
Pagi hari saat sarapan, Ivona meminta Richard untuk mengantarkannya pulang. Sudah tidak ada alasan untuk menahannya lagi disini, karena langit pagi terlihat cerah. Setelah mandi pagi, Ivona sudah berjalan-jalan melihat keadaan di sekitar villa. Tidak ada satupun rumah lain di sekitar tempat ini, hanya villa ini yang satu-satunya berdiri megah disitu. Bahkan Ivona bertekad, jika Richard tidak mau mengantarkannya pulang, gadis itu sudah memiliki niat untuk turun berjalan kaki dari atas bukit. Baru agak di bawah, akan mencari ojek online untuk mengantarkannya sampai ke rusun Cempaka.
"Kak.., bisa antar Ivona pulang ya setelah makan pagi!" dengan tatapan puppy eyes, Ivona memandang Richard. Tuan Frans menghentikan aktivitasnya sejenak, laki-laki tua itu menatap Ivona. Dia merasa belum hilang rasa penasarannya untuk lebih mengenal gadis muda itu, dan menanyakan dimana Carminda sebenarnya berada. Tetapi saat ini, Ivona sudah berbicara tentang rencananya untuk pulang.
"Iya.., kakak juga akan berangkat ke perusahaan, nanti sekalian aku antar. Makanlah dulu!" dengan suara pelan, Richard menanggapi perkataan Ivona. Gadis muda itu merasa senang mendengar tanggapan dari Richard, dia segera melanjutkan makan paginya.
"Apakah kamu keberatan.., jika sedikit saja meluangkan waktu untuk menemani laki-laki tua ini Nana..?" tanpa diduga, Frans bertanya yang terdengar mengagetkan Ivona dan Richard. Bahkan putra tunggal laki-laki tua itu, menghentikan aktivitas mengunyah makanan, dia melirik ke arah papanya. Tidak biasanya Frans menahan seorang gadis muda, bahkan seringkali laki-laki tua itu melarangnya membawa pulang seorang gadis ke rumah, jika Richard belum siap untuk memberinya komitmen.
"Maaf Tuan Frans..., Ivona juga memiliki banyak aktivitas yang tidak bisa ditinggalkan. Lain waktu, jika Ivona senggang, kapan-kapan Ivona janji Tuan.., Ivona pasti akan mengunjungi Tuan Frans disini." dengan tutur bahasa halus, Ivona menjawab pertanyaan Frans. Gadis muda itu sangat berhati-hati menjaga perasaan orang yang lebih tua darinya.
"Kenapa baru tadi malam aku berpesan untuk merubah panggilanmu padaku, pagi ini kamu sudah melupakannya. Apakah tidak pantas jika laki-laki tua ini kamu beri sebutan papa?" merasa keberatan dengan panggilan yang dilakukan Ivona, Frans mengingatkan gadis muda itu. Ivona tersenyum malu, dia kemudian menatap laki-laki tua itu.
"Baik pa.., Ivona belum terbiasa untuk memberi panggilan itu. Baru kali ini, dari bibir ini keluar kata papa." ucap gadis muda itu sambil tersenyum. Richard yang duduk di samping Ivona, memandang gadis muda itu kemudian menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Mulai saat ini Ivona.., aku sudah menganggapmu sebagai bagian dari rumah ini. Anggap Richard sebagai kakakmu, atau jika kalian berdua mau.., aku bisa menjadikan hubungan lain dalam hidup kalian. Tapi.., beri laki-laki tua ini waktu untuk dapat menyelidiki semuanya." ucap Frans lirih, kemudian laki-laki tua itu melanjutkan makan paginya.
Setelah beberapa saat mereka di meja makan, akhirnya mereka sudah menyelesaikan makan paginya. Seperti yang sudah dia katakan pada Ivona.., Richard segera bersiap untuk mengantarkan Ivona kembali ke rusunnya. Padahal Frans sudah berpesan padanya tadi malam, untuk merayu Ivona agar mau tinggal disini menemani papanya. Frans berencana untuk mengundang dokter dan melakukan tes DNA dengan gadis muda itu, kata hati laki-laki tua itu berbisik jika Ivona adalah putrinya dengan Carminda. Tetapi untuk menjaga hubungan baik dengan gadis muda itu, dengan tegas Richard menolak keinginan Frans tersebut.
*********
Dalam perjalanan pulang..
Mata Ivona menatap pepohonan yang terlihat hijau di kanan kiri jalan yang mereka lewati. Daun-daun yang masih basah menambah kesegaran pemandangan di bukit itu. Meskipun pagi hari, jalanan itu masih sangat sepi, tidak ada orang yang melewati jalan tersebut. Tetapi Ivona memakluminya, karena memang hanya satu villa yang ada di bukit ini. Sehingga mobil atau motor yang lewat pasti akan terkait dengan Tuan Frans atau Richard.
"Jangan khawatir kakak.., aku merasa sedikit senang. Dalam hidupku selama ini, aku belum pernah memanggil seorang laki-laki dengan sebutan papa. Ternyata Tuan Frans.., melengkapi keinginan terbesarku. Saat ini, aku memiliki seorang papa juga." ucap Ivona yang terharu dengan perlakuan yang diberikan Tuan Frans. Dia sebenarnya juga merasa heran, karena tiba-tiba Tuan Frans menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Bahkan laki-laki tua itu sedikitpun tidak menanyakan pad Richard terlebih dahulu.
"Tetapi tenanglah kak.., meskipun tadi Tuan Frans menyampaikan padaku, jika beliau mengangkatku menjadi seorang anak, aku tidak akan meminta sedikitpun asset dari keluargamu. Mendapatkan ijin untuk memanggil papa, hal itu merupakan kebahagiaan yang tidak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata." sambil tersenyum kecut, Ivona melanjutkan kalimatnya. Gadis muda itu khawatir, jika Richard berpikiran terlalu jauh.
__ADS_1
"Ha.., ha..., ha..." Ivona terkejut mendengar Richard menanggapi kalimatnya dengan tertawa terbahak-bahak. Gadis itu mengerenyitkan dahinya.
"Kenapa kakak malah mentertawakan aku?? Apakah kakak tidak suka atau tidak berkenan, jika aku memanggil Tuan Frans dengan sebutan papa juga." dengan polos, Ivona menanyakan sikap Richard yang mentertawakannya.
Tangan Frans tiba-tiba sudah diangkat dan mengacak-acak rambut Ivona, kemudian mengusapnya lagi perlahan.
"Ha.. ha.., ha.., kamu lucu Nana. Apakah kamu pikir, misalkan villa diatas tadi diberikan papa padamu, itu akan mengurangi asset dan kekayaan papa?? Jangan naif Nana adikku..., asset dan uang papa tidak akan habis jika kita gunakanĀ sampai tujuh turunan." masih dengan tertawa, Richard menjawab pertanyaan gadis muda itu.
Ivona menoleh dan tersenyum kecut. Gadis itu tidak menyangka, jika dengan mudahnya laki-laki muda itu menyetujui keinginan papanya. Bahkan sama sekali tersirat jika Richard tidak memiliki rasa kekhawatiran jika harus berbagi kekayaan dengannya.
"Nana.., ikut kakak sebentar ya ke perusahaan. Tadi sekretarisku menelpon ada berkas penting yang harus segera aku tanda tangani. Aku harap kamu tidak keberatan Nana.." dengan tatapan penuh harap, Richard meminta Ivona menemaninya ke perusahaan.
"Halah.., memang kakak ga malu ajak Ivona??" terkejut dengan ajakan Richard, Ivona bertanya. Gadis itu berharap, semoga Richard tidak serius dengan apa yang sudah dia ucapkan. Richard terdiam, tanpa bicara laki-laki muda itu terus mengemudi mobil.
__ADS_1
**************