laki-laki itu kemudian berdiri dan berjalan ke wastafel. Sambil mencuci tangan, Marcus membersihkan mulut dan melihat ke arah Ivona melalui cermin di depannya. Tampak kesedihan dan harapan di mata gadis itu.
************
__ADS_1
Selepas makan malam, Marcus mengajak Ivona mengunjungi Victoria Peak, sebuah tempat yang merupakan puncak tertinggi di wilayah Pulau Hong Kong, dengan ketinggian hingga 552 meter. Tidak mau diantar Kim menggunakan mobil, kedua orang ini sampai di puncak The Peak dengan naik Hong Kong Peak Tram. Kereta ini salah satu kereta kabel tertua di dunia dan yang pertama di Asia.
"Ayo kita naik ke kereta itu..!" Marcus menggandeng tangan Ivona, keduanya segera masuk ke dalam kereta.
Ivona mengedarkan pandangannya melihat pemandangan di sepanjang jalur peak tram, dan gadis itu merasa tersihir dengan pemandangan yang dia lihat. Setelah melakukan perjalanan dengan peak tram, akhirnya mereka sampai di lanskap Hong Kong dari Sky Terrace 428. Sebuah menara pandang 360 derajat tertinggi di Hong Kong, dan berada di ketinggian 428 mdpl. Kembali mata Ivona mengerjap dan dibuat takjub dengan gemerlapnya lampu kota yang memesona, dan merupakan sebuah keindahan yang sungguh luar biasa.
"Betul-betul spektakuler Marc.., pemandangan ini sangat menghiburku." seru Ivona sambil mengambil foto-foto pemandangan malam yang sangat indah itu. Lampu-lampu sorot warna warni terlihat sangat indah dilihat dari puncak itu.
"Syukurlah..., jadi hemat aku. Hanya melihat lampu saja, ternyata kesedihan sudah luruh dari matamu." ucap Marcus menggoda Ivona.
"Hush.., dilarang membicarakan suasana hati saat kita sedang bersenang-senang Marc.." Ivona menanggapi perkataan Marcus. Gadis itu melanjutkan kegiatan dengan memfoto tempat-tempat yang menarik menggunakan camera ponselnya. Marcus mengambil gambar gadis itu, tanpa diketahui oleh Ivona.
"Nana ..., aku tinggal sebentar ya!' tanpa menunggu jawaban dari gadis itu, Marcus segera berlari menghampiri pedagang.
"Izin..., buatkan kami dua cangkir minuman panas!" sambil mengulurkan uang dalam dollar Hong Kong, Marcus meminta pedagang untuk membuatkan dua minuman panas.
"Do you use wine or not?" pedagang menanyakan apakah minuman yang akan dibuat, ada komposisi kandungan anggur.
Marcus menggelengkan kepala. Tidak lama, dua paper cup berisi teh panas diberikan pedagang pada Marcus. Sambil membawa minuman itu, Marcus kembali berjalan untuk mendatangi Ivona.
__ADS_1
"Nana..., istirahat dulu!" Marcus mengajak duduk di tempat yang kosong. Laki-laki itu menyerahkan paper cup pada gadis itu.
Rasa hangat menjalar ke telapak tangan Ivona, tatkala tangan menggenggamnya paper cup tersebut. Dengan pelan, Ivona mulai menyeruput minumannya dari cangkirnya langsung.
"Aku menyukai tempat ini Marcus..., aku berharap lain waktu akan bisa kembali berkunjung kesini." Ivona kembali memuji keindahan tempat itu. Marcus tersenyum mendengar perkataan itu.
"Siap.. Nana.. aku juga berharap untuk membawamu kembali ke tempat ini. Tetapi dalam keadaan yang lain, hanya khusus untuk berekreasi bukan untuk urusan yang lain." ucap Marcus. Perlahan Marcus menyentuh kepala gadis itu, kemudian perlahan menyandarkan di bahunya. Orang yang tidak tahu, akan mengira jika mereka adalah pasangan kekasih.
"Na..., apakah kamu tidak ingin mengundur waktumu untuk masuk ke laboratorium utama?" tiba-tiba Marcus mengajukan pertanyaan yang tidak terduga.
"Maksudmu?" tanya Ivona sambil mengangkat kembali kepalanya dari pundak Marcus.
Tidak mau gadis itu salah sangka dengan pertanyaannya, Marcus berusaha untuk menjelaskan.
"Maksudku.. kamu undur masuk ke laboratorium utama. Kita akan menghabiskan waktu terlebih dulu untuk mengeksplorasi negara ini." ucap Marcus sambil tersenyum.
"Maaf Marcus.. aku tidak bisa." Ivona langsung menanggapi pertanyaan dari sahabatnya itu.
********
__ADS_1