Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 41 Aku akan Menjadi Orang yang Kuat


__ADS_3

Ivona menghampiri Beni yang terduduk lemah di headboard, kemudian mengambil kursi dan menggesernya di depan ranjang. Gadis itu merasa prihatin melihat keadaan pria gemuk itu saat ini. Nafasnya naik turun dan tidak beraturan, dengan keringat dingin yang terus mengalir.


"Ibu..., saya ijin mengambil air mineral di atas meja ya?" Ivona bertanya pada Bu Guru jaga. Guru jaga itu sedang mengisi form isian pengunjung UKS yang berisi nama murid, kelas, gejala yang dirasakan, serta tindakan sementara untuk pertolongan pertama. Beliau menghentikan sejenak aktivitasnya, kemudian menengok ke Ivona dan Beni.


"Ya silakan, ambil saja! Maaf tadi Bu Guru lupa menawarkan pada kalian." setelah mendapatkan ijin dari Bu Guru Jaga, Ivona mengambil satu gelas air mineral kemudian setelah memasang straw, dia memberikannya pada Beni.


"Minumlah dulu Ben...! Biar sedikit lega dadamu."


Pria gemuk itu menggelengkan kepala, malah menggeser badannya sedikit menjauhi gadis itu,


"Kamu kenapa Ben? Jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja." Ivona mengerenyitkan dahi, kemudian bertanya pada Beni.


"Iv..., menjauhlah dariku! Aku bukan orang yang layak dan pantas untuk kamu dekati saat ini. Pergilah... please, aku mohon Ivona!" Beni yang merasa dirinya saat ini sedang sangat drop dan lemah, mencoba meminta Ivona pergi.


"Aku telponkan dokter atau aku antar kamu ke rumah sakit saja ya? Kamu butuh pertolongan lebih Ben, di UKS ini tidak ada peralatan untuk menolongmu saat ini, juga tidak ada tenaga ahli yang bisa mengatasi penyakitmu  saat ini." Ivona mengabaikan permintaan Beni, dia tetap keukeuh bertahan duduk di samping ranjang, sambil tersenyum dia berbicara lembut pada pria gemuk itu.


"Tidak perlu Ivona...., aku hanya butuh istirahat saat ini."


"Baiklah..., aku akan membiarkanmu sendiri dulu untuk istirahat. Jangan lakukan hal konyol yang dapat memperparah kondisimu saat ini!"


Beni hanya menganggukkan kepala, dan memberanikan diri menatap wajah Ivona, yang dengan sabar  dan sedikitpun tidak merasakan ngeri, jijik, atau takut kepadanya. Hati Beni menjadi tersentuh dengan ketulusan dan perlakuan yang ditunjukkan Ivona.


"Beni..., sebelum aku tinggalkan kamu sendiri disini dengan Bu Guru Jaga, aku mau bertanya padamu. Kamu membutuhkan perlindungan atau tidak? Katakan padaku! Jika iya, aku akan mengaturnya untukmu."


"Terima kasih Ivona akan niat baikmu. Kamu jangan khawatirkan aku,  aku akan menjadi orang yang kuat dan bisa melindungi serta menjagamu Ivona. Percayalah padaku!" dengan suara lirih Beni mengatakan hal tersebut, meskipun akhirnya menundukkan kepalanya, dia menjadi semakin tidak percaya diri.


"Aku pasti akan mempercayaimu teman. Aku kembali ke kelas dulu ya?" Ivona segera berdiri dan kembali menggeser kursi ke tempat semula, kemudian berjalan meninggalkan pria gemuk itu. Beni hanya memandang punggung gadis itu dengan perasaan terharu.


"Bu Guru..., saya kembali ke kelas dulu ya? Titip Beni untuk beristirahat dulu disini sementara!"

__ADS_1


"Baik.., Bu Guru akan menemani Beni disini."


 


 


**********


 


Ivona kembali ke dalam kelasnya, dan dia berjalan santai seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Dengan percaya diri, tanpa melihat ke kanan kiri dia memasuki kelas G. Di kelas ternyata semua murid sedang berkumpul, tetapi dia tidak melihat ada Kelly dan teman gadis yang tadi ikut melakukan perbuatan bullying pada Beni.


"Murid baru..., siapa namamu.. Ivona kan?" Ketua kelas G bertanya padanya.


"Ya.., ada apa?" dengan malas Ivona berhenti sejenak kemudian menjawab pertanyaan ketua kelas.


"Kamu ada nomor kontak WhatsApp kan? Berikan padaku, aku akan masukkan kamu ke dalam grup kelas. Agar semua informasi, pengumuman, atau tugas-tugas bisa kamu dapatkan disitu." Ketua Kelas itu meminta nomor kontak Ivona.


"Ini nomor ponselku." setelah menulis nomor kontaknya, dia memberikan kertas tersebut pada Ketua kelas.


"Drttt.." Ivona melirik ke ponsel yang dalam mode getaran dan masih berada di tangannya, ternyata chat pemberitahuan masuk ke Grup kelas sudah masuk notifikasinya.


Setelah satu notifikasi pemberitahuan sudah masuk ke grup, diikuti banyak chat yang masuk. Tetapi gadis itu malas untuk mengetahui dan memperhatikan isi grup whattsapp tersebut. Dia kemudian mematikan notifikasi pemberitahuan untuk selamanya.


"Kenapa aku tidak memasukkan nomor kak Alex saja? Dia sudah terlalu sering membantuku, aku yakin dia tidak akan keberatan jika aku tambahkan!" sambil tersenyum sendiri, Ivona menambahkan kontak Alexander.


 


************

__ADS_1


Siang hari


Ivona mendengarkan penjelasan dari Guru pada mata pelajaran selanjutnya dengan malas, dia malah meletakkan dagunya di atas meja. William hanya melihati saja, tetapi tidak mengingatkan gadis itu. Bahkan dia malah ikut-ikutan menyandarkan kepalanya, dan seperti biasanya dia akan tertidur.


"Tok.., tok.., tok..." tiba-tiba pintu kelas diketok dari luar.


"Ya.., masuk ada apa?" Guru bertanya pada guru piket.


"Ada murid yang bernama Ivona saat ini? Dia dipanggil ke ruang Kepala Sekolah sekarang." kata Guru Piket, yang langsung disambut dengan suara gaduh di kelas itu.


"Ada apa lagi, kok bisa-bisanya Ivona dipanggil kepala sekolah?" beberapa murid langsung berbisik-bisik membicarakan gadis itu.


"Tenang semuanya! Ivona.., kamu ikuti Guru Piket sekarang! Kamu dipanggil ke ruang Kepala Sekolah!" dengan tegas Guru meminta Ivona mengikuti guru piket.


Ivona langsung berdiri dengan malas, kemudian dia tanpa bicara apapun langsung keluar kelas mengikuti Guru piket. Tidak lama kemudian, dia sudah masuk ke ruang kepala sekolah. Dia melihat di ruang itu ada tiga orang yang sedang duduk di sofa ruang tamu Kepala Sekolah.


"Duduk Ivona!" perintah Kepala Sekolah dengan tidak ada ramah-ramahnya.


Gadis itu kemudian duduk di sofa bergabung dengan mereka.


"Ivona... yang hadir disini adalah Direktur Hendra Jonathan, dan dia adalah ayah dari Yoshua Jonathan yang saat ini sedang berada di RS."


Ivona tanpa rasa takut memandang ke wajah Direktur sambil tersenyum, dan menjadikan Direktur Jonathan menjadi tidak senang.


"Langsung saja aku akan bertanya. Apakah kamu memukul putraku Yoshua Jonathan?" dengan tidak sabar ayah Yoshua langsung bertanya pada Ivona dengan suara keras.


Ivona dengan mantap menganggukkan kepala, yang membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut. Mereka bingung, kenapa dengan mudah gadis itu mengakui dan tidak berusaha menyampaikan pembelaan dirinya. Padahal orang tua Yoshua adalah orang yang memiliki kekuasaan, dan dengan sifat arogannya dapat dengan mudah mengeluarkan dia dari sekolah.


"Berani sekali kamu melukai putraku. Sekarang aku tawarkan dua pilihan padamu! Kamu dikeluarkan dari sekolah ini, atau kamu lakukan persis dengan apa yang kamu lakukan pada Yoshua. Kamu harus berlutut di atas pecahan kaca. Silakan kamu pilih!" dengan nada tinggi dan muka merah, Jonathan meminta Ivona untuk mengambil pilihan.

__ADS_1


 


*******************


__ADS_2